Futurama dan Pembelajaran dari Manusia abad Ke-31

Best Regards, Live Through This, 27 August 2020
Tak disangka, niatnya nonton malah jadi belajar dari kartun keren ini!

Futurama adalah serial animasi yang menggambarkan kehidupan manusia di abad ke-31. Pertama kali mengudara di Fox tahun 1999, Futurama cukup sukses menghibur penonton selama 7 musim dengan tipikal komedinya yang "dark" dan "Intelligent". 

Cerita dalam Futurama berkisar pada kehidupan Fry, seorang pengantar pizza yang secara tidak sengaja dibekukan pada penghujung tahun 1999 dan terbangun 1000 tahun kemudian pada tahun 3000. Bumi dan masyarakat di dalamnya telah mengalami banyak perubahan, robot dan alien kini hidup dan berinteraksi setara dengan manusia, teknologi pun memberikan kesempatan bagi manusia di bumi untuk berpetualang melintasi angkasa ke berbagai planet fantatis. Namun, ternyata, kehidupan di abad ke-31 tidak semudah yang dibayangkan. Seringkali dalam seri ini Fry seakan menjadi "ikan yang keluar dari air", berpegang pada kebiasaan, pemikiran, dan kemampuan abad ke-20-nya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang aneh bin ajaib seperti jatuhnya meteor sampah ke bumi, misi penyelematan spesies hewan suatu planet dari kepunahan seperti Nuh, paradoks perjalanan waktu, dan lain sebagainya.

Sembari menonton Futurama secara marathon di masa pandemi ini, saya tiba-tiba terpikir untuk menulis artikel ini guna mengambil makna yang lebih dalam dari tontonan sehari-hari saya. Menurut saya ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil dari kartun yang meskipun tampak sederhana di permukaan, namun sarat akan makna ini.


Pembelajaran pertama yang saya temui adalah mengenai perbedaan dan toleransi. Meskipun bumi masih mayoritas berpopulasi manusia di tahun 3000 versi Futurama, namun alien dan robot dapat hidup berdampingan bersama manusia di dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan masa depan yang menurut saya sangat cerah, jika dibandingkan dengan dunia kita saat ini di mana masih sering kita temukan adanya prasangka, apriori, dan diskriminasi terhadap satu sama lain manusia yang berbeda dengan kita secara ras, gender, suku, ataupun kepercayaan. Bayangkan, apalagi jika ada robot dan alien di masyarakat kita seperti di Futurama? 


Dalam Futurama, para karakter seringkali harus menghadapi permasalahan yang hanya dapat diselesaikan dengan kerjasama dan saling menghargai antar berbagai tokoh dengan latar belakang yang berbeda, baik robot, alien, ataupun manusia. Menurut saya, hal ini mengajarkan kita pentingnya menghargai berbagai pihak dengan perspektif yang berbeda-beda, bahkan berseberangan dengan opini kita sendiri. Lebih jauh kita pun harus lebih sering menempatkan diri kita dalam sudut pandang orang lain, menghargai pendapat yang berbeda, dan berempati dengan perasaan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sama seperti yang dilakukan Fry dengan berempati terhadap berbagai spesies yang berbeda, bahkan dengan sesamanya manusia dari zaman yang berbeda. 


Adapun jika Futurama adalah gambaran masa depan bumi, maka saya rasa kita semua dapat berbahagia bahwa akhirnya setelah 1000 tahun, umat manusia dapat menyadari bahwa terdapat banyak permasalahan yang lebih besar dan urgen untuk mereka selesaikan bersama, dibanding mengglorifikasi dan mempertahankan perbedaan dangkal yang selama ini menjadi dasar pemisah sesama umat manusia. Menyadari pentingnya hal ini, mampukah kita mengubah 1000 tahun tersebut menjadi 100 tahun? 100 menjadi 10 tahun? Hanya waktu yang bisa menentukan ;)

Pembelajaran kedua yang saya ambil dari Futurama adalah terkait hidup di saat ini, living in the moment. Salah satu tema sentral yang diangkat dalam Futurama adalah mengenai kehidupan Fry sebelum dan sesudah Ia membeku; keluarga yang ia tinggalkan, teman-teman barunya, dan juga berbagai musuh antar-galaksi yang harus Ia hadapi. Menurut saya kita semua dapat belajar banyak hal mengenai adaptasi dan living in the moment, dari seorang Fry. Episode-episode paling emosional dari Futurama, adalah yang menggambarkan mengenai kehidupan Fry di masa lalu dan dampaknya bagi Fry di abad ke-31. Fry mungkin bersedih dan berduka mengingat kehidupannya yang hilang, namun Ia tidak pernah terlalu lama hidup di masa lalu (secara literal dan juga figuratif). Hal ini baik karena adanya tuntutan situasi, maupun karena sifat Fry yang easy-going, sehingga Ia selalu terus maju dan menghadapi masalahnya saat itu. Ia hidup di masa kini, terlepas dari tahun berapapun Ia hidup pada saat itu.  

Riset dari Harvard University menunjukkan bahwa 47% waktu kehidupan kita dihabiskan melamun memikirkan situasi selain dari hal yang sedang kita hadapi saat ini. Lebih lanjut studi yang sama mengatakan bahwa terlalu lama memikirkan mengenai masa depan ataupun masa lalu membuat manusia cenderung lebih tidak bahagia. 

Fry tidak bisa kembali ke masa lalu, Ia pun tidak memiliki waktu untuk memikirkan mengenai masa depan, karena ia sudah berada di masa depan yang jauh melampaui imajinasi tergilanya sekalipun. Ia bahagia hidup di saat ini, menyelesaikan satu permasalahan sebelum menyelesaikan permasalahan lainnya, dengan teman-teman barunya dari abad ke-31. Hal ini bukan berarti Ia melupakan kehidupan lamanya, namun ia menghargai kehidupan dan teman-temannya saat ini dengan hadir dalam kehidupan mereka dan hidup bersama mereka pada saat itu juga. 

Maka, untuk hidup yang lebih bahagia, sadar, dan penuh, tidak ada salahnya kita pun menerapkan pembelajaran dari Fry dengan secara sadar lebih memperhatikan keadaan, pemikiran, aktivitas, dan situasi kita sehari-hari, setiap waktunya, termasuk memperhatikan keadaan (baik fisik maupun mental) orang-orang terdekat di sekitar kita.

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER