Hai Sang Rapuh

Best Regards, Fiction, 29 May 2019
Aku rapuh, namun aku dirangkul Dia. Pelukan penuh cinta, dari Dia yang menunjukkan solidaritasnya kepada kita.

Hai Sang Rapuh


Hai Sang Rapuh

Bolehkah aku mengumpat kepada keadaan?

Ketika aku dipaksa menahan diri

Sementara aku ingin merenungi kerapuhanku

Hanya demi utopia

Tentang manusia harus bisa menjadi kuat, kuat dan semakin kuat


Hai Sang Rapuh

Bolehkah aku memaki tiang-tiang pancang kehidupan

Pegangan yang memiliki esensi awal

Untuk menata kehidupan

Kini yang kulihat, kudengar dan kurasakan

Hanyalah simplifikasi untuk kejanggalan-kejanggalan 

Sebagai jawaban singkat atas hidupku yang rentan ini

Iya, Sang Rapuh. Anda tak salah baca

Tiang-tiang pancang itu bukannya meneguhkan

Mereka sangat mungkin dan kini jadi penghancur diriku

Penghancur yang paling manis


Hai Sang Rapuh

Aku tak suka dengan sebuah teori

Pemikiran yang dipuja untuk menyeselaikan kerapuhan

Padahal manusia adalah kertas penuh warna

Manusia adalah kertas indah penuh sobekan

Aku bukan tak terima dengan kehadiran kaki tangan Sang Rapuh

Tapi aku tak sudi dan jijik dipaksa mengikuti semua itu

Aku hanya butuh penguatan

Aku tak butuh dorongan untuk tahan banting

Tidak ada manusia yang tahan banting

Itu hanya fantasi yang terjebak ruang bernama kemustahilan

Manusia tidak tahan banting

Manusia akan jatuh dan bangkit sampai kepulangan abadinya

Beronggok daging, bernafas sibuk, berbicara tentang kekuatan

Mereka mendapat keuntungan

Lalu aku?


Hai Sang Rapuh

Bolehkah manusia yang rapuh muak dengan mereka?

Siapa mereka? Orang-orang yang konon katanya hamba-Mu

Yang sering kali terlihat sombong

Seakan paling tahu kehendak-Mu

Seakan mereka punya orang dalam di surgaMu

Yang keberadaan-Nya tak tahu dimana

Yang kau tutupi selubung misteri.

Aku rapuh, aku ringkih, aku bergejolak.

Lalu mereka mengatakanku dirasuki iblis, jauh dari-Mu

Aku ingin berkata kepada mereka,

“Makan kalian ayat-ayat dan cerita surga dari orang dalam kalian.”

Bahkan dari mereka yang katanya dekat dengan-Mu

Kerapuhanku hanya menjadi pertanda

Seakan kemanusiaanku berkurang ketika aku rapuh 


Hai Sang Rapuh

Aku tak mau menjadi penyemangat semu untuk diriku

Aku tak akan mau menjadi motivator untuk orang lain

Aku hanya ingin menjadi pendengar yang baik

Aku akan bersedia untuk menjadi perangkul yang penuh cinta dan keikhlasan

Kerelaan untuk menambah gejolak diri dengan gejolak orang lain

Untuk bersama-sama bertumbuh

Atau bahkan bertarung

Melawan pemengang tiang pancang 

Yang masih sibuk dengan khayalan penuh kemustahilan

Utopia tentang manusia kuat yang tak manusiawi.


Hai Sang Rapuh 

Apakah aku mengumpat kepada-Mu dengan keadaanku?

Tidak!

Kerapuhanku ini mengajarkanku

Untuk menumbuhkan cinta

Untuk menunjukkan kebaikan

Di tengah utopia tentang kekuatan manusia

Aku rapuh, mereka rapuh

Kami perlahan belajar dan terbentuk

Untuk direngkuh dalam kasih-Mu


Hai Sang Rapuh

Terima kasihku tak akan cukup

Ketika  Raja yang memberi pelukan

Hanya untuk merengkuh kami

Dan kini menjadi sahabat 

Yang kupanggil Sang Rapuh

Terima kasih, Hai Sang Rapuh.

LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER