Yesus Datang Membawa Pedang?

Going Deeper, God's Words, 08 June 2023
Terkadang menjadi orang Kristen tidaklah mudah, tetapi maukah kita setia mengikut Yesus?

”Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. - Matius 10: 34


Ketika membaca ayat di atas, mungkin kita akan bertanya-tanya, “Apa yang dimaksud dengan Tuhan Yesus membawa pedang, bukankah Ia pembawa damai?” Berulang kali kita temui di dalam catatan Injil bahwa Tuhan Yesus memberikan damai sejahtera, bahkan kita bisa nubuat Yesaya mengenai Yesus sebagai Raja Damai yang damai sejahtera-Nya tidak akan berkesudahan (Yesaya 9: 5-6). Lalu, mengapa Matius mencatat bahwa Tuhan Yesus "datang membawa pedang"?


Sebelum menggali ayat ini lebih dalam, sangat penting bagi kita untuk melihatnya dari konteks Matius 10. Matius 10 dimulai dengan kisah Tuhan Yesus yang memanggil kedua belas rasul. Setelah Ia memanggil kedua belas rasul tersebut, Ia pun mengutus mereka. Bila kita membaca seluruh pasal dari Matius 10 ini, maka kita bisa melihat bahwa tema besar yang ada di Matius 10 ini adalah hal-hal dalam mengikut Yesus. Pernyataan bahwa Tuhan Yesus datang bukan untuk membawa damai, melainkan membawa pedang, terdapat setelah Tuhan Yesus memberitahu penganiayaan yang akan datang dan pengakuan akan Yesus. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pernyataan ini juga masih ada di dalam kerangka berpikir “hal-hal dalam mengikut Yesus”.


Kembali ke ayat 34, mungkin rasanya masih mengganjal bila kita membaca bahwa Tuhan Yesus datang untuk membawa pedang dan bukan membawa damai (atau membawa pertentangan di dalam Injil Lukas). Dalam artikel ini kita akan melihat ayat ini secara perlahan-lahan. 


Photo by Ricardo Cruz on Unsplash

Ketika Tuhan Yesus mengatakan, Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi” itu menandakan adanya anggapan terhadap kedatangan Tuhan Yesus adalah membawa damai pada masa itu. Mengingat bahwa Injil Matius ditulis kepada orang Yahudi, maka hal ini semakin masuk akal, sebab gambaran Mesias yang dimiliki oleh orang Yahudi adalah gambaran Mesias yang membawa damai (Yes 9:6; 26:3; 53:5). Belum lagi, dalam perkataan-Nya mengenai ucapan bahagia, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5: 9) semakin menggambarkan Tuhan Yesus sebagai Sang Pembawa Damai. Sungguh masuk akal dan wajar bila saat itu ada gambaran dan asumsi pada Tuhan Yesus adalah damai. Shalom. Eirene.


Namun, ketika Tuhan Yesus mengatakan “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”, situasinya menjadi semakin unik karena seolah-olah Tuhan Yesus memutarbalikkan asumsi dan anggapan bahwa Ia adalah pembawa damai. Pertanyaannya, benarkah demikian? Apakah Tuhan Yesus benar-benar tidak membawa damai? Di bawah ini saya akan memberikan tiga kemungkinan penjelasan dari Matius 10: 34.


Pertama, beberapa penafsir menafsirkan pedang sebagai penghakiman Allah ataupun kehancuran dan kekalahan dari lawan. Bila kita memahami pedang ini dari kacamata Perjanjian Lama, maka sangat mungkin arti pedang di sini adalah Tuhan Yesus membawa pemisahan antara orang percaya dan tidak, dan Ia akan membawa penghakiman kepada orang yang tidak mengenal Allah. 


Kedua, kita juga harus memahami bahwa Tuhan Yesus adalah pembawa damai. Namun, kita juga harus memahami bahwa damai yang dibawa oleh Tuhan Yesus merupakan hasil dari misi penebusan-Nya di dalam dunia. Dalam misi-Nya itu, Ia membawa “pedang” untuk mengalahkan maut dan iblis. Salib itu merupakan “pedang” yang Ia gunakan dalam menaklukkan maut.


Ketiga, bila kita melihat konteks dari Matius 10, maka besar kemungkinan bahwa “pedang” di sini lebih mengindikasikan apa yang akan dialami oleh orang-orang yang memberitakan Tuhan Yesus. Pedang di sini memberikan isyarat bahwa para pengikut dan pemberita mengenai Tuhan Yesus harus siap untuk menghadapi tantangan dan realitas bahwa mereka harus menempatkan segala sesuatu di belakang Tuhan Yesus. Bagian setelah Tuhan Yesus memberikan pernyataan di ayat 34, Ia memberikan syarat dalam mengikut Dia. Penafsiran ini juga lebih masuk akal bila kita melihat paralelnya dengan Injil Lukas.


Photo by Zach Vessels on Unsplash


Bila seseorang pergi untuk memberitakan Injil kepada suku terdalam, besar kemungkinan bahwa Ia akan menerima pedang dalam pelayanannya. Hidupnya mungkin tidak akan mudah, sebab itulah pedang yang Tuhan Yesus bawa untuk para murid-Nya. Namun, perlu diingat bahwa bukan berarti kita tidak akan menerima damai sama sekali. Damai yang akan kita terima merupakan kedamaian yang kekal bersama dengan Allah di surga.


Pedang yang Tuhan Yesus membawa tantangan bagi kita. Pertanyaannya, maukah kita menerima tantangan itu? Tantangan yang sulit dan menuntut banyak dari hidup kita. Namun, ingatlah, bahwa dalam setiap pedang yang Tuhan bawakan untuk kita, Ia memberikan janji-Nya untuk menyertai kita, sebab Ialah Allah kita, Imanuel.

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER