Trilogy #Secretum Part 2: "The CONFESSION"

Best Regards, Live Through This, 14 October 2020
"If we confess our sin, He is faithful...." 1 John 1:9a

“Marilah kita mengaku dosa kita di hadapan Tuhan secara pribadi….” oleh Liturgos dalam tata liturgi GKI.

“Aku mau ngaku sama kamu, kalau selama ini aku memendam perasaan suka dan sayang banget sama kamu…” oleh seseorang yang sudah jatuh bangun dalam relasi friendzone dan akhirnya nembak daripada antar-jemput tiap hari tak ada kejelasan.

“Pa, Ma. Maaf ya aku udah melakukan salah besar banget. Aku akuin aku emang salah dan ceroboh banget. Maafin aku ya Pa, Ma.. ” oleh seorang anak yang pasang muka melas supaya tak dimarahi orang tuanya karena suatu kekhilafan.

Dan lain sebagainya. Banyak kalimat pengakuan yang sering kita dengar atau kita ucapkan kepada orang di sekitar kita. Pengakuan terjadi dalam ucapan kita pasti memiliki sebab dan tujuan secara spesifik. Entah bisa memang sungguh-sungguh dalam pengakuan itu sendiri atau lip service agar apa yang ingin diselesaikan bisa cepat selesai.

Sebagai lanjutan dari Trilogy #Secretum, ini adalah tulisan kedua yang akan menyambung apa yang belum terselesaikan dari tulisan sebelumnya. Kembali pada dosa, pernahkah kita break down setiap jenis dosa yang kita lakukan?


“Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
-Markus 7 : 20-23



Dalam ayat tersebut disebutkan setidaknya 13 jenis dosa yang membuat seseorang menjadi “najis”. Kita bisa melihat bahwa dosa yang kita lakukan sangat beragam dan bisa menjatuhkan diri kita sendiri atau orang lain yang terdampak dari dosa yang kita lakukan. Sebelum kita mengakui dosa kita lebih jauh, ada baiknya kita menuliskan berbagai dosa yang paling sering kita lakukan dalam keseharian kita, yang kita rasakan sangat sulit melepaskan cara hidup dalam sinful nature (dosa yang menjadi kebiasaan atau karakter) tersebut. Karena dengan mengakui dan bukan menyangkal dosa kita sendiri, kita bisa mengenal pribadi kita sesungguhnya dan tak perlu malu untuk setiap dosa kita. Percayalah bahwa Tuhan sangat senang kepada kita yang akhirnya tahu dengan pasti apa yang menjadi sinful nature-nya dan bisa mengakui kelemahan dalam menjalani hidup ini.


Ketika kita sudah berlatih untuk menjabarkan apa saja dosa yang ada dalam hidup kita dengan jelas dan rinci, Tuhan mau kita datang kepadaNya untuk mengakui dosa secara jujur dan berserah penuh agar Tuhan mengampuni dan menolong kita untuk bisa menanggalkan dosa-dosa itu juga memutus rantai dosa yang kita sadari agar itu semua berhenti di diri kita dan tak berdampak pada kehidupan kita selanjutnya dan generasi berikutnya.

Tuhan juga tidak membiarkan kita mengaku dosa secara pribadi saja jika memang hal itu dirasa sangat berat atau mungkin kita masih belum mengerti apa dosa yang kita lakukan di hadapanNya. Tuhan pun rindu agar kita juga bisa memiliki persekutuan dengan sesama kita yang dimana sama-sama bisa mengakui dosa. Dan hal tersebut sudah diajarkan Yakobus kepada kita semua:


“So confess your sins to another and pray for one another so that you may be healed. The prayer of a righteous person has great effectiveness”.


Kita diajak untuk bisa mengakui dosa kita bersama satu dengan yang lain supaya bisa menjadi “sembuh” adalah salah satu cara Tuhan yang mengasihi kita dengan tulus sekalipun banyak dosa yang kita lakukan kepadaNya. Namun, tidak semua orang memiliki privilege ini. Aku pribadi pun baru melakukan pengakuan dosa bersama dengan kelompok kecilku baru sekitar 3 bulan ini kepada para sisters yang membuat aku secure juga sama-sama saling mendukung dalam our own spiritual journey.




Sebelumnya, aku mengakui dosa di hadapan Tuhan seorang diri saja dan mudah sekali aku jatuh kepada low self-esteem karena merasa sendirian dan betapa buruknya aku. Namun, saat aku menjabarkan sinful nature dan akhirnya kami saling mengaku dosa bersama, begitu besar dampak yang aku rasakan sampai ketika tulisan ini ada. Kesaksian yang semoga memberi kekuatan baru untuk membangun suatu relasi indah diantara saudara seiman entah dengan pasangan, teman pelayanan, teman cerita, atau orang tua jika mungkin. Tentu saja dalam melakukan hal itu, aturan main yang dikaruniai Tuhan adalah tidak menghakimi, tidak menjadikan ini sebagai bahan gosip kelak, dan akhirnya bisa saling mengingatkan satu dengan yang lain. Memang, siapapun mereka harus bisa dipercaya dan berangkat dari titik yang sama yaitu sebagai saudara-saudari dalam kasih yang bertumbuh di dalam Tuhan Yesus.

Tentu saja, hal ini bukan jadi ajang untuk mencari pembenaran melainkan kebenaran yang sejati di dalam Tuhan. Kembali pada keberadaanmu, mengakui dosa secara pribadi atau bersama mereka yang memang bersepakat denganmu untuk mau sama-sama bangkit dari kejatuhan dosa. Berdoalah, minta IA merengkuh di dalam kasihNya. Karena IA yang akan mendengar dan menerima setiap pengakuan dosa kita.

Apakah usai di sini? Mari bersabar menelisik apa yang menjadi akhirnya...

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER