Tentang Dorongan Mengakhiri Hidup dan Menjadi Kawan dalam Kelemahan

Best Regards, Live Through This, 18 May 2019
"Rasanya gue pengen narik dia ke ruang UGD biar dia liat tuh banyaknya orang yang berjuang buat tetep hidup!" demikian teman saya pernah geram melihat serangkaian Instagram stories dari seseorang yang kami kenal depresi dan kerap mencurhatkan keinginannya untuk bunuh diri di media sosial.

Ya, orang yang suicidal umumnya dicurigai hanya sedang (dan senang) mencari perhatian. Kalangan persekutuan pun tak luput dari asumsi ini. Saat berbicara dengan mereka yang bergumul dengan isu bunuh diri, ada tendensi untuk segera mengutip ayat Alkitab, mengungkit api neraka, maupun membanding-bandingkan kondisi jutaan manusia di luar sana yang hidupnya jauh lebih merana.

Premis tersebut memang masuk akal, tapi saya pikir tidaklah empatik apalagi menjawab kebutuhan. Fenomena depresi dan suicidal  itu nyata, teman. Bahkan bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Bukan sekadar sambatan di sela keseharian. Bukan untuk dijadikan bahan lawakan di atas mimbar.

WHO mencatat sedikitnya ada 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri per tahunnya. Orang Kristen di seluruh dunia tidak luput dari data ini dan tidak imun dari berbagai kemungkinan mengulangi tindakan suicidal. Penjelasan mengenai faktor-faktor penyebab depresi juga sangat kompleks, baik dari sisi spiritual, maupun fisiologis.

The good part is, suicide is preventable. Fakta bahwa orang yang suicidal masih membicarakan perasaannya merupakan tanda bahwa mereka punya secercah keinginan untuk tetap hidup. Lalu bagaimana kita dapat mengambil bagian dalam pencegahan maupun pemulihannya?


Photo by Jordan McQueen on Unsplash


1. Being a Support System

Suicidal atau tidak, setiap orang membutuhkan dukungan yang berarti. Jadilah pendengar yang mengijinkan orang lain memproses macam-macam emosinya dengan leluasa. Biarkan temanmu tidak menahan-nahan kepedihannya, menyembunyikan trauma masa lalunya, menyangkali kemarahan terpendamnya, maupun mencoba lari dari tumpukan masalahnya. Dengan mencerna dan melepaskan emosi-emosi tersebut secara utuh bersama seseorang yang menawarkan ruang aman, beban mental mereka setidaknya dapat berkurang.

What may seem trivial to one person can be the end of the world to another. Sebaiknya kita tidak membanding-bandingkan luka, karena resiliensi mental tiap orang berbeda-beda. Keretakan saya dan kamu punya wajahnya sendiri-sendiri. Itulah celah bagi kita untuk meneguhkan satu sama lain.


Photo by Ben White on Unsplash


2. Try to Figuring out What the Core Problem is

Pilihan untuk bunuh diri kerap dianggap sebagai solusi permanen atas masalah atau luka yang temporer. Pada tahap ini, kita dapat membantu teman kita pelan-pelan menguraikan benang kusut yang berkelindan dalam kepalanya. Kita bisa menanyakan masalah apa yang ingin diselesaikan, keinginan apa yang tak sempat tersampaikan, kondisi apa yang telah mengecewakan, dan sebagainya.

Jika ternyata problem tersebut membutuhkan intervensi pihak lain, kita perlu meminta consent mereka agar dicarikan solusi. Bantuan profesional dari pihak ketiga (konselor, psikolog, atau psikiater) juga sangat bisa dipertimbangkan. Di Indonesia, stigma buruk terhadap penyakit mental membuat banyak orang enggan melangkahkan kaki ke klinik psikologi. Padahal, bisa jadi langkah tersebut akan membukakan banyak hal yang tidak bisa kamu ungkap sendirian. 


Photo by Allef Vinicius on Unsplash


3. Standing Still (Keep Ourselves Sane!)

Mendampingi orang yang depresif dan suicidal sudah pasti menguras energi positif kita. Secara tidak sadar kita bahkan bisa menyerap emosi negatifnya lalu jadi burned out. Kita harus terus berdoa memohonkan kesanggupan sepanjang pendampingan. Kita bukanlah juruselamat. Kita adalah media. Membentengi diri sendiri dengan persekutuan atau tim doa yang suportif dapat menjadi opsi bijak untuk menghimpun kekuatan.

Sebagai sesama bejana retak, kita  pasti punya keterbatasan dalam berempati dan berbela rasa. Ada saja lapisan dari penderitaan orang lain yang sulit kita pahami. Mungkin, kita juga tergoda untuk segera mengakselerasi pemulihan dan memaksakan perubahan. Namun, Imam Besar Agung itu telah menjadikan Pribadi-Nya relevan dengan pelbagai bentuk kelemahan. By putting our hope in Him, each of us is enabled to make a difference in someone's life, one step at a time.


Photo by Mike Erskine on Unsplash


Di titik tergelap dalam musim hidup saya sendiri, teman-teman terdekat saya menjadi pengingat bahwa Injil bukan saja tentang ketersediaan kekuatan, tetapi juga kebebasan untuk mengakui kebobrokan diri sendiri. Bahwa kita tidaklah sesuci yang kita pikirkan, sekuat yang kita harapkan, dan setulus yang kita idamkan. Tiap kita membutuhkan penerimaan tak bersyarat atas segenap kebobrokan itu, dan penerimaan yang utuh yang hanya dapat kita jumpai pada salib Kristus.

Kasih yang otentik adalah bekal terbaik yang teman-teman saya tawarkan selama saya "berjalan pulang". Karena Allah sudah lebih dulu mengasihi mereka secara habis-habisan, mereka pun menolak menyerah untuk mengasihi saya juga. 

Kasih yang otentik membuat mereka setia menggenggam tangan saya di lembah kekelaman. Dan sepanjang menapaki lorong gelap, merekalah yang membisikkan pengharapan: "This too shall pass, Ruthie. This too, shall pass..."

LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER