Lidah Buayaku

Best Regards, Fiction, 06 September 2020
Semua itu ada WAKTUNYA TIDAK ada yang ABADI

Gambar ini adalah gambar salah satu bunga lidah buaya yang ada di rumah saya waktu itu. Tanaman lidah buaya ini tumbuh sangat subur di halaman belakang rumah saya. Banyak tetangga dan saudara saya yang datang sesekali untuk meminta lidah buaya, entah untuk rambut atau untuk dibuat minuman. Jadi pada waktu itu keberadaan tanaman lidah buaya ini sangat wajar dan tidak membutuhkan effort khusus untuk merawatnya, karena lidah buaya saya tidak akan mati meskipun musim kemarau sekalipun. Tanaman ini hanya bertambah kurus dan memerah. Dan ketika musim hujan tiba, tanaman ini kembali hijau dan gemuk seperti biasa.

Saking suburnya tanaman ini, sampai ketika musim apa tepatnya saya lupa, ia mengeluarkan bunga. Saya tidak pernah melihat bunga lidah buaya sebelumnya. Bunganya itu terdiri atas bulir-bulir merah. Sering para burung hinggap untuk mengambil bunga ini. Saya tidak memfoto ketika bunga ini sedang indah-indahnya, namun saya justru mengabadikan ketika bunga ini sudah mengering. Menarik menurut saya untuk dilihat.

Suatu hari rumah saya akan dibangun, sehingga semuanya diurug karena tanah rumah saya akan ditinggikan. Sempat terlintas di pikiran saya, bagaimana kabar tanaman lidah buaya itu. Kemudian saya lupa karena begitu banyak urusan lain, seperti pindahan rumah, yang perlu saya kerjakan.

Ketika rumah sudah jadi, barulah saya sadar tanaman lidah buaya itu sudah tidak ada. Lagipula karena lahan untuk rumah diperbesar, jadi space untuk tanaman hampir tidak ada. Ketika melihat tanaman lidah buaya orang lain, yang dulunya saya merasa sangat biasa, sekarang saya langsung teringat pada tanaman lidah buaya saya dulu. Banyak sekali saya mengamati tanaman lidah buaya orang lain, tetapi tidak ada yang sesubur tanaman saya. Lidah buaya orang lain cenderung kurus, kecil, dan tidak berbunga. Sebenarnya saya cukup sedih, tapi ya sudahlah.

Ini mengingatkan saya tentang semua itu ada waktunya, ada masanya. Tidak ada yang abadi. Ada waktu untuk menikmati tanaman yang sedang subur-suburnya, tanpa harus membeli pupuk atau mempunyai jadwal teratur untuk menyiram, bahkan sampai tanaman ini berbunga, padahal jarang sekali ada tanaman lidah buaya yang berbunga.

Terkadang manusia pun demikian. Ibu, ayah, saudara, semuanya biasa. Pertengkaran setiap hari dianggap menyusahkan hati, karena perbedaan pendapat, atau mungkin karena keegoisan diri sendiri. Padahal ada saatnya, di mana kita tidak akan selalu bersama. Kita akan berpisah. Sesama saudara mungkin akan berpisah karena mengejar karir, atau memiliki keluarga sendiri. Ini adalah berpisah, namun masih bisa bertemu. Bagaimana dengan orangtua kita? Setiap hari sederet list kelemahan kita pikirkan tentang mereka. Namun apakah kita sadar bahwa ibu maupun ayah tidak abadi? Akan ada di satu titik di mana waktu sudah hampir habis. Kesempatan untuk menyayangi lebih atau menghormati lebih sudah bisa dihitung hari.


Sekarang mungkin kita mengelak. "Aku bisa mandiri, tidak perlu bantuan." Namun apakah kita sadar, bagaimana mungkin sekarang kita ada, kalau bukan karena ibu, ayah, saudara dan semua orang yang lain, yang berada di sekeliling kita, yang terus menerus mengasuh dan mendidik kita sehingga menjadi seperti sekarang?




 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER