Belajar Tulus dalam Memasuki 2019

Best Regards, Live Through This, 15 May 2019
Keinginan sendiri hancur berantakan tidak apa-apa, asalkan kehendak Tuhan yang terlaksana. Tuhan bisa memakai setiap kehancuran itu untuk membangun orang lain

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
mengapakah harus terjadi
di dalam kehidupan ini
Satu perkara yang kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu 'kan terjadi
Tanpa Allah peduli
Allah mengerti, Allah peduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkan-Nya
‘Ku bergumul sendiri s’bab Allah mengerti
Dibuka-Nya jalanku s’bab Allah peduli

Lirik lagu pujian tersebut benar-benar mengena di hatiku. Banyak hal yang tak kupahami tiba-tiba terjadi dalam hidupku. Semua menyisakan tanda tanya. Aku masih sering bersungut-sungut ketika tidak dihargai dalam pelayanan, dan masih kesulitan untuk tidak mengharap balasan.

Semua pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan itu mengajarkanku pada satu hal: aku memang masih perlu untuk terus belajar tulus. Sesuai dengan pengertiannya dalam KBBI Daring, bahwa tulus diartikan sebagai “sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas”.

Photo by Siora Photography on Unsplash

Penghujung tahun 2018, khususnya pada akhir bulan Desember, adalah momen yang dirasa tepat bagi banyak orang untuk memikirkan serta membuat resolusi. Mulai dari membaca Alkitab selama setahun penuh, diet ketat untuk menurunkan berat badan, memperbaiki relasi dengan orang tua, serta berbagai resolusi baik lainnya. Aku pun tak beda, mencoba merenungkan tahun yang berjalan untuk memikirkan resolusi yang ingin kujalani ke depan.

Pelajaran yang paling kuat menegurku dalam menjalani tahun lalu adalah bahwa aku memang kurang begitu peka akan suara Tuhan selama ini. Ada komitmen yang harus kuambil untuk lebih mampu dengar-dengaran akan suara-Nya. Mungkin tidak harus dengan menyelesaikan baca Alkitab dalam kurun waktu satu tahun, namun yang terpenting adalah memperbaiki relasiku yang flat dengan Allah serta berjuang untuk memahami kehendak dan panggilan Tuhan dalam hidupku.

Tahun 2018 aku sering mendoakan sesuatu, mencoba mendengar suara Tuhan, tetapi nyatanya yang lebih sering kulakukan adalah memohon-mohon persetujuan dari Tuhan. Seakan menyodorkan keinginanku sendiri kepada Tuhan, bicara satu arah, dan ingin dimengerti tanpa mau mendengar. Dan karena itu aku merasa Tuhan bicara banyak tentang ketulusan tahun 2018.

Photo by Karl on Unsplash

Tulus untuk berdoa, meski belum tahu apa jawabannya, saat semuanya seakan gelap dan sulit mengenali apa hikmat di baliknya

Kadang kita berdoa agar cukup sehat dan kuat, tapi ada kalanya malahan yang terjadi adalah, misalnya, sakit flu parah selama dua minggu berturut-turut sehingga tidak bisa ikutan retret atau kondangan padahal sudah janjian dengan teman-teman kita. Ada juga yang mendoakan agar anggota keluarganya sembuh dari kanker, tetapi kenyataan berkata lain, nenek malah dipanggil oleh Yang Mahakuasa untuk kembali ke pangkuan-Nya. Berdoa untuk melanjutkan hubungan pacaran ke jenjang pernikahan kudus, namun nyatanya tak sejalan dan harus putus cinta.

Tulus untuk panjang sabar terhadap orang-orang yang hanya bisa merespons negatif

Kadang kita dipertemukan dengan orang-orang yang sulit dan tidak menghargai perbedaan pendapat. Mereka yang menyerang iman kita akan Tuhan dan Juru Selamat terkasih. Mereka yang diberi tahu berbagai bukti akan kebenaran yang kita yakini, tapi menyangkalnya sebagai hoax. Mereka yang malah mencaci maki pemerintah dan negara berdasarkan opini semata. Orang-orang tak dikenal yang menyerang dan melakukan debat kusir di lini masa media sosial kita mengenai berbagai hal.

Photo by Fransisco Moreno on Unsplash

Tulus untuk lebih peduli pada apa kata Tuhan dibandingkan apa kata manusia

Bisa jadi kita terlalu memikirkan kata-kata yang terucap oleh banyak orang yang menghina kita karena status, jabatan, harta, dan merek barang-barang yang kita miliki. Dulu aku pun begitu. Tapi aku belajar untuk tidak mempedulikannya.

Harga diri kita bukan ditentukan oleh mereka, melainkan darah Kristus yang sudah tercurah bagi kita. Mutiara tetap mutiara sebanyak apa pun orang yang mengatakan mutiara itu kerikil. Kata-kata tidak akan pernah bisa mengubah realitas.

Tulus saat pelayanan dihina

Meluangkan waktu lebih dari 100 jam untuk rapat dan persiapan, tapi semua terasa sia-sia ketika pelayanan itu dihina dan orangnya dikutuki. Memerhatikan adik-adik rohani, tapi malah dicuekin dan janji pun dibatalkan sepihak. Dianggap tak berguna sedikit pun dalam pelayanan. Sakit memang.

Ayat-ayat ini menguatkanku saat aku jatuh:

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a).

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).

Photo by Darius Bashar on Unsplash

2019, waktu untuk belajar lebih tulus

Keinginan sendiri hancur berantakan tidak apa-apa, asalkan kehendak Tuhan yang terlaksana. Tuhan bisa memakai setiap kehancuran itu untuk membangun orang lain. Bahkan Tuhan bisa pakai kehancuran itu untuk mengerjakan kehendak-Nya nyata di bumi. Itulah yang menyebabkan pentingnya ketulusan hati, mengenal suara dan rencana-Nya, mengikuti jalan-Nya, dan mengerjakan bagian kita, untuk dipakai Tuhan.

Selamat menempuh tahun 2019 ini dengan tulus.


 

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER