Shinzou wo Sasageyo! Attack on Titan dan Makna Pengorbanan demi Kebebasan

Best Regards, Live Through This, 07 April 2023
“Pada akhirnya kita semua akan mati. Apakah dengan itu hidup menjadi tidak bermakna? Apakah kalian berani mengatakan itu pada mereka yang telah gugur? Apakah hidup mereka sama sekali tidak bermakna? Sekali-kali tidak! Kitalah yang memberikan makna bagi kawan-kawan seperjuangan kita! Mereka yang gugur dengan berani, atau dengan menderita, yang mengingat mereka adalah kita yang hidup! Kita mati dan mempercayakan pada yang hidup, yang mencari makna kehidupan melalui kita! Itulah satu-satunya cara melawan dunia yang kejam ini! Pasukanku, bangkitlah! Pasukanku, berteriaklah! Pasukanku, berjuanglah!” - Erwin Smith


© Hajime Isayama, Kodansha/WIT Studio


“SHINZOU WO SASAGEYO!”


Begitulah kalimat yang menjadi ciri khas dari serial yang satu ini. Kalimat yang berarti “Serahkanlah hatimu!” ini merupakan sebuah doktrin dari pasukan Survey Corps, yang menuntut setiap prajurit dari satuan ini untuk menyerahkan seluruh hati dan kehidupannya demi memerangi ancaman Titan di luar sana yang menyerang pulau Paradis. Walaupun kalimat ini disalahgunakan oleh para pemberontak yang menamakan diri Yeagerist (karena mengikuti Eren Yeager yang memberontak untuk membebaskan Paradis dengan caranya sendiri), namun makna dari kalimat ini tetap sama: rela berkorban dengan sepenuh hati demi kebebasan kaum Eldia di Paradis.


Pada bagian pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa fakta yang sering kita lupakan tentang kebebasan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita adalah melalui pengorbanan-Nya untuk dapat memberikan hal itu kepada umat manusia, dan maukah kita berkorban bersama-Nya? Sebelum kita membahas hal tersebut lebih jauh lagi, mari kita lihat bagaimana pengorbanan Survey Corps selama kiprahnya dari Attack on Titan: Before The Fall hingga akhir cerita untuk membebaskan kaum Eldia di Paradis dari ancaman Titan.

© Hajime Isayama, Kodansha/Studio MAPPA


Sejak awal kiprahnya, Survey Corps (secara harfiah artinya Pasukan Pengintai) merupakan satuan tertinggi dalam militer Paradis, kedua satuan lainnya adalah penjaga dinding dan polisi militer. Mereka yang direkomendasikan untuk masuk ke dalam satuan ini hanyalah prajurit-prajurit terpilih (10 besar dari angkatan kadet) yang tidak memiliki keraguan untuk menjalani misi-misi paling berbahaya, dan di setiap misinya hanya sedikit dari mereka yang dapat kembali pulang kembali ke kediamannya hidup-hidup. Sebelum ODM Gear dan Thunder Spear diciptakan, senjata mereka hanyalah pedang panjang dan crossbow, dan Titan hanya bisa dibunuh dari atas pohon atau bangunan yang lebih tinggi.


Sepanjang cerita, kita terus disuguhi oleh kematian demi kematian dari anggota Pasukan Pengintai, tanpa tahu dari mana asal para Titan dan mengapa mereka menyerang Paradis. Setelah kebenarannya terungkap dari ruang bawah tanah rumah Eren pun, hal itu terus berlanjut. Saat penyerangan ke Marley (bahkan Sasha dibunuh oleh Gabi setelah mereka berhasil menyerang), saat pasukan Marley menyerang balik Paradis, bahkan saat Levi Ackerman harus membunuh kawan-kawan seperjuangannya sendiri yang berubah menjadi Titan karena meminum anggur yang berisi cairan sumsum tulang belakang Zeke Yeager. Belum lagi dengan sebagian Pasukan Pengintai yang memilih mengikuti Yeagerist (dipimpin oleh Floch), di mana akhirnya mereka harus saling membunuh satu sama lain. Apakah hanya Pasukan Pengintai yang berkorban demi Paradis? Tidak juga, sepanjang cerita juga ada banyak dari satuan Penjaga Dinding dan Polisi Militer ketika melawan Titan yang menyerang, walaupun dalam jumlah yang tidak sebesar Pasukan Pengintai. Pengorbanan dan kematian nyawa tak bersalah terus terjadi, hingga puncaknya pada saat sebagian dari pasukan Paradis dan Marley harus bersatu untuk menghentikan Rumbling yang akan menyapu bersih seisi dunia.

© Hajime Isayama, Kodansha/Studio MAPPA

Jika untuk membebaskan suatu kaum dari ancaman saja sudah begitu besar pengorbanannya secara manusiawi, apalagi Dia yang membebaskan manusia dari akibat dosa! Ia yang meninggalkan keilahian-Nya untuk menjadi sama dengan kita, manusia, yang bukan makhluk yang bebas, juga sudah merupakan suatu pengorbanan. Ia tidak lahir dalam rumah penginapan atau istana kerajaan, melainkan dalam kandang domba. Bahkan jika Ia lahir dalam kisruh Israel-Palestina saat ini, Ia mungkin malah lahir di tengah reruntuhan! Ia pun melakukan hal-hal yang sama dengan bangsa Yahudi, disunat pada hari kedelapan sejak kelahiran-Nya, belajar di Bait Allah, hingga berpuasa 40 hari 40 malam seperti Musa saat di Gunung Sinai (dan akhirnya Ia pun lapar seperti manusia). Berkali-kali Ia dicobai bukan hanya oleh Iblis, namun juga orang-orang Farisi dan Saduki. Pada saat Ia akan disalibkan, begitu hebat penderitaan batin-Nya hingga peluh-Nya meneteskan darah, dan Ia pun dikhianati (bahkan dijual) oleh murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot. Derita dan kesakitan yang begitu hebat hingga Ia disalibkan juga dirasakan-Nya dalam tubuh manusia, jika Ia menggunakan keilahian-Nya tentu Ia tidak akan merasa sakit sama sekali. Hingga akhirnya Ia bangkit pada hari ketiga, dan setelah 40 hari Ia naik ke surga, disusul oleh turunnya Roh Kudus 10 hari kemudian.

Ikon tentang kematian Rasul Stefanus sebagai martir gereja mula-mula (Kis. 6:1-7:60) 

Apakah pengorbanan berhenti di sana? Tentu tidak! Mulai dari Kisah Para Rasul hingga hari ini, berapa banyak yang sudah menjadi martir demi membela imannya? Bahkan Tertullianus berkata “Darah para martir adalah benih Gereja”, yang artinya kita tidak mungkin menjadi orang-orang Kristen tanpa pengorbanan mereka! Berapa banyak persekusi yang terjadi untuk menghalangi kita beribadah? Tidak hanya di Indonesia, hal-hal seperti ini masih terjadi di dunia saat ini. Karya keselamatan dan pembebasan umat manusia telah dibuat dengan sempurna, maukah kita berkorban untuk meneruskan karya itu?


Maukah kita ikut berkorban (minimal mengorbankan waktu untuk doa syafaat) untuk hak-hak ibadah saudara seiman kita, dan bukan tutup mata dan menganggap hal itu merupakan urusan hamba Tuhan?


Maukah kita berkorban untuk menghentikan siklus kebencian, dendam, bahkan abuse dari keluarga kita, agar anak kita (untuk yang masih menginginkan anak) nanti terbebas dari sakit yang kita alami?


Maukah kita berkorban untuk membebaskan mereka yang tidak pernah mendapatkan haknya setelah menjalankan kewajibannya?


Maukah kita berkorban untuk mencerdaskan kaum yang terbelakang dan/atau keras kepala menolak realita kemajuan zaman, agar terbebas dari kebodohan?


Bagaimanapun cara anda memaknai kebebasan secara pribadi, dan apapun yang ingin anda bebaskan dalam dunia ini, serahkanlah kepada Tuhan dan percayalah, bahwa Ia juga ikut menderita bersama Anda dalam pengorbanan ini. Salib kita bukan hanya tentang dosa kita secara pribadi, namun juga tentang apa yang ingin kita perjuangkan bersamaNya.

© Hajime Isayama, Kodansha/Studio MAPPA

"Orang yang tidak mau mengorbankan apapun, tidak akan mengubah apapun." - Armin Arlert

Shinzou wo sasageyo! Serahkanlah hatimu padaNya yang ikut menderita bersamamu!

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

TAGS

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER