Perjalanan ke Emaus: Sebuah Pencarian dan Perjumpaan

Best Regards, Live Through This, 15 May 2019
Tanpa kita sadar kita memiliki sebuah perjalanan ke Emaus kita masing-masing.

Setiap satu minggu sekali, morning report di rumah sakit tempat saya menjalani internship dulu selalu ditutup oleh sebuah renungan yang dibawakan oleh seorang profesor berkebangsaan India. Saya selalu menantikan-nantikannya. Bukan saja karena isi dan penyampaiannya yang selalu menarik, namun juga karena untuk sejenak—selama sepuluh hingga lima belas menit, saya dapat melupakan seluruh beban dari pasien-pasien di bangsal.

Kira-kira satu tahun lalu, dalam masa-masa 40 hari diantara peringatan kebangkitan Kristus dan peristiwa kenaikanNya ke surga, beliau membawakan sebuah renungan sederhana yang masih membekas jelas dalam ingatan saya hingga hari ini. Renungannya dimulai dengan sebuah kalimat sederhana,”He is a God that walks with us”

Ia mengajak kami untuk membuka Lukas 24: 13-35. Sebuah kisah yang tak asing—tentang Yesus yang menampakkan dirinya kepada kedua murid dalam perjalanan ke Emaus.

Photo by Devin Avery on Unsplash

“Could you imagine how were they feeling at the time?” Ia bertanya dalam logat India yang kental. Kisah perjalanan ke Emaus terjadi pada hari yang sama setelah Yesus bangkit—setelah Maria dan perempuan-perempuan lain mendapati kubur Yesus telah kosong. Kedua murid yang tengah dalam perjalan ini tentu punya beribu rasa yang berkecamuk dalam diri mereka. Sedih, takut—Tuhan yang mereka kenal telah mati di kayu salib; kecewa, putus asa—kedua murid ini meyakini Yesus adalah Mesias yang akan membebaskan Israel, namun kini harapan mereka hancur bersama dengan duri dan cambuk yang meremukkan tubuh Yesus; bingung, ragu—para perempuan memberitahu mereka bahwa kini kubur Yesus telah kosong. Apa yang terjadi? Begitu kalutnya semua emosi itu, hingga mereka tak menyadari bahwa Yesus datang dan turut berjalan bersama mereka.

Photo by John Robert Marasigan on Unsplash

Rasanya setiap dari kita pun memiliki perjalanan ke Emaus kita masing-masing. Sebuah perjalanan hidup yang diliputi kecemasan, penuh tanda tanya, dan bahkan mimpi-mimpi yang terenggut. Seperti kedua murid yang hancur hati karena tadinya berharap Yesus akan membebaskan bangsa Israel, kita pun menjadi gentar akan masa depan saat harapan-harapan kita tak tercapai. Kita meragu saat tak berhasil masuk ke universitas yang kita impikan; marah saat hubungan kita dan pasangan tak berjalan baik; undur iman saat tak juga dikarunia keturunan; putus asa saat kondisi keuangan terpuruk; tawar hati saat kehilangan pekerjaan; dan seterusnya.

Seperti kedua murid yang berharap Mesias membebaskan Israel namun gagal menyadari bahwa sesungguhnya kematian-Nya telah membebaskan kita dari maut. Kita begitu sibuk bergelut dengan segala harapan yang kian lenyap, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya rencana Allah sungguh melampaui harapan dan impian kita. Dengan begitu mudahnya kita terseret bersama dengan harapan-harapan yang surut, hingga tak menyadari bahwa sesungguhnya tangan-Nya tak pernah berhenti terulur untuk merangkul kita. Ia adalah Tuhan yang ada dalam setiap langkah kalut dan tertatih yang kita tempuh, yang ada dalam setiap perjalanan yang menakutkan bagi kita, dan yang terpenting Ia adalah Tuhan yang selalu menemukan kita lebih dulu bahkan sebelum kita menemukan-Nya.

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]i.com

READ OTHER