Hati yang Rapuh #2: Siap Berproses!

Best Regards, Fiction, 20 March 2021
Janganlah takut berproses, tapi takutlah ketika kita menolak proses itu, karena kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh lebih baik

         Seperti tanah liat yang dibentuk menjadi gerabah yang indah, seperti itulah hati kita. setelah  membaca Hati yang Rapuh  #1, kita bisa belajar dari whilo bahwa hati kita begitu mudah dibentuk (dari hati yang utuh - menjadi rapuh dan mudah pecah – lalu menjadi utuh lagi, tapi dengan bentuk yang baru dan unik) oleh diri kita ataupun lingkungan disekitar kita. Dalam Hati yang Rapuh #2 ini, kita akan belajar dari sebuah tanah liat. Karena biasanya beberapa dari kita sering kali melihat gerabah dan memuji keindahannnya, namun lupa melihat bagaimana proses yang terjadi sebelumnya.

               Pada suatu waktu, sebuah tanah liat dipilih oleh si pembuat gerabah. Tanah liat ini diproses sedemikian rupa, dari digiling - dibentuk – dijemur – dibakar- lalu penyempurnaan. Saat kita melihat proses pembentukan tanah liat ini, menjadi gerabah yang memiliki nilai jual tinggi dan berguna, kita akan tersadar bahwa proses yang dialami dan dirasakan tanah liat ini begitu lama dan berat. Namun kita melihat “tanah liat” menerima dirinya dibentuk melalui proses yang lama dan berat itu. Nahh, sama seperti tanah liat, hati kita pun juga memiliki proses selama kita hidup, dan bisa dibilang proses itu ada yang menyenangkan dan tidak. Proses yang terjadi pun kadang membuat hati kita rapuh bahkan pecah.


Bagaimana berproses dengan benar?

           Namun, terlepas dari bagaimana perjalanan prosesnya, hasil yang kita dapat pasti baik dan berguna bagi diri kita  bahkan lingkungan sosial kita,  ketika kita mau menerima proses itu dengan baik dan bertanggung jawab. Karena pengalaman kita saat berproses itu akan membangun, merubah dan merenovasi konstruksi hati kita. Sekalipun dalam proses, kita malah merapuhkan bahkan memecahkan hati, itu bukanlah sebuah kekeliruan yang  harus disesali sampai membuat down hehe, karena sebenarnya disitulah letak proses kita mengkontruksi  hati kita supaya lebih indah dan lebih kuat. Bisa dibilang setelah kita berproses, kita bisa menjadi individu yang lebih mempersiapkan diri dan menerima segala hal dalam hidup. kita juga bisa mengasihi diri dan orang lain dengan lebih baik lagi


Apa yang terjadi jika proses itu tidak terjadi?

           Betul sekali. Tentu saja tanah liat itu tidak akan berubah, bahkan mungkin akan mengering dan tidak berguna. Begitupula  dengan hati, jika kita tidak pernah mau atau bahkan menolak untuk berproses, yang terjadi adalah kita tidak pernah berkembang dan sekali waktu mendapat hal baru yang berat dan tidak sesuai, kita akan menjadi individu yang berhati dingin bahkan kehilangan hati, yang bisa saja merugikan diri kita ataupun lingkungan sosial kita. dan bisa dibilang ketika kita menolak proses yang sebenarnya membuat kita menjadi individu lebih baik, itu adalah sebuah kerugian. Karena kita takut untuk berproses, kita akan kehilangan salah satu kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang.

Kalau begitu sebelum hal itu terjadi, sepertinya ayat yang akan aku berikan ini dalam

Ulangan 31:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah  yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. 

Hal ini membuat kita semangat dan tidak takut untuk berproses menjadi individu lebih baik. Karena Tuhan saja sudah menyertai kita, jadi ketika kita menghadapi proses yang sulit, Tuhan setia menyertai dan memberikan tanganNya untuk menolong kita. Sekalipun proses itu membuat hati kita rapuh dan pecah, hal itu wajar. Karena setiap proses membuat hati kita memiliki bentuk yang baru, indah dan unik. Dan tentu saja kita juga harus mengingat bahwa selama kita hidup proses itu pasti ada (dan tidak mudah), terus memperbaharui hati kita terus membuat kita bertumbuh menjadi individu yang semakin berguna bagi sesama. Sehingga, melalui tanah liat kita bisa belajar dan melihat bagaimana proses itu tidak selamanya merapuhkan dan memecahkan, caranya berproses dengan baik, dan melihat bagaimana jika kita tidak mau berproses. Janganlah takut berproses, tapi takutlah ketika kita menolak proses itu, karena kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh lebih baik. Jadii? Mari berproses guys, aku yakin kita pasti bisa karena TUHAN ada selalu bersama kita

<3 Love, Tanah Liat

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER