Melawan Godaan ala Minggu Pra-Paskah

Best Regards, Live Through This, 11 April 2019
Hmmm, di saat sedang merasa sangat lapar, kuncir rambut saja bisa terlihat seperti kue putu ayu, ya.

Dulu ketika masih SMP, ada masanya aku suka sekali dengan momen Pra-Paskah. Kenapa? Karena di sekolah diadakan aksi pengumpulan uang setiap Rabu, dan lima kelas dengan donasi terbanyak akan diumumkan di mading sekolah. Whuidiih! Aku dan temen-temen sekelas jadi bersemangat sekali untuk memasukkan semua uang jajan ke dalam kantong donasi supaya kelas kami menjadi the best five. Dan benar saja, tidak jarang kami berada di posisi pertama. Pride sebagai ketua kelas meningkat, nih! (Padahal, jadinya kita sekelas tidak bisa jajan lagi di kantin setiap Rabu karena duitnya sudah habis. Haha.)

Sekarang, semakin dewasa aku menyadari bahwa momen Pra-Paskah punya makna yang sangat dalam dan berasa sangat privileged untuk yang mau mengikutinya.

Yes, kita juga anak yang privileged, guys. Di momen ini, kita diajak untuk ikut serta dalam puasa yang dijalankan Yesus dan serta meniru teladan yang diberikan-Nya saat menghadapi pencobaan Iblis di padang gurun.

Ingat kan, sebelum memulai pelayanan dan karya-Nya, Yesus dibaptis lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Iya, di padang gurun Dia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai iblis. Di sana Dia juga berpuasa, tidak makan apa-apa. Nah, setelah itu, di saat Yesus merasa lapar, Iblis datang mencobai (memang ya, dasar Iblis, datangnya pas sasarannya sedang ada dalam kondisi lemah). Eits, tapi itu tidak mempan buat Yesus. Dia tetap menang melawan godaan si Iblis yang jahat ini.


Yesus Dicobai dari Sisi Fisik atau Kedagingan


Photo from Pixabay.com

Iblis berkata, "Engkau Anak Allah, kan? Nah, suruhlah batu ini jadi roti."

Hmmm, di saat sedang merasa sangat lapar, kuncir rambut saja bisa terlihat seperti kue putu ayu, ya. Namun, di sini bukan batu yang terlihat seperti roti. Iblis menggoda Yesus untuk mengubah batu ini menjadi roti. Yes, menjadi roti yang bisa langsung dimakan. Aku percaya sekali bahwa Yesus berkuasa mengubahnya, tapi Dia tidak melakukan itu.

Yesus menjawab, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Yesus memberikan teladan ketaatan terhadap Firman dan keyakinan bahwa Firman Allahlah yang membuat hidup. Itu benar-benar teladan untuk menghadapi godaan kedagingan ini.

Yesus Dicobai dari Sisi Ketamakan dan Ambisi

Iblis kemudian berkata, "Semua kekuasaan dan kekayaan ini—kerajaan dunia—akan kuserahkan kepada-Mu, asalkan Engkau sujud menyembahku."


Photo by Unsplash

Oh, man! Tawarannya tidak nanggung, nih. Iblis berkata SEMUA. Tidak perlu lagi repot kampanye. Namun demikian, syaratnya adalah menyembah iblis. Di sini pun Yesus menang melawannya dengan Firman Tuhan.

Yesus merespons, "Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah Dia saja."

Yesus memberi teladan bahwa satu-satunya yang layak disembah adalah Tuhan Allah. Kemudian, yang terpenting dari segala kekuasaan dan kekayaan dunia adalah menyembah dan melayani Tuhan.

Yesus Dicobai dari Sisi Ego

Iblis sekali lagi menawarkan, "Engkau Anak Allah, kan? Terjunlah dari sini. Dari puncak Rumah Tuhan. Karena ada tertulis bahwa Allah akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya menjaga Engkau baik-baik."

Waduh! Sekarang iblis mencoba bermanis-manis ria dengan mengutip Firman Tuhan. Namun, yang namanya iblis tetap saja sesat. Dia menyalahgunakan ayat ini untuk mencobai Yesus. Iblis mengutip Mazmur 91:11-12. Benar bahwa Allah menjanjikan perlindungan melalui malaikat-malaikat-Nya, tetapi jelas ayat ini mendorong kita untuk memercayai Allah, bukan mencobai Dia.

Yesus, yang dalam status-Nya memang benar Anak Allah, bisa saja show off membuktikan janji perlindungan itu, tetapi Yesus tidak melakukannya.

Maka akhirnya Yesus pun menjawab, "Jangan mencobai Tuhan Allahmu."

Guys, Yesus sudah memberikan teladan bagaimana menghadapi godaan pada titik lemah manusia, yang sering berkutat pada hal-hal jasmaniah, ambisi dan ketamakan, serta ego dan keangkuhan. Dia menghadapi godaan itu dengan Firman Tuhan dan keyakinan-Nya yang teguh pada Allah. Teladan ini juga semakin membuatku yakin bahwa Dia dapat menolongku menghadapi pencobaan. Kitab Ibrani menuliskan, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2:18)

Di momen prapaskah ini, kita diajak ikut serta untuk juga menang menghadapi pencobaan-pencobaan pribadi kita. What a privilege, ya. Ikut-serta-untuk-menang! Ingat, di saat banyak pencobaan ingin menjatuhkan kita, Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kemampuan kita. Dia akan memberikan jalan keluar (1 Korintus 10:13).

Jadi, saya sadar bahwa dulu saya salah ketika ikut aksi Pra-Paskah hanya untuk show off. Sudah tidak jajan, motivasinya salah pula. Haha.

PS: Kutipan percakapan Iblis dan Yesus diambil dari Lukas 4 dengan terjemahan bebas.


Penulis : Lisa Sembiring

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER