Nikah Usia Muda VS Nikah Usia Matang

Best Regards, Live Through This, 30 July 2020
Spiritualitas adalah penghayatan seseorang secara pribadi dalam memaknai dan menemukan tujuan hidupnya dalam keyakinan akan tuntunan dan kehadiran Allah di dalam proses penghayatan tersebut. Yang Namanya “penghayatan” pastinya dilakukan secara pribadi, merefleksikan setiap realita yang terjadi dalam hidup dan merenungkannya. Maka dari itu spiritualitas adalah hal yang sangat personal dan otentik.

“Nikah itu ya jangan kelamaan, kalau bisa nikah muda ya berarti bisa sukses di usia muda dong”. “Gak lah, nikah muda tu rentan cerai, nikah tu di usia matang, jadi sudah sama-sama dewasa”. “Broo, kalian semua udah punya pasangan? ☹”. 

Kira-kira begitulah obrolan tiga mas-mas yang pro-nikah usia muda, pro-nikah usia matang, dan yang masih jomblo. Kita sepakati dulu, nikah usia muda yang dimaksud adalah di antara usia 17-23 (kalau di bawah 17 kayanya perlu dilaporin ke KPAI), dan nikah usia matang adalah di usia 24+. Perdebatan ini menjadi topik panas dalam perbincangan para muda-mudi termasuk juga di kalangan Kristen. Ada yang bilang nikah yang ideal ya di usia muda, supaya sama-sama bisa meniti masa depan bersama pasangan, memacu diri untuk ‘sukses’ (biasanya finansial) di usia muda atau juga beranggapan supaya rentang usia dengan anak tidak terlalu jauh. Beberapa orang menyorot figur artis atau influencer yang ‘sukses’ dalam menjalani pernikahan di usia muda yang awet hingga belasan tahun dan tetap bisa berkarya (seperti Najwa Shihab misalnya).

Beberapa orang menolak untuk menikah muda, beranggapan bahwa menikah muda terlalu terburu-buru, rentan bercerai, dan menghambat ‘karya’ dan impian (biasanya perempuan). Kaum kontra ini juga bersumber dari public figure yang bercerai karena menikah di usia muda. Mereka beranggapan beberapa artis yang menikah di usia matang dianggap lebih bahagia, dan sudah ‘puas’ berkarya sehingga ketika menikah visinya tidak lagi visi pribadi melainkan visi bersama (Aura Kasih misalnya). Mereka menilai bahwa usia menikah yang ideal adalah di usia matang, yaitu ketika sudah mapan secara finansial, sosial, dan spiritual. Bagi kaum pro-menikah di usia matang, pernikahan harus dijalani dengan kedewasaan bersama dan kesiapan matang untuk menata masa depan sehingga usia bukanlah halangan bagi mereka.

Dua pendapat tadi saya dapatkan dari beberapa diskusi dengan teman (sekolah, kuliah, praktek berjemaat), perkataan para pasutri muda ataupun pasutri ‘senior’, dan pilihan hidup public figure. Kalau saya pribadi sih memang ga punya pilihan, karena ga bakal bisa nikah di usia muda (faktor nganu gaes). Tapi dari ragam pendapat antara dua kubu ini, saya melihat bahwa keduanya tidak menjamin apapun. Isu yang sering diangkat pasti soal kemapanan (finansial) dan kedewasaan (sosial dan spiritual) yang tidak bisa dinilai hanya dari segi usia. Banyak aspek yang mempengaruhi seperti visi, motivasi, kegigihan, daya juang, koneksi, dan lainnya. Usia ‘matang’ tidak menjamin kedewasaan dan kemapanan seseorang. Sebaliknya, orang di usia muda bisa saja sudah menjadi pribadi yang dewasa dan mapan. Sepakat ya.

Fenomena ini sebenarnya menjadi salah satu contoh isu spiritualitas. Singkatnya, spiritualitas adalah penghayatan seseorang secara pribadi dalam memaknai dan menemukan tujuan hidupnya dalam keyakinan akan tuntunan dan kehadiran Allah di dalam proses penghayatan tersebut. Yang namanya “penghayatan” pastinya dilakukan secara pribadi dong, merefleksikan setiap realita yang terjadi dalam hidup dan merenungkannya. Maka dari itu spiritualitas adalah hal yang sangat personal dan otentik. Tiap orang bisa saja punya spiritualitas yang berbeda terhadap suatu hal, dan bisa saja spiritualitas seseorang tidak cocok jika diterapkan kepada orang lain. Contohnya ada orang (biasanya anak kost) yang merasa bahwa jam makan pagi yang ideal ada di jam nanggung seperti jam 10 atau 11, supaya sarapan dan makan siang bisa disatukan supaya hemat (pengalaman banget ini mah). Tapi ada orang yang tidak bisa makan pagi jam 10 karena punya sakit maag, sehingga ia harus sarapan sebelum jam 8 pagi. Jadi, mana yang paling ideal? Tentunya tidak ada ideal yang mutlak. Yang ada hanyalah ideal berdasarkan subyektivitas tiap pribadi.

Makanya, jangan jadikan kesaksian di gereja atau sharing dari para motivator, influencer, atau bahkan pendeta sebagai patokan mutlak. Orang-orang yang memunculkan gagasan mengenai makna hidup baik itu kesaksian di gereja ataupun acara-acara motivasi adalah hasil dari pergulatan batin dan penghayatan spiritualitas mereka secara pribadi. Belum tentu cara yang mereka lakukan bisa sesuai dan berhasil jika kita lakukan. Banyak aspek yang melatarbelakangi gagasan dan pemaknaan hidup seseorang yang tidak terlihat dan tidak diceritakan, sehingga kita tidak bisa menerapkannya mentah-mentah. Jadikan gagasan yang disampaikan motivator, influencer atau bahkan pendeta sebagai referensi. Spiritualitas akan menghayati setiap ragam referensi soal makna dan tujuan kehidupan dari banyak sumber. Namun, keputusan finalnya adalah hasil perenungan pribadi dengan Tuhan melalui tuntunan Roh Kudus. Maka dari itu, ya mesti digumuli sendiri, direfleksikan, dan direnungkan matang-matang sebelum mengambil keputusan ya gaes. Jadi, ini bukan langsung copy paste dari pengalamaan orang lain yang langsung diterapkan mentah-mentah di kehidupan sendiri.

Balik lagi soal nikah di usia muda atau nikah di usia matang. Tidak ada yang paling ideal. Yang penting di dalam pernikahan tentunya harus ada pasangannya. Gak gak wkwk, Menikah di usia muda ataupun menikah di usia matang sama-sama baik. Tiap orang punya 'jalan spiritualitas' pernikahan yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Ada orang yang bahagia ketika nikah usia muda. Ada pula yang bahagia menikah di usia matang karena yang penting dalam pernikahan adalah kesiapan, kesepakatan dan komitmen bersama antara pasangan. Kedewasaan tentu penting, tetapi kedewasaan bukanlah pencapaian satu moment melainkan sebuah proses yang harus terus digeluti tiap waktu. Lalu, salah satu hal yang sering disalahpahami dalam pernikahan adalah tentang pencarian kebahagiaan. Itu adalah blunder sejati. Kalau orang menikah mencari kebahagiaan berarti orang itu sedang tidak bahagia, dan terciptalah pernikahan yang dilakukan dua sejoli yang tidak bahagia. Justru salah satu aspek kedewasaan adalah ketika seseorang sebagai pribadi sudah menemukan sumber kebahagiaan dalam dirinya (syukur atas hikmat Tuhan dalam hidupnya secara pribadi) bukan mencari sumber kebahagiaan dari orang lain. Oleh karena itu, pernikahan menjadi media untuk berbagi sukacita yang awalnya sukacita pribadi menjadi sukacita bersama, visi pribadi menjadi visi bersama, yang diawali dengan dialog untuk mencapai kesepakatan bersama.

            Jadi, sudah siapkah kita menikah? Eh bukan, siapkah kita untuk menggumuli spiritualitas kita secara pribadi untuk menemukan cinta kasih Allah dalam kehidupan kita?


LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER