Jumlah Penonton: Tujuan atau Bonus?

Best Regards, Live Through This, 23 August 2020
"Buat konten ini-itu biar banyak yang menonton; tapi kaitan konten dan hubungan pengurus sama Tuhan, gimana?"

Semenjak pandemi, kegiatan di gereja memang banyak dikurangi. Perjumpaan-perjumpaan yang melibatkan orang banyak digantikan secara online, sesuai dengan arahan dan aturan pemerintah. Tak terkecuali kegiatan persekutuan pemuda di tempat saya, yang biasaanya diadakan setiap hari Sabtu pun terpaksa diubah menjadi online

Berangkat dari kebijakan tersebut, saya dan teman - teman yang tergabung dalam kepengurusan komisi pemuda remaja (komparem) pun memutar otak supaya tetap bisa  bersekutu bersama meskipun secara online. Banyak konsep persekutuan online:  mulai dari membuat podcast, membuat PA (Pendalaman Alkitab) secara online, menampung curahan hati pemuda remaja kemudian dikemas menggunakan reka adegan, mengadakan kuis Alkitab dan lain sebagainya. Semuanya kami lakukan agar keimanan pemuda-remaja gereja kami di tengah pandemi dan situasi yang tak kunjung membaik ini tetap bisa terjaga.


Berada dalam situasi yang pelik ini, kami pun sebagai pengurus pemuda remaja menyadari bahwa kami dihadapkan pada 2 pilihan: Pertama, menjadikan masa ini sebagai masa beristirahat sejenak dari segala kegiatan kepemudaan di dalam gereja, atau yang kedua, menjadikan masa ini untuk bekerja secara extaordinary seperti pesan bapak Presiden Jokowi untuk para menterinya. 

Dan Puji Tuhan, segenap pengurus memilih pilihan kedua, serta berkomitmen untuk terus menjaga pilihan kami itu. 

Meskipun, segenap pengurus memilih pilihan kedua, sebenarnya kami mengerti bahwa situasi ini merupakan situasi yang baru, karena sebelumnya tidak pernah ada yang namanya ibadah online . Namun,  pandemi ini menuntut semua anggota komisi "mendadak ngartis". Tentu, pada faktanya, kami menemukan usaha kami ini tidak mulus-mulus saja. Saat kami menjalankan sesi pengambilan gambar atau shooting, ada yang bingung mengatur kata kata apa yang akan diucapkan, grogi, tidak menguasai materi dan teknik berbicara, kehabisan ide untuk ibadah dan masih banyak lagi kritikan yang ditujukan kepada komisi yang kami rawat seperti anak sendiri ini.

Namun, dengan perlahan  kami belajar lagi supaya dapat menghasilkan content yang layak untuk dikonsumsi khalayak ramai. Sampai pada suatu titik di mana kami tidak puas dengan jumlah penonton content Youtube kami.  Minggu pertama mengunggah video, banyak antusias yang kami lihat. Hal ini dibuktikan dengan sebandingnya jumlah orang yang menonton video kami. Mulai minggu ke-enam, ke-tujuh sampai sekarang penonton-penontonnya malah semakin berkurang. Bahkan berkurang drastis. Padahal content yang kami suguhkan sudah variatif serta orang orang yang bertugas pun selalu berganti supaya yang melihat juga merasa tidak bosan. Kami pun tidak bisa menahan murka, kecewa, merasa tidak didukung dan merasa semuanya sia-sia.  Bagaimana tidak, kami merasa demikian, komitmen, usaha, kerja keras dan waktu sudah kami berikan tetapi hanya sekedar menonton dan menyukai video saja tidak mau. Begitu pikir kami pertama kali melihat penonton video yang hanya segitu-segitu saja. Apa sulitnya "ngelegani" pemuda yang sudah shooting setiap sabtu, mengedit video, mengunggah video, dan membuat content yang lain. Kami tidak menuntut untuk membantu menyebarkan video. Kami hanya berharap dan meminta mereka untuk hanya menonton saja. Semenit, dua menit cukup untuk kami. Setidaknya jika yang menonton video kami cukup banyak, itu akan membuat kami semangat.

           

Perasaan kecewa, tidak puas dan masih banyak gejolak lainnya itu bersarang di hati kami cukup lama.  Sampai pada suatu hari, saat saya bertemu dengan salah seorang majelis pendamping. Beliau mengatakan bahwa seluruh majelis sudah diwajibkan untuk menonton, menyukai serta men-subscribe channel Youtube kami. Saat mendengar berita tersebut, tentunya saya sangat senang, karena merasa diperhatikan. Namun, setelah melihat ekspresi gembira saya, bapak majelis tersebut mengatakan hal yang seolah-olah menampar saya, yaitu “Buat banyak content  ini-itu biar banyak yang menonton, tapi maknanya dan hubungan pengurus sama Tuhan gimana?"

Perlahan, kami, khususnya saya, diingatkan kembali pada tujuan awal dalam membuat content Youtube itu. Orientasi awal kami adalah berusaha memproduksi content/video supaya pemuda-remaja gereja kami bisa memenuhi kebutuhan Firman, yang secara onsite mungkin belum bisa mereka dapatkan. Lalu di tengah jalan, orientasi awal tersebut berubah seolah mengikuti dunia.

Bercermin dari berbeloknya tujuan itu, seketika kami teringat pengutusan yang sering diucapkan ketika ibadah hampir usai yaitu ketika Pembawa Firman berkata "Arahkanlah hatimu kepada Tuhan", kami sebagai jemaat selalu berkata dengan lantang dan mantap "Kami mengarahkan hati kami  kepada Tuhan". Namun ketika seusai ibadah dan benar-benar dihadapkan pada situasi yang memang harus "Mengarahkan hati kepada Tuhan" kami malah seperti seorang gadis yang menunggu mempelai laki laki tanpa membawa minyak, yaitu tidak bijaksana.

Menyadari orientasi kami yang sudah keluar dari garis yang ditentukan, ingin sekali rasanya kami membuka peta lagi, supaya sampai di tujuan awal kami. Dahulu saya pernah mendengar khotbah salah satu pendeta ternama yang demikian “Tuhan itu seperti peta, kalau kita salah arah Tuhan tidak akan membawa kita ke garis start atau tempat dimana kita memulai langkah kita. Tetapi Tuhan akan menunjukkan jalan lain supaya kita bisa sampai di tujuan awal kita”. Jika saya menghubungkan dengan khotbah tersebut, saya merasa memang benar, dan saya pun percaya. Orientasi saya dan teman-teman saya terkait jumlah viewer atau jumlah penonton hanya sesaat. Ada tujuan baik yang memang kami pegang bersama yaitu agar kebutuhan Firman pemuda remaja tetap terpenuhi. Mau melihat atau tidak adalah keputusan individu. 

Mungkin keadaan yang saya uraikan di atas juga sering kali dialami oleh semua orang. Niat hati mau menyenangkan Tuhan, namun lama lama merasa sudah melakukan ini-itu untuk Tuhan dan malah menjadi angkuh, menjadi seenaknya bahkan tak jarang menjadi bebal karena merasa benar sudah kerja dari A sampai Z. Solusi paling baik, menurut saya, adalah jika sedang berada di masa seperti itu, kita harus cepat-cepat membuka telinga dan hati, karena terkadang Tuhan dapat menegur kita. Akhir kata, saya menyadari bahwa jumlah penonton hanya bonus dari Tuhan, dan bukan menjadi tujuan utama. Semoga teman-teman pengurus lainnya juga berpandangan yang sama serta senantiasa berusaha membuat content yang berbobot bukan demi penonton namun untuk kemuliaan nama Tuhan.


Semoga Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita semua. Amin.



LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER