Paskah: Bukti Yesus adalah Tuhan

Best Regards, Live Through This, 18 April 2022
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan ketika kamu dianggap sebagai pahlawan? Kamu mesti menahan diri, untuk tidak dikendalikan oleh emosi pada saat terjebak di situasi yang tidak kamu inginkan terjadi. Lalu mungkin kamu harus berjuang sendiri karena yang lain terlalu takut untuk berinisiatif dan mengambil langkah berani. Juga seringkali kamu akan dijauhi oleh orang-orang yang tadinya berkata 'akan selalu mendukungmu walau apapun yang terjadi'. Percayalah, tidak ada orang yang mau menjadi pahlawan..." (Kayaknya sebuah dialog di film: Die Hard)

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat Agung beliau biasanya berkata dalam kotbahnya, kurang lebih: "Kalau saya jadi Yesus, ketika banyak orang mengolok-ngolok: 'Turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!', saya pasti akan turun lalu menempeleng mereka satu per satu, terus naik lagi ke kayu salib. Lha wong saya Tuhan, berkuasa atas langit dan bumi beserta segala isinya, mosok turun dari kayu salib gak bisa? Tapi untungnya saya bukan Yesus."
Sebagai manusia, saya pernah juga gak bisa menyelami pikiran Sosok Paling Berkuasa, tapi rela mati setelah disiksa sampai segitunya...

...sampai segitunya hingga beberapa orang suka skip kalau menonton adegan penyaliban di film Passion of Christ karena gak tahan dengan kekerasan yang dipertontonkan. Salah satunya ketika adegan pencambukan, di mana sang algojonya saja sampai kelelahan saat melaksanakan hukuman. Lalu adegan kaki dan tangan dipakukan di kayu salib. Mungkin, jika saat itu sudah ada Komnas HAM, hukuman kepada Tuhan Yesus Kristus pasti sudah dimasukkan dalam golongan pelanggaran HAM sangat berat. Karena tidak ada lagi kosakata dalam bahasa manusia untuk menggambarkan penyiksaan yang sedemikian sadis dan brutal, kepada Tuhan Yesus di kala itu. Bahkan dulu saat di awal-awal filmnya dipertontonkan, tak jarang beberapa orang menangis sesenggukan.


Kalau memang Yesus harus (menerima hukuman) mati, agar tujuan-Nya ke dunia ini tergenapi, mengapa Yesus mau menerima siksaan sampai segitunya sih? Bukankah sebagai Anak Allah, Ia bisa menegoisasikan yang akan diterima-Nya sebagai ganti dosa manusia? Misal gak perlu diping-pong mondar mandir dengan alasan mau diadili, akibat pada bingung masalah yurisdiksi... atau gak usah pakai disiksa dan dicambuk sebelum disalib... juga gak pakai acara diludahi atau bahkan dikasih mahkota duri.

Kenapa Yesus harus disiksa lahir dan batin sampai segitunya, karena ya realitanya dosa-dosa manusia ternyata juga sampai segitunya; bahkan beberapa dosa tidak bisa terkatakan lagi dalam bahasa manusia. Sebutlah saja beberapa yang terjadi di Indonesia:

- Seorang majikan mengurung karyawan-karyawannya di dalam kandang seperti binatang,
- Seorang pria menyiksa dan membunuh pacarnya, bahkan ia melakukannya dibantu oleh selingkuhannya, dan membuang mayatnya begitu saja di pinggir jalan,
- Seorang ayah memperkosa anak kandungnya akibat kecanduan film porno,
hingga
- Ada seorang ibu yang membunuh anak-anak kandungnya dengan dalih kesulitan ekonomi.


Dan untuk itu semua, Tuhan Yesus rela disiksa sampai segitunya. Tuhan Yesus mau menerima hukuman yang membuatNya merasakan sakit yang sedemikian hebat. Bahkan dituliskan —hingga begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi— (yang pasti film “Passion of Christ” belum bisa memvisualisasikan seperti yang tertulis di kitab Yesaya 52:14). Ya, pikiran manusia (Mel Gibson) belum bisa menggambarkan hebatnya siksaan yang diterima Yesus dalam penghukumanNya... bahkan saya juga tak mampu lagi membayangkan bagaimana peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang sebenarnya.

Jadi kalau mendengar ada yang bilang: "Enak ya Tuhannya orang Kristen, disalib sehari aja lalu jadi Tuhan.", atau, "Kok katanya Tuhan, tapi matinya pakai disiksa dan ditelanjangi?", atau, "Nyembah Tuhan yang kok yang bisa mati?", saya cuma mau jawab: "Ya Dia memang harus mengalami itu semua, agar seberapa pun besar/kejam/sadis/jahat/kasar/biadab dosa-dosa yang pernah, sedang, dan akan dilakukan oleh umat manusia... Tuhan Yesus sudah menebusnya lunas saat Dia menerima salib sebagai amanat agung yang dengan taat dilakukanNya, tanpa keluhan atau bantahan. Supaya manusia gak perlu mengalami penghukuman yang sama akibat dosa-dosanya, agar hubungan manusia dengan Allah yang telah dirusak oleh dosa dipulihkan oleh pengorbananNya, agar segala sakit dan penyakit yang diderita manusia bisa disembuhkan oleh bilur-bilurNya. Dan yang terpenting dari itu semua, Dia bangkit dari kematianNya; itu sebabnya Dia adalah Tuhan."


Sehingga saya pikir peristiwa Paskah adalah yang terpenting dalam iman Kristiani. Ada peristiwa Natal karena tujuan akhirnya adalah peristiwa Paskah. Bahwa Yesus adalah Tuhan. Bahwa Yesus juga bisa merasakan yang manusia rasakan karena Dia juga manusia. Bahwa Yesus berkuasa atas hidup manusia. Bahwa Yesus juga berkuasa atas diriNya dengan bangkit mengalahkan maut setelah kematianNya.

Jika iman saya sedang goyah, lalu mempertanyakan hal yang sama: kenapa Yang Berkuasa atas umat manusia harus mengalami kematian yang menyeramkan di tangan manusia? Peristiwa Paskah selalu bisa menjawabnya. Atau kadang benak saya mempertanyakan: apakah karena peristiwa penyaliban satu hari itu yang membuat Dia dianggap sebagai pahlawan, lalu "diangkat" sebagai Tuhan karena sudah mau mengorbankan diriNya? Lagi-lagi peristiwa Paskah kembali menjawab keragu-raguan saya; bahwa Dia adalah Tuhan sejak awalnya, yang menggenapi serta taat pada Firman Allah seumur hidupNya, mau menerima hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuatNya, dan lalu bangkit dari kematianNya; jadi jika dipikir, bahkan dengan logika saya pun, tidak ada manusia yang bisa melakukan hal yang sama, tidak juga oleh mereka yang dianggap pahlawan oleh manusia.

Kiranya peristiwa Jumat Agung dan Paskah selalu bisa mengingatkan kita, seperti saya, yang selalu diingatkan oleh kematian dan kebangkitanNya, ketika realita hidup mulai mengarahkan pikiran dan iman kita untuk mempertanyakan seberapa besar kasih dan kuasaNya.


LATEST POST

 

Ignite People, dijumpai hari sulit selama hayat di kandung badan tidak menjadi masalah asal ada iman...
by Jeane Marlessy | 26 Jun 2022

Photo by Nick Fewings on Unsplash Ya Bapa, aku datang ke hadapan-Mu tanpa jemu-jemu.Engkau tah...
by Ms. Maya | 26 Jun 2022

Hai Ignite People! Apa kabar kalian?Ternyata, sudah hampir setahun aku ga menulis.Sempat bingung mau...
by Regina Megumi | 26 Jun 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER