Bersikap Mawas Diri à la Stoikisme di Masa Pandemi 👍

Best Regards, Live Through This, 01 August 2020
“…The world breaks everyone, and afterward, many are strong at the broken places.” – salah satu kutipan dari roman epik di tengah guncangan Perang Dunia I karya sastrawan besar Amerika Serikat, Ernest Hemingway, A Farewell To Arms (1929). Banyak dari karya penulisannya bergaya stoik, dengan menekankan “keanggunan dalam tekanan” pada tiap-tiap tokohnya.

Menyadari bahwa Indonesia telah menembus angka 100.000 lebih kasus yang terkonfirmasi per 27 Juli 2020, tentu bukanlah suatu hal yang dapat dimashyurkan. Hal ini menjadi tanda bahwa Indonesia telah mengungguli negara Cina, yang merupakan episentrum penyebaran COVID-19. Sungguh, kali ini prestasi tersebut tidaklah sama dengan unggulnya sejoli Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon menaklukan wakil Cina dalam laga ganda putra Asian Games 2018 lalu.


Sebuah kenyataan bahwa keadaan saat ini tentu mengguncang kemapanan serta keseimbangan-keseimbangan yang telah termanufaktur sebelumnya dalam kehidupan masyarakat. Berbagai desakan kesenjangan dalam kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, dan lain-lain ini, tentu memaksa pemerintah Indonesia menerapkan new normal. Namun, dalam perkembangannya sendiri, justru korban terdampak semakin melonjak. 

Realitanya, masyarakat seolah menganggap enteng ancaman pandemi. Hal ini ikut digemakan pula oleh beberapa public figure melalui formasi “teori-teori konspirasi” maupun klaim sepihak yang bersifat solipsistik dan terkesan tidak rasional. Sungguh ironis, ketika kita menyadari bahwa dalam kondisi genting seperti saat ini justru masih memperdebatkan kebenaran virus COVID-19, bahkan membentuk konstruksi gagasan pikiran awam yang tidak mawas diri.

Tentu saja hal ini mendukakan hati beberapa keluarga korban pandemi COVID-19, terlebih mereka yang sedang berjuang di garis depan saat ini. Secara rasional, virus tersebut merupakan substansi nyata yang sedang mengancam kita saat ini. Selagi kasus semakin meningkat secara signifikan, tidak ada cara lain untuk kita selain bermawas diri guna menjaga diri yang sekaligus memungkinkan juga untuk menjaga pribadi orang di sekitar kita.

Mari belajar dari filsafat stoikisme yang berkembang pada periode filsafat helenistik mulai abad ke-3 SM. Intisari ajaran kuno tentang kebijaksanaan ini berpusat pada kesadaran diri manusia sebagai bagian dari kosmos raya yang tidak mampu dikendalikan sepenuhnya dan bagaimana cara manusia untuk mengambil keputusan serta bertindak bijaksana sebagai respons atas segala peristiwa yang terjadi. Tokoh-tokoh dari mazhab ini diantaranya seperti Zeno dari Citium, Cicero, Epiktetos dan Marcus Aurelius, Seneca, dll. Berikut beberapa ide stoikisme yang mungkin dapat memberikan kesadaran serta manière de vivre atau "way of life"di tengah tekanan pandemi saat ini :

1. Kesadaran akan realitas absolut bernama "kematian"

Kematian menanti dan selalu mengintai setiap dari kita. Kematian merupakan kenyataan mutlak yang dialami oleh setiap makhluk hidup, dan tentu kenyataan tersebut tidak dapat dinihilkan dalam garis hidup kosmis. Di tengah situasi pandemi ini, barangkali makna kematian seolah masih abstain dari paradigma beberapa orang yang menganggap bahwa ancaman virus tersebut hanyalah omong kosong belaka. Hal ini mungkin dapat kita jumpai ketika kita mendapati beberapa orang yang acuh tak acuh dengan protokol kesehatan. Padahal, dengan demikian ia bisa saja mencelakai beberapa orang lain termasuk orang yang dikasihinya dalam relung kematian. 

Oleh karena itu, stoikisme mengajak kita untuk menghargai sekaligus merayakan kematian. Kita melihat kematian bukan sebagai momok yang menunggu untuk berkhianat, melainkan sebagai cara melatih diri kita untuk berkontemplasi terhadap keterbatasan eksistensi kita dan menciptakan hidup kita sebaik mungkin selama ajal belum mencengkeram kita.

2. Kesadaran akan bagian dari kosmos

Menurut bukunya, Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme (2019:18), A. Setyo Wibowo menjelaskan bahwa orang bijak merupakan ia yang menyadari dunia sebagai kosmos secara keseluruhan dan setiap ia menyadarinya, ia bertindak mengikuti perspektif universal (kosmik) karena merasa dirinya sebagai bagian dari kosmos. Dengan menyadari keberadaan diri sebagai bagian dari alam raya yang tidak sepi ini, kita mampu menghayati pentingnya keberadaan-keberadaan yang lain selain diri kita dan memungkinkan bagi nalar kita untuk menghargai individu lain di tengah pandemi ini, dengan cara bertindak tidak egois dan saling melindungi keberadaan kita ditengah ancaman situasi pandemi ini.

3. Berbagi kebahagiaan melalui berbagi keselamatan diri

Dalam konstelasi etika stoikisme, kebahagian merupakan salah satu puncak pencarian hidup. Namun, kebahagiaan bukan menjadi salah satu tujuan utama. Kebahagiaan bisa diciptakan bahkan bahkan dalam menghadapi momok ancaman kematian berupa virus tersebut. Dengan cara apa? Yakni dengan berbagi keselamatan diri, yang berarti kita tidak merenggut kebahagiaan orang lain untuk menghayati peziarahan hidupnya

Demikianlah melalui permenungan-permenungan stoik tersebut. Lewat ini, kita dapat menghargai kebertubuhan kita yang finitude, sebagaimana di dalam Kitab Pengkhotbah 9:10 telah mengajak kita untuk memaknai hakikat hidup secara menyeluruh.

"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."

Tuhan memberkati...


Best Regards :
Papa, yang selalu mengingatkan saya untuk bermawas diri.
Marco (Teologi UKDW 2018), kakak tingkat sekaligus kawan diskusi filsafat terbaik.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER