Menemukan Wajah Tuhan dalam ‘Keunikan’ Orang Tua Kita

Best Regards, Live Through This, 28 April 2019
Tuhan memiliki rencana di balik hadirnya kita melalui orang tua kita.

Kurang lebih satu atau dua tahun yang lalu, saya membuat snapgram yang saya abadikan di highlight akun Instagram saya (boleh di-follow @instapriska). Saya sajikan gambar kartun Tuhan Yesus yang sedang disalib; kububuhkan kalimat ala film ‘Dilan 1990’ yang saat itu baru-baru rilis.

“Kamu tidak akan kuat, biar Aku saja” – Yesus, 2000 tahun silam.

Kalimat itu begitu menggelitik benak saya, dan saya juga bingung mengapa saya terinspirasi membubuhkan kalimat itu.

Yang pasti setiap tahun di hari Jumat Agung, saya selalu re-share snapgram itu dengan hashtag #menolakforget, untuk menjadi pengingat momen disalibnya Tuhan Yesus, hanya untuk menebus setiap dosa kita. So sweet ya, bahkan lebih dari Dilan dan Milea itu sendiri.

Nampaknya momen rangkaian Masa Raya Paskah, dengan hari Jumat Agung di dalamnya, kurang afdol rasanya jika tidak melihat Jalan Salib atau film legendaris The Passion of Christ. Namun yang paling penting, Jalan Salib dan film The Passion of Christ jangan hanya menjadi seremonial setahun sekali belaka, yang malah menghilangkan arti dari masa Paskah itu sendiri.

Kiranya di Masa Raya Paskah ini kita kembali menyadari bahwa separah-parahnya kita, senakal-nakalnya kita, dan sehancur-hancurnya kita, sebenarnya ada satu pribadi yaitu Bapa sendiri, yang akan selalu menyambut kita untuk datang dan bertobat kepada-Nya. Ibarat perumpamaan tentang anak yang hilang di Alkitab.

Photo by Julie Johnson on Unsplash

Bapa. Ya, satu kata empat huruf.

Bapa, mengapa bukan Tuhan? Mengapa bukan Yesus?

Mengapa kita memanggil-Nya Bapa?

Memang sedekat itukah kita dengan Tuhan, sampai-sampai kita bisa memanggil-Nya Bapa?

Previlege yang betul-betul indah, kupikir.

Tetapi sayang, hanya sedikit dari kita yang sadar akan privilege ini.

Betul memang, Tuhan telah menjadi Bapa di dalam hidup kita, tetapi seringkali kita merasa bahwa Tuhan itu tidak ada.

Jangan khawatir. Ternyata Tuhan sangat peka terhadap anak-anakNya. Dia menghadirkan figur Bapa yang dimiliki-Nya kepada....ya, betul. Orang tua.

Yakin? Tapi seberapa banyak diantara kita yang ’angkat tangan‘ di dalam menghadapi orang tua kita sendiri? Ya, jujur termasuk saya sendiri! Menghadapi orang tua yang semakin hari semakin ’unik‘ pun membutuhkan banyak kesabaran dari anaknya.

Di sisi lain, Tuhan kan, Tuhan. Manusia kan, manusia. Orang tua juga kan, orang tua. Jadi, harus bagaimana?

Sebenarnya, nggak gimana-gimana, sih. Hanya perlu mengampuni dan menerima kekurangan dari orang tua kita, seperti layaknya Tuhan yang mengampuni dan menerima kekurangan dari kita sendiri. Maka dari situlah Hati Bapa bisa terwujud.

Photo by Dimitri de Vries on Unsplash

Tetapi tidak semudah itu, Ferguso!

Kenyataannya, orang tua juga manusia berdosa; tidak ada yang sempurna, dan kita juga tidak bisa memilih untuk lahir dari orang tua dan keluarga yang mana, ya, kan?

Ah, orang tuaku ’seperti ini‘, tidaklah seperti yang aku harapkan. Mereka tidak seperti orang tua yang terlihat sempurna dan akur. Sebenarnya, figur Bapa mana yang aku dapatkan? Hayo, loh!

Sayangnya di luaran sana, mungkin banyak orang-orang yang kehilangan figur orang tua, dan akhirnya mencari ’kasih Bapa‘ itu dalam diri orang lain (bisa jadi ditemukan di dalam yang-katanya-pasangan-hidup) yang sayang sekali sering ditemukan di dalam diri orang yang salah. Ujungnya adalah kekecewaan, pelampiasan, hingga yang paling parahnya, rasa ketagihan alias tidak ada puasnya. Sungguh malang.

Yohanes 15:5b mengatakan bahwa Allah adalah pokok anggur dan kita semua adalah ranting-rantingnya. Ia adalah role model, sumber dari berkat, dan Ia memperhatikan kita. Sungguhlah beruntung kita memiliki Tuhan Yesus, apalagi yang bisa kita sebut Bapa, yang bisa kita datangi kapanpun dan di manapun.

Photo by Jordan Whitt on Unsplash

Selain itu, ternyata Tuhan juga mengajar, mendisiplinkan kita, dan mengakui kita sebagai anaknya. Ia mengajar, menujukkan jalan kebenaran, dan memberi nasihat kepada kita. (Mazmur 32:8).

Jadi seburuk-buruknya orang tua kita, ingatlah bahwa ada Tuhan yang merupakan role model, yang tinggal di dalam hati orang tua kita. Tuhan memiliki rencana di balik hadirnya kita melalui orang tua kita. Jangan menolak dan bosan akan didikan Tuhan, karena Tuhan memberi ajaran kepada mereka yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayanginya (Amsal 3:11-12). Sekalipun sulit, jika hubungan orang tua dengan anak pulih, percayalah bahwa hubungan kita dengan Tuhan juga akan pulih.

Orang tua adalah wakil Tuhan di dunia ini. Maka kita juga harus hormat kepada ibu dan ayah--keduanya—bukan hanya kepada salah satunya, agar kita panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan bagi kita. Bukan kebetulan, sama seperti salah satu dari hukum Tuhan.

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER