Diselamatkan dari Kejadian Aneh nan Menyeramkan

Best Regards, Live Through This, 05 April 2023
"The law condemns the best of us; but, grace saves the worst of us." - Joseph Prince.

Halo, selamat Paskah. Kali ini aku mau membagikan satu kesaksian iman. Barangkali, ada sesuatu yang bisa kalian petik dari pengalaman aku berikut ini. 

Ceritanya berawal pada tanggal 7 April 2011 yang lalu, sepulangnya aku memenuhi janji ke seorang teman kuliah. Sebelum UAS Semester Padat, aku memiliki janji ke dia untuk menemani dia ke Ratu Plaza. Tapi, saat itu, aku tunda hingga baru terlaksana di tanggal 7 April.
Awalnya aku tiba di kampus di sekitar jam sembilan pagi. Aku bertemu dia di Sport Hall, Atmajaya. Rencananya aku dan Dias sudah berniat langsung berangkat ke Ratu Plaza, tapi mendadak berjumpa dengan Erland dan Daniel. Kita balik lagi ke Atma dan sempat menunggu di koridor basement gedung Yustinus. Aku sempat canggung saat nongkrong kembali di koridor itu. Mungkin karena sudah hampir tiga bulan tidak ke gedung Yustinus. Paling banter aku ke gedung C, di mana sekretariat fakultas Hukum berada.


Karena merasa bosan dan rada aneh juga nongkrong di Yustinus, mengajak Dias ke Giant yang ada di Plaza Semanggi. Untungnya Dias mau dan kita langsung menunggu Erland di sana. Sempat sekitar tiga puluh menit menunggu di sana sambil internetan.
Barulah, sekitar jam sebelas, Erland, dkk, datang dan kita langsung bergegas menuju Ratu Plaza. Sampai di Ratu Plaza, kita sempat makan di salah satu restoran di sana. Ditraktir Dias. Setelah acara makan-makan yang lumayan meriah, aku menemani Dias mencari kaset game.


Selama satu jam di sana dan game yang dicari Dias, yaitu Imperial Glory, tidak ditemukan. Sekitar jam dua belas, mulai berpencar. Erland, Endro, dan Daniel kembali ke kampus. Mereka harus ikut kelas. Sementara aku dan Dias menunggu bus untuk pulang. Eh, mendadak batal. Dias tertarik dengan ceritanya akan sebuah toko buku di Ambassador Plaza, dan aku dan Dias malah pergi ke Mall Ambassador. Ongkos taksi dibayarkan Dias.


Sampai di Ambassador, bukannya langsung mencari toko buku tersebut, eh Dias malah lebih memilih untuk mencari kaset game yang dia cari. Apalagi di Ambassador Plaza, cukup banyak ditemukan penjual game-game komputer. Cukup lama kami berdua di sana. Hingga, sekitar jam dua siang, aku dan Dias keluar dari malnya untuk memutuskan pulang ke rumah. Sebelumnya kami membeli es kelapa depan mal sebagai penawar haus. Barulah kami naik angkot yang turun di Rumah Sakit Siloam dekat Atmajaya, lalu memotong jalan melalui Centro, Plaza Semanggi untuk ke Komdak. Di Plaza Semanggi, aku sempat internetan selama beberapa menit.
Barulah sekitar jam tiga, kita berdua berpisah di Komdak. Aku sempat menemani Dias agar masuk ke dalam bus jurusan Bekasi. Aku pulang dengan bus jurusan Tangerang setelah pukul lima sore.


Photo by Wikipedia Commons


Karena terlalu lama menunggu bus di Komdak, aku memilih untuk naik bus trans dan turun di halte Slipi Kemanggisan. Lagi-lagi, menunggu yang cukup lama. Yah, sudah, aku memilih untuk naik bus dari Bandung yang menuju Kebon Nanas, Tangerang.


Nah, di bus inilah bakal ada kejadian yang membuat aku rada takut, khususnya saat bus yang kutumpangi telah melewati Mall Puri Indah. Saat aku tengah asyik membaca tabloid Bola, kaca jendela--di samping aku duduk--seperti dilempar dengan sesuatu. Aku duduk di bangku ke lima atau ke enam dari pintu masuk.
Keras juga suaranya. Kacanya retak, dan hampir mau pecah. Aku terburu-buru pindah bangku. Untungnya masih banyak bangku yang kosong. Setelah kacanya diselidiki kondektur bus, rupanya ada lubang kecil di kaca jendela yang tak jauh dari aku duduk tadi. Lubangnya hampir mirip seperti lubang bekas tembakan peluru. Dan, itu tidak mirip seperti lubang hasil lemparan batu. Dan, memang sumber pecahannya itu berada di jendela di dekat aku duduk.



Si kondektur sempat bilang, "Wah, Dek, Adek beruntung banget."


Kejadian yang sampai sekarang aku masih ingat. Masih misteri mengapa bus yang aku tumpangi harus mengalami kaca jendela yang ditembaki oleh benda yang mirip peluru. Yang jelas aku sangat berterimakasih ke Tuhan Yesus. Jika bukan karena penyertaan-NYA, bisa saja kaca jendela bus langsung retak dan pecahannya jatuh hingga mengenai tubuh aku.
Kelanjutannya, saat bus transit di rest area, sopir dan kondektur membereskan pecahan kacaTangerang. Aku sempat berpikir untuk mengganti bus, namun urung, karena takut menunggu lama. Aku segera berpindah bangku dan inisiatif untuk berdoa, lalu mengucapkan syukur ke Tuhan. 

Sekian kesaksian iman yang pernah aku alami. Itu satu dari sekian kesaksian iman yang aku alami. Terasa nyata sekali bahwa penyertaan Tuhan memang sangat nyata. Hingga detik ini, aku masih bertanya-tanya kenapa bus yang aku tumpangi harus melewati insiden semengerikan tersebut. Hampir saja aku tewas, atau setidaknya cedera. Untungnya karena perlindungan Tuhan, aku selamat. 

Oh iya, sejujurnya, sejak awal aku masuk ke dalam bus, aku duduk di bangku paling depan. Entah mengapa aku merasa harus pindah bangku. Aku memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di belakangnya, yang lalu pindah ke bangku yang sebagaimana tertulis di paragraf sebelumnya. Yang sering naik bus umum, pasti paham. 

Pokoknya, andai saja aku tidak berpindah-pindah tempat duduk di dalam bus, bukan tak mungkin aku mengalami cedera cukup parah akibat lemparan benda asing ke arah jendela bus. Seperti ada yang menggerakkan aku saja. Terkadang aku berpikir apakah seperti ini cara Tuhan menolong seseorang. Dia menyentuh sisi-sisi tertentu dari manusia seperti hati nuraninya, instingnya, intuisinya, atau mungkin untuk sudah sering menggunakannya, indera keenamnya.

 

Photo by Wikipedia Commons

Aku tidak tahu apakah ini berhubungan atau tidak dengan kesaksian aku. Namun, aku seperti Abraham yang akhirnya batal mengorbankan anaknya di Bukit Moria. Atau, seperti Rasul Petrus yang sebelum utusan Kornelius datang, ditampakkan penglihatan berupa aneka binatang untuk disembelih. Kadang aku merasa lucu membayangkan utusan Kornelius yang kaget kenapa Petrus bisa tahu. Dan, masih banyak lainnya sederetan kisah di Alkitab bagaimana Allah menolong. Kurang lebih seperti Allah menyelamatkan aku dari petaka dalam kesaksian di atas. 

Kesaksian di atas juga bukan yang pertama. Sebelum kejadian, beberapa tahun sebelumnya, aku pun pernah mengalami. Aku luput dari maut saat bus yang aku tumpangi ditabrak metromini dari arah belakang. Posisi aku duduk tak jauh dari sisi bus yang ditabrak. Dan, aku sama sekali tak terluka apalagi terkena pecahan kaca. 

Wow! 

Sederetan kejadian yang menantang maut itu menyadarkan aku bahwa Tuhan memang ada. Tuhan sungguh bekerja untuk menyelamatkan hidup saudara-saudara semua. Satu lagi, cara Tuhan bekerja itu misterius. Nyaris tak setiap orang atau makhluk di alam semesta ini mengetahui pikiran Tuhan. Sampai sekarang aku masih berpikir apakah bagian aku dibuat gelisah, lalu berpindah-pindah tempat duduk di dalam bus, itu bagian dari rencana-Nya untuk menyelamatkan aku dari maut yang hendak menghampiri aku. Wow, keajaiban Tuhan memang sangat nyata. Apa lagi yang harus aku ragukan? 


LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER