Ketika Kamu Hancur namun Dunia Terus Berjalan (Part 2)

Best Regards, Live Through This, 13 April 2022
Tuhan tidak kemana-mana, Ia senantiasa ada bersama kita, dalam setiap jatuh-bangun kita

Dalam keheranan karena masih diizinkan hidup, lambat laun saya mencoba menyadari dan melihat momen-momen berat yang ku alami. 

Saya menyadari, saya tidak sendiri. Saya berbagi dengan sahabat yang saya percayai. Dia pula yang menyarankan saya untuk berkonsultasi ke profesional. Namun, karena keterbatasan biaya, akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang hamba Tuhan di gereja tempat saya berjemaat. Beliau memiliki latar belakang pendidikan psikologi. Beliau juga cukup dekat dengan dengan saya. Saya yakin bisa mempercayakan pergumulan saya padanya. 

Kami berdua telah mengatur waktu bertemu untuk konsultasi pertama kali. Namun, dengan tega Tuhan mengizinkan pergumulan lain hadir. 

Seminggu sebelum kami bertemu, pihak gereja mengumumkan bahwa beliau sedang mengalami sakit berat dan akan segera memulai pengobatan. Saya pun terpaksa membatalkan pertemuan yang sudah direncanakan dengan beliau agar beliau bisa focus pada kesehatannya terlebih dulu.

Hati saya hancur lagi, untuk kedua kalinya.

Dalam keadaan kalut yang terus berakumulasi dan entah kapan akan menemui akhirnya, saya mencoba iseng mengirimkan chat ke akun Instagram komisi pemuda gereja saya. Saya menanyakan apakah ada lagu yang bisa menenangkan hati dan pikiran ketika sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

Admin Instagram komisi pemuda gereja menjawab dengan lagu berjudul “His Love” yang dibawakan oleh JPCC Worship. 

‘ I close my eyes to things I can not control. I’m letting go, I lift my hands’ 

‘He calms the storm to a whisper, He stills the waves with His power. With His hands working in my life, I’ll walk through valleys whom shall I fear?’ 


Saya baru mendengarkan kalimat pertama, dan saya sudah sukses dibuat menangis sekencang-kencangnya. Semakin saya mendengarkan lagunya, tangisan saya semakin menjadi-jadi. 

Selesai mendengarkan lagu tersebut, saya berdua sekali lagi. Dengan tulus meminta kekuatan dari Tuhan. Saya sadar tidak mampu menghadapi semua ini sendirian. 

Saya memutuskan bergabung dengan komunitas pemuda di gereja.

Saya amat beruntung menemukan komisi pemuda yang sangat suportif, baik dari sisi mental maupun spiritual. Lambat laun keadaan saya berangsung membaik, seiring saya semakin tertanam di komisi pemuda dan secara rutin konsultasi ke profesional kesehatan mental/ 

Namun pergumulan tidak berhenti di situ saja. Seolah-olah saya diajak bercanda. 

Setelah semua kejadian yang saya alami tersebut, saya mengalami lagi pelecehan seksual. Kali ini oleh teman saya yang menjadi pemain bas di band yang saya bentuk. Banyak tindakan pelecehan seksual yang saya alami, penulisan skripsi yang mengalami banyak kendala, kakak saya yang harus berhenti bekerja karena pandemi, keuangan keluarga yang otomatis saya yang menanggung karena kedua orang tua sudah tidak bekerja, ayah saya yang mengalami kecelakaan tabrak lari motor sehingga harus operasi mendadak yang memakan biaya besar, sampai hamba Tuhan yang saya percaya untuk konsultasi pertama kali meningga dunia. 

Semua pergumulan yang datang bertubi-tubi, sempat kembali menggoyahkan saya. Saya pun menyeriusi keinginan untuk kembali mencoba mengakhiri hidup. 

Namun kali ini saya beruntung. Ternyata komunitas yang tepat dan bantuan profesional yang tepat pula dapat membantu menenangkan saya dan kembali berpikir jernih. 

Saya amat teringat kalimat yang diucapkan salah satu teman saya di komunitas gereja, demikian:  

“Sombong banget kita kalau memahami bahwa hidup dalam penyertaan Tuhan berarti kita gak akan pernah jatuh lagi. Kita tau banget bahwa perjalanan ikut Yesus itu sangat naik-turun. Inget, firman Tuhan bahkan bilang dalam kelemahanmulah kuasa-Ku dinyatakan.”

Sampai berbulan-bulan lamanya pergumulan dalam hidup saya terus bertambah. Namun herannya, semakin lama pergumulan itu terasa semakin tidak semenakutkan dan semenyakitkan di awal. 

Dalam doa dan perenungan tiada henti, akhirnya saya mendapatkan jawaban mengapa saya mengalami pergumulan seberat dan sebanyak ini.

Agar nyata kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup saya. Allah sungguh-sungguh beserta kita.

Saya yakin tujuan Dia mengizinkan saya mengalami ini semua adalah agar orang lain yang juga mengalami banyak pergumulan yang berat dan sudah kehilangan harapan bisa berkaca dari pengalaman yang saya alami, dan kembali yakin bahwa Tuhan bukan hanya menyertai hidup saya, pun hidupnya juga.

 Tuhan akan menarik tangan kita dan menolong kita di waktu-Nya, waktu yang tepat. 

Maka tetaplah bersandar pada Tuhan. Dan untuk yang juga berjuang seperti saya, terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini, dan tetaplah bertahan sampai akhir. Sampai akhirnya ketika kesudahannya telah datang, kita bisa melihat ke belakang, bahwa hidup kita ternyata bisa menjadi berkat bagi orang sekitar. 

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

TAGS

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER