Imperfect Christmas: Antara Panitia, Parkir dan Perayaan

Best Regards, Live Through This, 05 January 2020
Akhirnya saya dengan masgyul harus mengamini bahwa semua hal indah yang direncanakan, pasti akan kocar-kacir pada waktunya.

In collaboration with Ari Setiawan


Baru selesai dinas sebagai Panitia Natal beberapa waktu lalu, merasa kehilangan makna diri atau kelelahan akut tanpa sempat ‘merayakan’ Natal samsek (sama sekali)… you’re not alone bro. 



Buat kalian yang kecewa karena Malam Kudus kalian tidak sunyi senyap melainkan diisi dengan gas-gasan sama rekan pelayanan, keringat dingin naik-turun tangga di ruang ber-AC, atau berakhir dengan dikomplain jemaat maha benar, barangkali kalian belum akrab sama prinsip dasar menjadi Panitia Natal: 


“Tidak ada Natal untuk Panitia Natal” 


Ya, persembahan kalian yang terbesar dalam kegiatan ini bukannya sejumlah uang dalam amplop atau tindakan charity lainnya, melainkan keikhlasan kalian ‘kehilangan’ Natal secara pribadi tahun ini (Ada beberapa GKI yang saya tahu mengadakan Natal khusus aktivis, namun dari pengalaman sekilas, Natal aktivis pun biasanya dikerjakan oleh… ’lu lagi lu lagi’). Belum lagi adanya arahan entah dari mana yang melarang komisi mengadakan Natal sendiri sebelum Adven selesai, dengan cita-cita mulia agar jemaat khusyuk menghayati masa penantian, bukan malah tawuran di Miniso untuk beli hadiah acara tukar kado yang kesekian kalinya. 



Saya sendiri kebetulan baru menjalani dinas di kepanitiaan Natal gereja, GKI Kelapa Cengkir; sebuah gereja mungil nan homey di tengah perumahan Kelapa Gading yang kalau diibaratkan pakaian, bisa dibilang ukuran M lah (400an jemaat ‘saja’). Sebenarnya di masa-masa ketika penatua pendamping berenang-renang sekeliling gereja bagaikan hiu mencari mangsa (alias mencari calon Panitia Natal), saya sudah berupaya menghindar kanan-kiri, bermanuver sedemikian rupa tapi akhirnya tertangkap juga. 


“Ayo lah, nggak ada orang nih pada pergi liburan.”

“Ada yang lain kok, di bagian ini, kita kerja sama-sama…”

“Nggak apa-apa, nanti di-backup Sie. Ibadah kok…”



Akhirnya saya mendapati diri saya menduduki kursi panas sebagai koordinator acara Natal. Daaan... betul saja seperti dugaan awal, tidak ada Natal untuk saya tahun ini. Saya berusaha merancang acara sesederhana mungkin agar setidaknya di hari H masih bisa napas tenang sejenak, ternyata acara Natal yang ‘sederhana’ itu hanya mitos karena di balik dekor sederhana, litani sederhana, multimedia sederhana, sound system sederhana, musik sederhana, dan hal-hal sederhana lainnya, ya tetap harus ada persiapan. 



Bekerja bersama jumlah panitia yang tidak banyak dan sama-sama baru belajar mengelola acara Natal, akhirnya saya dengan masgyul harus mengamini bahwa semua hal indah yang direncanakan, pasti akan kocar-kacir pada waktunya. Ada saja yang lolos atau ‘salah’ dari segala hal yang sudah berusaha kami amankan. 



Ribet amat ya ngurusin “perayaan” menyambut Sang Raja, sangat sibuk dan serba salah. Mungkin yang sudah ngurusin Natal, sebagian merasa kapok dan mau “parkir” aja di tahun berikutnya; jadi jemaat aja cukup lah, ga usah sering-sering panitia.

Tapi rasanya Natal yang ga sempurna tersebut juga ga dirasakan oleh panitia Natal saat ini saja, bahkan “panitia” Natal 2000-an tahun yang lalu juga ribet. Panitia inti tersebut hanya terdiri dari dua orang, yaitu Yusuf dan Maria; yang harus menyambut Sang Raja yang menjadi anak secara daging manusiawi mereka. Mereka pun juga awalnya mendapatkan banyak ketidaksempurnaan dalam situasi tersebut. Maria, yang kita yakini kala itu masih perawan, ternyata hamidun dalam kondisi bertunangan dengan Yusuf; tentu para lelaki pun merasa kalut perasaannya mendengar wanita yang disukai sudah berbadan dua, apalagi sang wanita itu sendiri yang tidak berbuat apa-apa. Beruntung Allah mengirimkan pesan melalui malaikat-Nya agar dia tidak takut. Keribetan tersebut ditambah lagi dengan situasi mereka harus melakukan perjalanan jarak jauh demi sensus. Sesampainya di Kota Betlehem pun mereka tak mendapatkan tempat menginap yang nyaman, hanya di kandang. Selang sekian waktu pun mereka harus menjadi pelarian menuju Mesir demi menghindari situasi pembunuhan bayi secara massal. At some point, ribet juga jadi “panitia” yang merayakan kehadiran-Nya di dunia.


***

Kalau boleh di-review, Natal saya tahun ini terasa seperti ‘pekerjaan’ yang harus dibereskan saja.

Entah sudah berapa teman yang budeg gegara saya sambatin tiada henti dengan dongeng-dongeng seputar betapa malangnya nasib saya, sampai pada satu momen saya terbungkam.

Ada dua orang yang membantu saya dalam penyelenggaraan Natal tahun ini, TPG pendamping komisi remaja-pemuda dan penatua pendamping remaja; keduanya membantu saya mencarikan ‘talent’ untuk tampil di ibadah tanggal 24 dan 25, dan berkoordinasi ke sana-sini untuk kelengkapan acara (padahal keduanya tidak tercantum secara resmi di panitia). Beberapa hari menjelang Natal, sobat penatua ini jatuh sakit dan diopname, bahkan harus melewatkan malam Natalnya di rumah sakit. Hal serupa menimpa TPG saya, yang pulang ke keluarganya di Sumatera Utara, namun tidak bisa merayakan Natal seperti biasa karena harus menunggui kakaknya di rumah sakit.

Situasi yang menimpa mereka membuat saya bertanya-tanya, kalau demikian Natal itu seharusnya seperti apa ya? Ingatan saya melayang kembali pada Natal beberapa tahun lalu, dimana saya bukanlah panitia, tapi dimintai tolong untuk jadi usher di ruang bawah, yang dipakai sebagai cadangan untuk kebaktian jika ruang utama penuh. 


Nah, tahu kan, betapa menyebalkannya Natalan di ruang tambahan macam ini?


Jam sudah tepat menunjukkan waktu kebaktian dimulai - ruangan masih kosong karena para jemaat dan simpatisan masih tertampung di ruangan utama. Saya lirik-lirikan dengan petugas sound yang juga diposting di bawah. Bau-baunya bebas tugas nih. Lonceng pun berdentang. “Yes, ayo kita naik!” Saya bergegas dengan semangat '45 menuju ruang kebaktian utama, sambil membayangkan bertemu sama gebetan di atas. 


Tepat di detik itu juga, seorang oma berkursi roda diantar perawatnya ke ruangan kami. 


Hari itu saya pun ber-Malam Natal bersama oma tersebut. Selain kami, hanya ada 1-2 jemaat lain (mereka yang kebetulan ada tugas di bagian luar, seperti di sie keamanan dan konsumsi). Oma itu tampaknya agak demensia, kerap kali ucapannya tidak jelas. Kami mendudukkannya di barisan paling depan, agar ia dapat jelas melihat layar. Kadang ia tampak gelisah, namun akhirnya ia dapat tenang mengikuti ibadah, dan tampak sumringah ketika penyalaan lilin, hingga ketika kami bersalam-salaman di akhir ibadah. 

Ada sekelumit rasa kecewa yang tidak berani saya besar-besarkan. Apalagi beberapa bulan kemudian saya mendapat kabar, sang oma dipanggil Tuhan. Natalnya bersama saya di ruang tambahan, adalah Natal terakhirnya. 

***

Kita mungkin ada di momen ga tahu Tuhan punya rencana apa dari ketidaksempurnaan Natal. Namun dalam Yakobus 1:17 tertulis:

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Kebahagiaan dari Natal nampaknya bukan hanya sekadar dibatasi oleh situasi harus mewah ataupun sederhana; bukan juga didapatkan karena pemberian kita dalam event Natal gereja maupun kerja keras sebagai panitia hingga dini hari, melainkan dari menerima Yesus yang telah hadir nyata bagi kita. Yap, Dia adalah Imanuel, Allah yang beserta kita; maka sadarkah kita bahwa Ia juga menyertai kita dalam situasi yang tak 'sempurna'? Setidaknya kita perlu bersuka hati bahwa Ia menjadi manusia, ikut menderita serta membagikan damai lewat anugerah dan mukjizat-Nya.


Ketika kita telah menerima kehadiranNya dengan sungguh, bukan berarti kondisi kita langsung berbalik menjadi sempurna, sangat mungkin derita tetap hadir. Namun pemahaman kita pun ikut bertransformasi bahwa sukacita yang telah kita terima dari Yesus perlu kita bagikan kepada orang lain yang juga berada dalam situasi menderita, dengan hadir bagi mereka secara langsung.


Kondisi tak sempurna, di mana saya merasakan ribetnya menjadi panitia Natal, maupun kondisi tak sempurna  teman-teman saya dan banyak orang lain dalam merayakan Natal, mungkin membuat kita “insekyur” dalam menjalani hidup. Di momen inilah kita perlu kembali memaknai kesempurnaan Natal untuk menerima Dia yang hadir bagi kita, sehingga kita “bersyukur” dan membuat orang lain bersyukur melihat kehadiran Allah dalam diri kita.




LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER