Saya Tidak Mau TInggal di Rumah!

Best Regards, Live Through This, 26 March 2020
Bunda Teresa mengingatkan kita dengan berkata: "I am a little pencil in the hand of a writing God who is sending a love letter to the world."

Ya, betul, anda tidak salah membacanya, judul di atas bukan merupakan umpan atau clickbait. Saya memang tidak mau tinggal diam di rumah pada saat pandemi ini! Setidaknya, bagi diri saya, sekarang belum saatnya tinggal diam di rumah. Memang, sudah cukup banyak yang menentang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Apa saya sadar bahwa perbuatan saya sangat berisiko? Ya, saya sangat sadar dan saya sangat sangat takut tertular penyakit ini.

Mengapa saya menulis tulisan ini sebagai anonim? Anda akan mengerti jika sudah membaca keseluruhan tulisan ini. Alasan utama, saya tidak ingin mengambil kredit dari kegiatan yang sedang saya lakukan. Karena, saya tahu semua yang saya lakukan adalah anugerah dari pada-Nya. Saya juga tidak ingin membuat orang-orang khawatir. Jika Anda merasa mengetahui siapa saya dan tidak setuju, silakan kirimkan pesan pribadi.

Untuk informasi awal, sekarang saya tinggal di kamar kost yang berada di lantai dua. Di lantai dua ini hanya ada dua kamar dan dua penghuni termasuk saya. Lantai dua memiliki akses tersendiri yang terpisah dari lantai satu. Sehingga, saya cukup terasing dari orang-orang.

Lalu, apa yang saya lakukan di luar rumah? Saya menjadi relawan di dua komunitas berbeda, Kristen dan Islam serta berencana untuk membantu satu komunitas lainnya. Saya membantu kegiatan penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah ibadah. Secara khusus saya membantu mengurus logistik, seperti mempersiapkan dan merawat peralatan, mempersiapkan dan menghitung dosis dan kebutuhan disinfektan. Saya juga membantu mengumpulkan beberapa teman dalam pembuatan konten media sosial. Saya juga turut memberikan tenaga dalam menyiapkan paket sembako untuk dibagikan kepada orang-orang yang rentan, seperti para pekerja harian yang terpaksa tetap bekerja di luar rumah (supir angkot, ojek, pedagang dll). 


Apa saya tahu risiko berada di luar rumah dan berkumpul?

Ya, saya paham betul apa risiko yang saya ambil. Bahkan, sejak Januari saya sudah memantau berita mengenai penyakit ini. Secara pribadi, saya juga sudah memperkirakan tingkat infeksi yang tinggi, ketika membaca sebuah artikel bahwa virus ini bisa menular, walau belum ada gejala penyakit. 

Saya juga mendukung penuh ibadah di rumah dan tidak melakukan salaman sejak akhir Februari. Anda bisa bertanya ke beberapa teman, mengenai betapa “menyebalkannya” saya yang terus mengeluh akan ibadah-ibadah yang masih dilakukan di gedung gereja serta mengkritik lambatnya penanganan pandemi ini. 


Jika saya tahu risikonya, mengapa saya tetap keluar?

Pertempuran melawan virus ini begitu berat. Bahkan, walaupun kita menang, kita tidak bisa melihat dengan jelas hasilnya. Karena kemenangan kita terjadi Ketika “tidak terjadi apa-apa”, Ketika tidak ada lagi yang terinfeksi atau yang terinfeksi bisa mendapatkan perawatan medis yang baik. Segala usaha kita tidak bisa dinilai secara jelas.


Apa indikator dari penyemprotan disinfektan yang berhasil? 

Kita tidak bisa menghitung berapa banyak orang yang akhirnya “tidak” terinfeksi Corona atau berapa banyak virus yang kita basmi. Bisa saja areal yang kita semprot tidak ada virus sama sekali, atau mungkin kita sudah membasmi begitu banyak virus.


Apa indikator dari pembagian sembako yang berhasil? 

Kita tidak bisa mengetahui berapa banyak orang yang akhirnya tidak perlu keluar rumah untuk bekerja dan akhirnya tidak tertular atau menularkan virus ini kepada orang lain. Atau berapa orang yang meningkat daya tahan tubuhnya karena vitamin yang kita bagikan. Atau Kesehatan mereka yang terjaga akibat masker, sabun dan hand sanitizer yang kita bagikan.

Saya sendiri begitu takut tertular. Karena, ketika saya dinyatakan positif, maka semua relawan yang bekerja bersama-sama dengan saya harus diperiksa dan melakukan isolasi. Semua pekerjaan akan terhambat dan berhenti.


Tantangan yang ada

Di tengah keletihan dan kelelahan, saya merasa jengkel dengan tantangan-tantangan yang ada. Mulai dari kekurangan diri saya dan juga perbedaan pandangan dan prinsip dengan orang-orang.


Tentangan 

Tidak sedikit orang yang menentang Ketika tahu rencana saya untuk menjadi sukarelawan. Orang tua berkali-kali mengingatkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan ini, padahal saya tidak pernah memberi tahu mereka mengenai kegiatan ini. Beberapa sahabat dan teman bersifat skeptis ketika saya mengajak mereka untuk membantu. “Kita bisa menjadi carrier” ujar mereka secara singkat.

Bahkan, ada dosen yang menentang keras kegiatan-kegiatan seperti ini. Saya tahu dia mengkritik orang lain. Tapi, dia sempat berkata “jika kalian positif, kampus akan melalui prosedur yang panjang dan melelahkan…..”. Saya tidak habis pikir, ia begitu memikirkan kampus dan bukannya berkata “jika kalian positif, kasihan keluarga kalian, kami juga nantinya sulit membantu kalian, sayangi diri kalian dan orang-orang di sekitar kalian.”Saya mengerti semua kekhawatiran mereka. Namun, bagaimana dengan nasib orang-orang yang rentan? Yang masih harus keluar rumah setiap hari untuk mencari sesuap nasi? Sejak kecil, orang tua saya mengajarkan untuk peduli terhadap mereka yang kekurangan. Teman-teman banyak berbicara tentang keadilan sosial dan mereka yang termarjinalkan. Dosen mengajarkan kasih, walk the talk dan berbagai hal lainnya. Bukankah sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk mempraktikkan semua itu?


Kacangan 

Pada sudut lain, saya melihat berbagai motivasi relawan yang (mohon maaf) kacang-kacang atau ecek-ecek. Saya melihat mereka yang haus jabatan dan mencoba memonopoli kegiatan padahal tidak memiliki kapasitas yang cukup. Misal, salah satu alat utama dalam penyemprotan disinfektan adalah knapsack sprayer atau alat semprot. Saya sudah mengenal alat itu sejak 2011. 

Beberapa orang baru yang saja mengenal alat itu 3 hari yang lalu, tiba-tiba memimpin pelatihan penyemprotan disinfektan. Padahal, mereka sendiri tidak tahu cara perawatan alat serta pencampuran bahan disinfektan (dosis tiap disinfektan berbeda, cara pakai disinfektan bubuk, cair juga berbeda). Mereka juga dengan begitu rajin mengunggah foto-foto mereka ke media sosial untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pahlawan.

Padahal, saya sendiri enggan berbagi di media sosial karena tahu ada begitu banyak pandangan mengenai kegiatan yang saya lakukan, tidak ingin membuat orang tua saya khawatir, serta sadar bahwa saya belum berbuat banyak.

Belum lagi, ada orang yang tiba-tiba menjadi “tim online” (entah tim apa ini, mereka menyebut diri mereka ini), tiba-tiba menjadi kasir yang mengatur dan berbagi uang transportasi yang tidak saya dapatkan sama sekali. Padahal, ketika di lapangan mereka lebih banyak menonton dan tidak melakukan apa-apa. Lalu, mengenai uang transport, saya tidak mempermasalahkan jika saya tidak mendapat bayaran, karena saya sudah siap untuk melayani. Akan tetapi, yang cukup aneh bagi saya adalah mengapa mereka yang mengatur? Masih ada orang-orang lain yang cukup kompeten untuk mengaturnya. Memang mereka sering sekali mendekati staff dan koordinator kegiatan ini. 

Kacang-kacang masih berlanjut. Ada relawan perempuan yang mengeluh, karena ternyata ia didekati beberapa relawan laki-laki. Ada yang meminta mengirim foto, ada juga yang mengajaknya minum di apartemen. Padahal, kita semua baru kenal beberapa hari saja. Belum lagi, para relawan ini mengaku sebagai orang-orang beragama, pengurus di agama (setidaknya rumah ibadat) masing-masing.

Saya merasa lucu, ketika mereka mengaku membantu dengan sukarela, mereka masih mencari panggung dan melakukan banyak hal kacang-kacang. Saya teringat dengan perkataan Lilla Watson, bukan hanya tentang kita atau mereka, tetapi kita dan mereka.

“If you have come here to help me you are wasting your time, but if you have come because your liberation is bound up with mine, then let us work together.”


Rintangan

Salah satu hambatan yang saya hadapi adalah rasa lelah dan letih. Cukup banyak hal yang harus saya lakukan. Kuliah online, membantu dosen pada salah satu mata kuliah, membuat protokol kerja relawan, membuat konten bersama enam teman lainnya, mempersiapkan alat-alat dan bahan kerja untuk penyemprotan disinfektan, pindah lokasi lalu membantu membungkus sembako.

Akan tetapi, saya masih merasa berbuat sedikit, masih banyak hal yang seharusnya dilakukan. masih banyak orang-orang rentan di luar sana. Namun, saya merasakan keterbatasan saya, saya hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa saya berikan dan berharap jika perbuatan-perbuatan tersebut setidaknya dapat berdampak baik.

The work an unknown good man has done is like a vein of water flowing hidden underground, secretly making the ground green”. – Thomas Carlyle


Lakukan bagian Anda!

 “When many people step back, you have to go forward”, ucap seorang perempuan dalam video mengenai kesukarelawanan di China pada saat pandemic. Kita bisa melihat berbagai kegiatan kesukarelawanan yang dilakukan para perempuan di China dalam menghadapi pandemi ini. Mereka melakukan sesuai dengan bagian mereka masing-masing, perawat, reporter, juru masak, pembuat masker, pengantar makanan, dll. Setiap orang melakukan bagiannya masing-masing.

Saya merasa terpanggil untuk melakukan hal yang saya ceritakan di atas. Saya akan melakukan yang terbaik dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Jika anda terpanggil untuk melakukan hal lain, silakan lakukan itu dengan sungguh-sungguh.

Bunda Teresa mengingatkan kita dengan berkata:

"I am a little pencil in the hand of a writing God who is sending a love letter to the world."

Kita adalah sebuah pensil yang kecil! Ikutilah gerakan Sang Penulis Agung dan lakukan apa yang kita bisa, bukan kisah kita, tetapi kisah-Nya yang kita tuliskan. Kiranya, surat cinta yang dihasilkan adalah surat yang membawa damai sejahtera dan kehidupan bukan kekacauan dan kematian! 

LATEST POST

 

Seorang aktris Korea, Park Shin Hye pernah ditanya dalam suatu acara variety show yang dibintanginya...
by Monica Petra | 26 Oct 2020

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana&quo...
by Lia Oozz | 26 Oct 2020

[Disclaimer: This article is based on writer experience]As an Asian that lives in the Asian continen...
by Marcella Liem | 26 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER