Season of Waiting

Best Regards, Live Through This, 04 November 2019
Kita sedang tidak tertinggal dibelakang, bukan juga sedang kalah dalam sebuah pacuan kehidupan. Setiap kita punya blue print-nya masing – masing dalam lemari kerjaNya Tuhan.

Pernah mendengar atau membaca ungkapan pada gambar ini?

Sebuah ungkapan yang melegakan bagi orang-orang yang memang sedang dalam masa penantian.

Penantian akan berakhirnya masa kuliah, penantian akan pekerjaan yang lebih baik, Penantian akan buah hati, atau yang paling sering kita dengar adalah penantian akan pasangan hidup.. Cieee…

Aku yakin setiap kita yang mengaku sabar pun, sebenarnya tidak benar-benar menyukai kegiatan menunggu ini, kalau ada pilihan untuk tidak menunggu pasti setiap kita akan memilih jalur itu. Terlihat jelas waktu kita mengantre saat ingin membayar belanjaan di kasir supermarket, kita akan melihat mana antrean yang paling sedikit, agar waktu menunggu kita tidak perlu terlalu lama. Rasanya dalam hal ini tidak mungkin ada yang akan mengambil antrean yang paling panjang dengan alasan, “Abraham saja menunggu 25 tahun, maka aku juga akan menunggu."

Karena sesungguhnya menunggu adalah kegiatan yang sangat membosankan, jangankan membicarakan mengenai menunggu kehidupan, menunggu lampu merah saja, kalau lampu merahnya berada di jarak yang berdekatan rasanya jengkel sekali, “Baru jalan, sudah berhenti lagi, kapan sampainya?”

Keluhan yang selalu saja sama.

“Kalau revisi terus, kapan lulusnya?”

“Kalau engga ketemu-ketemu yang cocok, kapan nikahnya?”,

“Kalau gajinya kecil, kapan kayanya?”,

 “Kalau begini terus, Kapan bahagianya?”

Keluhan-keluhan dari kita, yang membuat masa menunggu menjadi semakin melelahkan, menyedihkan dan menyakitkan. Rasanya waktu berjalan menjadi sangat lamban, kita serasa terjebak dalam situasi yang membuat frustasi, kita berusaha membuat segalanya menjadi lebih baik, tapi belum ada yang berhasil sampai sekarang, ditambah saat teman-teman di usia kita sudah mulai banyak yang menikah, mulai banyak yang punya anak, pekerjaan mereka baik, lalu kita akhirnya melihat diri kita menjadi semakin kecil dan tidak berarti.

“Kok aku gini-gini aja ya?” Terdengar suara hati yang menyesakkan.

Waktu seakan terus berjalan untuk orang lain, tapi tidak dengan kita. Kita rasanya seperti dipaksa jalan di tempat, tidak ada kemajuan signifikan dalam hidup, rasanya walaupun ditawarkan kehormatan bisa memiliki suatu kesamaan bersama Abraham, Yusuf, Yakub, Musa dan Nuh menanti tidak akan pernah menjadi hal yang mudah untuk dijalani.

Ya, aku pun merasakannya.

Aku melakukan banyak hal karena ingin terlihat punya kemajuan dalam hidup, mencoba beberapa kali melamar pekerjaan yang lebih baik tapi belum juga ada yang berhasil, mencoba beberapa kali menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi belum juga ada yang berhasil, dan setelah beberapakali mencoba aku berakhir pada satu kesimpulan, sepertinya aku memang harus menunggu. 

Ya.. Harus Menunggu..

Terkadang menunggu bukan menjadi sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan. Itulah yang sebenarnya terjadi dengan Abraham dan yang lainnya. Mereka dipaksa menunggu oleh Tuhan, tidak ada jalan lain, pilihanya hanya menunggu. Karena sebenarnya Tuhan sudah sediakan semuanya hanya saja waktunya yang belum tiba.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir,” (Pengkhotbah 3:11)

Ayat yang sangat familiar bagi kita sebenarnya, tapi ayat ini adalah sebuah kebenaran dan sebuah kepastian untuk menjadi alasan kenapa kita harus yakin dan tetap menunggu dalam pengharapan. Karena hanya damai sejahtera yang Tuhan rencanakan. Hanya hari depan yang penuh harapan yang Dia janjikan.

Tenang, teman...

Kita tidak sedang tertinggal di belakang, bukan juga sedang kalah dalam sebuah pacuan kehidupan. Setiap kita punya blue print-nya masing-masing dalam lemari kerjaNya Tuhan. Kita tidak perlu berlomba dengan siapa pun, semua punya suka dan deritanya sendiri-sendiri, Pengkhotbah menuliskan, 

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;”
(Pengkotbah 3:1 dan 4)

Menyadari bahwa kita sedang dalam ruang tunggunya Tuhan, setidaknya mencegah kita dari tawar hati. Mungkin kita gagal saat ini, tapi kita tidak akan gagal selamanya. Mungkin saat ini kita belum mendapatkan apa yang menjadi keinginan hati kita, tapi Tuhan sudah punya rancangan sendiri untuk hidup kita. Setidaknya percayalah sifat Tuhan yang satu ini. “Dia tidak pernah ingkar janji."

Dalam salah satu kotbahnya pastor Joel Osteen mengatakan, 

“But God uses the delays and the setbacks, to develop us, to get us prepared, Nothing is wasted. If you keep the right attitude, you keep honoring God. All things will work for your good.”

Sebuah peneguhan kembali untuk setiap kita yang sekarang sedang dalam masa penantian, mungkin rasanya sudah mulai malas untuk berharap, karena kita sudah menunggu untuk waktu yang sangat lama dan belum juga terjadi apa - apa. Tetaplah berharap dan jangan ragukan Tuhan. 

Semua kekecewaan kita saat ini, Tuhan tahu, dan tidak ada yang luput dari rancangan besar-Nya, kalau itu tidak membawa kebaikan untuk diri kita, Tuhan tidak akan membiarkannya terjadi di hidup kita.

Maka bagi setiap kita yang saat ini sedang dalam Season of Waiting. Mari maknai masa ini sebagai cara Tuhan membuat kita layak, untuk menerima yang terbaik yang selama ini sudah Dia persiapkan.

Listen, you might be in a hurry. But God isn’t. (David Qaoud)


LATEST POST

 

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Di berbagai media online, kita bisa menemukan pembahasan tentang mencari jodoh atau bahasa kerennya...
by Yukiko Suhendra | 19 Sep 2021

"Wah, ganteng banget!”“Lagunya bagus banget!”"Dia narinya keren, energik...
by Chelsia Devina | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER