Menghayati Seni Mencintai Sesama

Best Regards, Live Through This, 27 July 2020
“Sentuh semuanya dengan cinta”, ujar Søren Kierkegaard. Cinta merupakan karakter paling luhur dari manusia. Cintalah yang memanusiakan manusia. Dasar eksistensial dari manusia adalah cinta. Cinta membuat orang berubah. Perubahan karena cinta, pasti membawa pada perubahan ke arah lebih baik. Kalau tidak, pasti ada yang salah dengan prosesnya mencintainya.

Never cease loving a person, and never give up hope for him, for even the prodigal son who had fallen most low, could still be saved; the bitterest enemy and also he who was your friend could again be your friend; love that has grown cold can kindle”. (Søren Kierkegaard)


Mengapa kita harus mencintai? Demikian sebuah pertanyaan yang sering memburuku sebagai seorang peziarah. Pejalan di lembah fana—terjebak pada realitas konkret kemanusiaan. Di sela-sela kesadaranku, kalimat Søren Kierkegaard kadang-kadang menyergapku, “Ketika cinta menyentuh kehidupan kita, seluruh kehidupan kita akan berubah.” Apakah benar demikian? Bagaimanakah menghayati cinta itu? Khususnya cinta kepada sesama ciptaan-Nya, kepada sesama manusia.

Kierkegaard seolah berbisik lebih lanjut—bahwa manusia terlahir ke dunia ini untuk memberi dan menerima cinta. Tanpa pengalaman itu, hidup menjadi hampa. Cinta mengajarkan berbagai kualitas unggul kemanusiaan seperti  kesabaran, pengorbanan dan rasa pasrah. Cinta membuat hidup lebih hidup, dan merupakan karakter paling luhur dari manusia.

Cinta memberikan sense of purpose—membuat hidup lebih bermakna. Membuat orang punya tujuan. Sekarang orang punya tujuan—apa tujuannya? Tujuannya adalah yang dicintai. Kalau kemarin hidupnya mekanis, sekarang hidupnya punya makna. Hidup menjadi tidak hampa lagi, karena maknanya berada pada cinta.

Kierkegaard sekali waktu pernah menyatakan bahwa dalam diri manusia mengandung unsur ketuhanan. Meminjam istilah Al-Qur’an, terdapat sebuah kalimat yang berbunyi ““wa nafakhtu fihi min ruhi”—dan Aku tiupkan padanya (ketika manusia diciptakan) ruh-Ku” (QS. Al-Hijr: 29), unsur ketuhanan yang ditiupkan dalam diri manusia dalam konteks ayat ini adalah cinta. Cinta yang sejati, bukan sekedar suka, ingin memiliki atau menguasai. Namun benar-benar cinta—cinta yang hakiki.

Dari sini kita akan melihat nuansa cinta yang sangat manusiawi—pada saat yang sama sangat Ilahi. Cinta itu kemanusiaan sekaligus ketuhanan, karakter manusia yang paling dasar sekaligus karakter karakter ketuhanan dalam diri manusia. Secercah sifat Tuhan yang ada pada manusia adalah kemampuannya untuk mencintai dan berkorban demi cintanya. Atas alasan cintalah manusia diciptakan di dunia.

Cinta itu tidak penting buahnya, kata Kierkegaard. Dia menganalogikan cinta itu seperti sebatang pohon, yang bisa kita nilai kesuburannya dari bagaimana pohon itu menghasilkan buah. Bila pohon itu terawat dengan baik, maka ia akan menghasilkan buah yang matang dan manis. Cinta tidak hanya membicarakan hasil, tetapi juga proses dalam merawat cinta itu.

Hal yang tidak dapat luput dari pembahasan mengenai cinta adalah penderitaan. Mustahil kita mengalami cinta sejati kalau kita takut terluka. Manusia itu egois, lebih mengandalkan rasionya. Diam-diam kita ingin menjadi Tuhan. Diam-diam kita ingin semua konsep kita benar. Diam-diam kita ingin orang lain patuh pada kebenaran yang kita yakini. Menuhankan diri kita dengan memaksa orang lain harus setuju standar kebenarannya—demikian kritik Kierkgaard pada zaman pencerahan di era hidup di mana dia hidup. Zaman ini pun mungkin tak bergeser jauh dari zaman pencerahan lalu.

Manusia adalah makhluk yang ‘tidak cukup diri’ dan memiliki sifat jahat karena egoismenya. Oleh karena itu manusia tidak dapat dijadikan patokan dan sandaran kebenaran. Hanya Tuhan satu-satunya yang dapat dijadikan patokan kebenaran. Ukuran kebenaran berdasar Tuhan terletak dalam tindakan cinta semata, karena cinta sejati tidak pernah merancangkan yang jahat dan jelek bagi sesamanya. Tindakan cinta yang memberi pipi kiri sesudah pipi kanan ditampar atau cinta yang mengasihi serta mendoakan musuh.


Mencintai sesama a la Søren Kierkegaard

Bagi Kierkegaard, ketika kita mencintai seluruh ciptaan-Nya, saat itu juga kita meng-Ilahi. Meng-Ilahi itu kita mirip Tuhan, kenapa? Karena Tuhan mencintai semua ciptaan-Nya, termasuk manusia tanpa pilih kasih. Tuhan tidak pernah memilih apakah hambanya itu seorang yang dekat dari-Nya ataupun yang jauh dari-Nya. Tuhan menyayangi semua ciptaan-Nya. Tidak pernah meninggalkan sedetik pun konsentrasi dari semua ciptaan-Nya.

“Sentuh semuanya dengan cinta”, ujar Søren Kierkegaard. Cintalah yang memanusiakan manusia. Cinta membuat orang berubah. Perubahan karena cinta, pasti membawa pada perubahan ke arah lebih baik. Kalau tidak, pasti ada yang salah dengan prosesnya mencintainya.

Kalau gara-gara cinta engkau merusak, engkau mudah terbakar emosi atau menjadi pribadi yang mudah tersinggung, pasti itu bukan cinta. Kalau ada yang mengaku mencintai Tuhan atau mencintai agama namun hasilnya destruktif atau berbuat kerusakan, perlu dicek atau ditelusuri lagi cintanya. 

Cinta tidak mungkin melahirkan kejelekan atau melahirkan kerusakan. Jika hal tersebut terjadi, berarti ada yang keliru dalam rumus cintamu. Mencintai sesama manusia, bukan golongan atau kelompoknya saja dicintai, namun kepada semua puspa ragam ciptaan-Nya.

Cirinya rendah hati, tidak merasa benar. Menyangkal-diri, mengalahkan ego—tidak egois. Tidak berpihak. Di level manusia, kita semua sama. Justru dengan cinta sesama dengan ciri di atas keinginan manusia untuk "meng-ilahi" dapat terpenuhi, karena ia mengkondisikan dirinya untuk mencintai sesama "tanpa keberpihakan" sebagaimana Tuhan menciptakan dan mencintai seluruh makhluk ciptaan-Nya. Untuk seperti Tuhan, kita menggunakan jalan cinta. "Yakinlah, di jalan cinta Tuhan akan selalu bersama-Mu," kata Maulana Jalaluddin Rumi menambahkan.


Sebagai filsul eksistensial, Kierkegaard meletakkan dasar eksistensial manusia adalah cinta. Ketika kita mengatakan cinta kepada Tuhan, namun mendatangkan kebencian kepada orang lain, perlu ditelusuri lagi cintanya. To love another person, is to help them love God. Mencintai orang lain, membantunya untuk mencintai Allah. Mencintai orang lain karena Allah. Kalau aku mencintai sesama, tidak berarti aku menomorduakan Allah, tapi aku mencintaimu dan akhirnya kita semua mencintai Allah.

Mencintai Allah tidak sekadar dengan akal budi—namun juga termanifestasi dan mengalir kepada semua ciptaan-Nya. Selanjutnya, bentuk cinta paripurna kepada Allah adalah dengan mengalirkannya kasih-Nya kepada semesta ciptaan-Nya yang puspa warna ini. Cinta yang tidak seperti iklan di baliho besar di pinggir jalan yang berbunyi “syarat dan ketentuan berlaku”. Yesus telah sempurna mengajarkan tentang agape. Bukankah Yesus bisa berbalik murka kepada pengikut-Nya yang mengatakan mencintai Allah yang tidak tampak namun gagal mencintai sesama yang tampak?

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER