Menyelami Pandemi COVID 19 dengan Pikiran yang Waras. Why Not?

Best Regards, Live Through This, 26 March 2020
"Whereas many see the COVID 19 Virus as a great disaster, I prefer to see it as a Great Corrector..." -Bill Gates

IGNITE People,


Bagaimana kabar kalian semua di 2 minggu setelah #diRumahAja? Semoga dalam keadaan sehat senantiasa ya. Amin.


So,  bagaimana rasanya menjalani hari-hari yang terisolasi dan harus menahan rindu dalam banyak hal? Perih banget ga sih hehehe.. #diRumahAja adalah solusi terbaik untuk kita semua yang masih dalam kategori sehat. Semua dikerjakan dari rumah, bahkan ngantor yang awalnya tak terpikirkan sebenarnya bisa dikerjakan dari rumah, eh kejadian juga ya; jangan-jangan setelah pandemi ini berlalu, banyak perusahaan membuat aturan Work From Home lagi.. Bisa jadi sih. Let see ya, guys.

Photo by Jason Strull on Unsplash 

Sebenarnya aku pribadi juga berjuang banget sih untuk tetap memiliki pola pikir yang WARAS selama mendekam di rumah dan melakukan apapun ya di rumah; ditambah lagi, kalau udah ada notifikasi dari teman atau keluarga yang membagikan info atau berita seputar COVID 19 yang kadang tidak tahu mana HOAX mana beneran, semuanya ditelan mentah aja deh! Bahkan sampai ikut tutorial buat hand sanitizer dan disinfektan sendiri karena udah langka semuanya. That's reality.


Namun, di dalam momen ini, aku jadi banyak terdiam dan merefleksikan berbagai hal sih. Aku baru-baru ini mau mencoba cari tahu banyak tentang Kesehatan Holistik yang punya konsep dasar yaitu kesehatan itu tidak hanya soal fisik saja tapi mencakup pikiran, jiwa, dan energi. Semua harus berjalan dalam harmoni sehingga menciptakan kesehatan yang holistik. Dan, menariknya, tubuh kita sebenarnya akan inisiatif untuk memberi tahu kita kalau misalkan ada salah satu hal yang lagi ga berfungsi dengan baik misalnya kondisi kita lagi stres, kangen pacar tapi ga tahu dia kangen kita apa ga, gebetan ghosting.. Upps sedih amat ya.. haha.

Photo by Avrielle Suleiman on Unsplash 

Menghormati hubungan antara pikiran dan tubuh adalah sangat penting bagi kesehatan.

Nah, jadi memang tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang harus berjalan secara holistik. So, benar juga ya apa yang dikatakan filsuf Descartes yaitu “Cogito Ergo Sum” yang artinya “Aku berpikir maka aku ada” menggambarkan ya tubuh ini tak ada artinya jika pikiran kita tidak menunjang diri kita, kalau pikiran kita tidak baik, ya tubuh juga akan bergerak sama dan konsekuensinya adalah hidup akan diliputi banyak rasa bersalah atau jika pikiran kita mengarahkan kita pada kebenaran, berarti tubuh kita juga diajak untuk melakukan kebenaran dan hidup dalam kebenaran. Begitu kurang lebih korelasinya.


Jadi, balik ke pandemi COVID 19 nih guys. Pola pikir kayak apa sih yang bisa terus membuat kita waras supaya kita harapkan tubuh dan imunitas kita juga mengikuti pikiran kita yang menunjang untuk kondisi saat ini?

Ada 3 (tiga) pola pikir yang menurutku bisa kita refleksikan bersama dengan ilustrasi The Two Cow Theory atau Teori Dua Sapi, ada yang menyebutnya sebagai Teori Sapi Biru yang biasanya dipakai dalam menjelaskan sistem ekonomi, tapi kali ini aku bikin sebagai contoh untuk menentukan pola pikir kita karena menurutku masih bisa dicerna dengan sederhana dan relevan dengan hidup kita.

Photo by Olivia Snyder on Unsplash 

Ilustrasinya sederhana: Kita adalah pemilik dari 2 sapi dan saat ini menghadapi ekonomi sulit, jadi untuk bertahan hidup dalam jangka waktu panjang, pilihan seperti apa yang bisa kita pilih.. Check it out ya :

Pertama, kita memiliki 2 ekor sapi dan Butuh Uang (BU) banget nih, saldo di tabungan menipis dan harus putar otak bagaimana bisa memiliki pendapatan untuk waktu sekarang. Akhirnya, setelah membuat perencanaan bisnis yang low risk dan cepat tanpa harus apply kredit online, jalan yang ditempuh adalah aku menjual 1 ekor sapi dengan harga yang wajar lalu dari hasil jual itu aku membuat ternak ayam sehingga aku bisa menjual ayam juga telor-telornya. Lalu, 1 ekor sapi lagi aku biarkan tetap bersamaku, namun aku terus memerah susunya dan menjual susunya ke orang lain dan mendapatkan keuntungan. Hasil yang didapatkan tergolong cepat dan bisa melanjutkan hidup dengan tenang.

Kedua, kita memiliki 2 ekor sapi dan BU sih, tapi saldo rekening masih bisa dihemat kok sampai 3 (tiga) bulan ke depan. Jadi, dengan perencanaan yang matang, aku membuat sebuah usaha dengan target walau hanya memiliki 2 ekor sapi tapi keuntungan yang bisa didapat setara dengan ketika aku memiliki 5 ekor sapi. Namun, tidak bisa dijalankan dengan cepat dan mudah, harus sabar, melihat pasar, terus berpengharapan tiada henti untuk bisa mencapai target dan memenuhi kebutuhan finansial, sempat gagal di bulan pertama, bangkit lagi, dan terus berusaha mencapai target yang di buat. Begitu seterusnya.

Ketiga, kita memiliki 2 ekor sapi dan BU, tapi untuk kebutuhan hidup masih bisa bertahan kalau pun saldo habis, bisa pinjam ke tetangga atau saudara. Setelah ikut seminar bisnis sapi dan belajar online dari orang yang sudah sukses mengelola bisnis sapi, ternyata tren yang paling mendatangkan cuan atau untung besar adalah bisnis penggemukkan sapi, dimana margin untungnya bisa 2-3 kali lipat. Walau dengan modal yang cukup besar dan waktu yang tidak sebentar, aku terus berusaha dengan tekun dan ulet, sampai mendapatkan cuan atau untung yang besar itu sambil terus mempelajari bisnis yang berjalan ini, karena bisa membeli banyak sapi lagi dan mendapat keuntungan lagi.

Nah, dari 3 (tiga) ilustrasi diatas, teman-teman pasti memiliki 1 ilustrasi yang kurang lebih cocok dengan pola pikir masing-masing, karena pola pikir terbentuk bukan hanya melihat mana yang baik atau buruk, tapi dari pengalaman hidup, perhitungan sesuai prinsip kita, dan sebagainya. Ketiga opsi di atas memiliki sisi ekonomisnya masing-masing dan jika dikerjakan juga akan memiliki keberuntungannya masing-masing.

Photo by Norbert Kundrak on Unsplash 

Sebenarnya dari 3 ilustrasi di atas, itu menggambarkan pola pikir kita. 

Ilustrasi pertama itu menunjukan Pola Pikir REALISTIS. Artinya, melakukan apa yang dalam kendali kita, tidak terlalu bermain resiko, tapi hasilnya kelihatan jelas dan sesuai dengan yang dibutuhkan saat itu dulu. Pola pikir ini dalam menghadapi COVID 19 menunjukan pribadi yang taat pada aturan #diRumahAja, tidak ikut-ikutan melakukan panic buying karena daya beli yang dimiliki, apalagi menimbun masker, alcohol swab, dan lain-lainnya. Menyasar pada apa yang bisa dalam kendali dan kontrol kita sebagai pribadi yang apa adanya tetapi juga tidak menyerah dengan kondisi.

Ilustrasi kedua menunjukkan pola pikir POSITIF. Artinya, terus berpengharapan bahwa pandemi COVID 19 ini akan berakhir namun terus melakukan banyak hal baik yang bisa dilakukan untuk diri sendiri, seperti bekerja seperti biasa, mengisi hari dengan kegiatan dan kreativitas yang menyenangkan, tidak terbawa rasa takut berlebihan karena terus berpikir positif bahwa semua akan baik pada akhirnya, jika yang terjadi di depan mata adalah hal yang kurang baik, berarti itu belum menjadi akhirnya. Sehingga, pola pikir ini akan terus bisa memotivasi dan mendorong kita untuk terus berharap apa yang baik seterusnya.

Ilustrasi ketiga menunjukkan pola pikir OPTIMIS. Artinya, walau di depan mata begitu banyak hal yang tidak pasti, terus tekun mencari upaya terbaik dalam mencapai apa yang kita harapkan. Dalam kasus COVID 19 ini, optimis bahwa akan ditemukan vaksin untuk mengobati virus ini, yakin bahwa pemerintah bisa melakukan tugasnya dengan baik untuk menanggulangi penyebaran dan pengobatan COVID 19, dan tekun memberi campaign untuk memiliki hidup sehat kepada teman dan keluarga.

Kita boleh realistis tapi juga jangan lupakan pola pikir positif dan optimisme di dalam menjalani kehidupan kita yang pastinya penuh dengan banyak kejutan juga masalah yang harus siap dihadapi dan diselesaikan dengan bijak dan penuh hikmat dari Tuhan. So, jagalah pola pikir kita supaya tubuh kita juga merasakan keuntungannya, yaitu memiliki kesehatan yang holistik juga kebahagiaan tersendiri untuk hidup kita

Photo by Alvis TaurÄ“ns on Unsplash 

Teringat dengan perjumpaan dan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:13 - 15

Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus l untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air  di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus  dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."

Bagi perempuan Samaria yang tidak mengenal Yesus, dihampiri oleh laki-laki yang bukan dari bangsanya adalah sesuatu yang hina saat itu. Ditambah lagi, perempuan itu memiliki 5 suami atau ia berzinah. Tapi, perempuan Samaria yang dianggap kafir dan berdosa itu menerima sapaan hingga terjadi perubahan besar dalam hidupnya, karena ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang memberikan air kehidupan yang kekal dalam hidupnya.

Kadang Yesus tidak menemui kita di dalam diri yang sehat, suci, bersih. Ia justru mendatangi kita ketika kita sedang berputus asa, takut, atau resah, tapi percayalah dengan pikiran yang positif juga optimis bahwa Yesuslah sumber air kehidupan kekal kita. So, berpikir waras di saat COVID 19 atau kondisi lainnya... Why not?

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER