Menghadapi Ujian Naik Kelas Kehidupan

Best Regards, Live Through This, 26 May 2019
Kini, Tuhanku ternyata sedang menyelamatkan kehidupanku dari sesuatu yang buruk, terutama bagi imanku.

Aku sekarang sedang dalam masa mengarungi bahtera dunia pekerjaan. Ada banyak rasa yang kuhadapi: Pergulatan iman, tekanan psikis, kebanggaan ketika dipuji, suksesnya sebuah acara, dan nyamannya mendapat teman baru. Bila ada yang bertanya berapa kadar kesenanganku ketika bekerja, aku akan menjawab:  100%!! Tak ada rasa menyesal, malas bekerja, bahkan mengerjakan dengan setengah hati. Semua aku tumpahkan ketika menjalani pekerjaan yang sudah Tuhan percayakan selama 10 bulan ini. 

Photo by Andrew Neel on Unsplash

Sepuluh bulan? Ya aku resign dari pekerjaanku itu tepat di awal bulan Mei ini. Rasa sedih, kecewa, marah, tidak ikhlas menjadi makananku setiap harinya. Ketika malam tiba, aku termenung di atas tempat tidurku. Aku tidak bisa tidur, aku terus bertanya: Mengapa aku harus mengalami pergumulan seperti ini? Apakah Tuhan tidak tahu, seberapa aku tulus mengerjakan setiap jengkal pekerjaan ini? Apakah semua orang di kantor itu tidak ada yang memahami posisiku? Aku selalu bertanya ke dalam diriku setiap kali teringat masalah tersebut. Apakah aku bisa melepaskan itu semua? 

Ketika siang tiba, aku malas melakukan apapun, selain diam di dalam kamar, tidak ada gairah untuk makan ataupun keluar kamar. Aku kembali terpuruk karena masalahku sendiri. Aku membangun tembok pembatas sendiri, membentengi diriku sendiri, sampai akhirnya kembali menyalahkan diri. Hal yang paling besar adalah aku menyalahkan Dia yang selama ini memberikanku kehidupan. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa hal ini bisa terjadi padaku? 

Photo by Zohre Nemati on Unsplash

Hari-hari pun bergulir, aku mulai dapat berpikir jernih. Aku mulai menata hari-hariku ke depan. Aku mulai merenungkan apa yang harus kupilih dalam waktu dekat. Aku sungguh tidak ingin kembali jatuh, karena aku gampang diruntuhkan oleh keadaan, sedangkan aku sulit bangkit dari sebuah keterpurukan. Aku mulai kembali merenungkan diri, kembali menyerahkan diriku kepada hal – hal menyenangkan, sembari mencari tahu apa yang aku cari dan inginkan:

“Apa sih tujuanmu untuk ke depan ini? Hanya bekerja saja? Tidakkah kamu sendiri punya tujuan hidup yang sering kamu ungkapkan?" ujar lelaki yang cukup dekat denganku saat ini. Aku berpikir dan kembali mengingat impianku di dunia psikologi anak. Betapa aku selalu ingin berkecimpung di dunia tersebut. Tapi benarkah itu? 

Kembali dia membuat pikiran saya berkembang dan memikirkan jawabannya, “...dipikir, diresapi, dirasakan, dan didoakan. Yakinkah hatimu mau mengerjakan tugas tersebut? Baiknya, sambil kamu cari lowongan pekerjaan itu, ya.” Aku terdiam dan berhenti sejenak. 

Apa yang aku cari? Apakah impian ini akan terus kuperjuangkan? 


Photo by Harli  Marten on Unsplash


Setiap hari aku berdoa, mengenal diriku dan apa yang dimau hatiku sembari mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidangku. Aku kini hanya akan berputar pada bidang psikologi karena aku tak ingin menyia – nyiakan ilmu yang sudah aku dapatkan. Kemudian, entah bagaimana caranya, sebuah lowongan pekerjaan sesuai dengan bidang yang aku cari dibuka. Akupun segera mengirimkan hal yang diminta dan diperlukan. Aku dapat melalui semua prosedur dari calon tempat kerja baruku itu. Ya, Tuhanku sungguh ajaib dengan segala hal yang kadang mengejutkanku namun penuh kasih.


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash


Bulan Mei ini merupakan bulan yang cukup berat dan penuh ujian bagiku: Resign dari pekerjaan, konflik di tempat kerja lama, konflik batin saya, dan menggumulkan masa depan kehidupan saya. Ini sungguh membuatku lelah bahkan mempertanyakan mengapa ujian ini begitu menyulitkanku. 

Namun, aku pribadi sungguh banyak belajar:

Yang Pertama, Ikhlas adalah Kunci 

Ikhlas adalah tentang bagaimana kita bisa melepaskan segalanya agar dapat maju ke depan dan terus mencoba hal baru yang lebih baik. Ikhlas ini juga merupakan aplikasi bahwa kita percaya akan jalan Tuhan. Masing – masing kita sudah Tuhan atur jalan kehidupannya. Tuhan tidak akan meninggalkan anak – anakNya.

Seperti pada Matius 6:25-27 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir. akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"

Yang Kedua, Tentang Sabar

Sabar yang biasa diterapkan ketika kita sedang menunggu dapat juga diterapkan untuk menanti jawaban dari segala pertanyaan yang kita lontarkan kepada Tuhan. Ada banyak pertanyaan dan akan ada banyak pula jawaban yang Tuhan berikan: Tunggu, ini bukan jalanmu, atau Ya, inilah jalanmu. 

Perihal sabar, Alkitab telah mengajarkannya: Roma 12:12 "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" 

Yang Ketiga, Yakin Pada Diri Sendiri 

Yakin pada diri sendiri - ini menjadi sebuah penguat dan penopang ketika kita sedang jauh. Yakin pada diri sendiri bukan artinya menihilkan keberadaan Tuhan, melainkan lebih percaya dengan kekuatan yang Tuhan berikan pada kita. Ketika kita jatuh, maka diri kita akan kuat dan mampu menghadapi semua ujian dan pencobaan karena Tuhanlah yang akan selalu membimbing kita. 

Amsal 3:5 "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."


Photo by NeONBRAND on Unsplash

Pedomanku saat ini adalah berserah, bergerak, dan aku percaya ketika Tuhan bilang, “Di situ bukan tempat terbaik. Ikuti jalanKu ini, mungkin sulit saat ini namun Aku punya rencana hebat dan besar yang akan Kuberikan padamu, anakKu.”

Aku selalu merasakan Tuhan mengatakan itu terus-menerus ketika aku kembali gelisah atau patah semangat. Kini Tuhanku ternyata sedang menyelamatkan kehidupanku dari sesuatu yang buruk, terutama bagi imanku. Tuhan juga sedang mengingatkanku bahwa mimpi – mimpiku perlu diraih bukan hanya digantungkan di angan – angan. Aku bersyukur untuk setiap jengkal pertolongan dan pendampingan Tuhan. Teruntuk seluruh kawan yang sedang dilanda kegelisahan di dunia pekerjaan, tetaplah semangat, Tuhan berserta kita. Biarlah bisikan Tuhan bisa kita dengar. Bagi yang sedang dalam kesulitan hidup sepertiku, ikhlas dan percayalah akan Tuhan kita yang ajaib dan tak pernah membiarkan kita kehilangan kesempatan baik. Bagi kawan yang sedang sibuk memilah pekerjaan baru semoga akan ada dering telepon atau notifikasi handphone yang memberikan kabar baik. Tetap berjuang dibanting dalam ujian kita, selamat naik kelas!

Dari Bukan si Pejuang Hebat yang sedang dibanting. 


LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER