Cerita dari Barang Reject

Best Regards, Live Through This, 16 July 2020
"TOLAK BARANG YANG NGGAK SEMPURNA!" Benarkah?

Aku akan memulai tulisanku kali ini dengan dua hal. Pertama adalah film kartun buatan Malaysia, serial terkenal si kembar yang mungkin masih menemani hari-hari kalian pada hari ini. Yap!, siapa lagi kalau bukan Upin dan Ipin. dalam salah satu episode, dimana semua pemainnya berubah menjadi berbagai macam jam, Fizi diceritakan jatuh dari lemari, dan rusak. Kemudian, sang pemilik toko jam itu datang, melihat Fizi yang jatuh dan rusak. Singkat cerita, sang pemilik pun memperbaiki Fizi, hingga ia dapat kembali bersama teman-temannya, di lemari jam yang sama. Pernahkah berpikir, “Memang seberapa penting sih si Fizi itu buat si tukang jam itu?”, mungkin juga ada yang berpikir, lebih baik Fizi dibuang aja, bukan? Jika teman-teman penasaran dengan cuplikan bagian ini, mungkin link https://youtu.be/Yqrt6HPoRQY bisa membantu teman-teman untuk melihat dan mengenal Fizi yang rusak.

Hal kedua adalah salah satu istilah umum, namun dalam Manajemen Operasi, hal ini menjadi sangat penting. Barang Reject. Dalam kelas Manajemen Operasi, beberapa tahun lalu, aku ingat betul kalau namanya barangnya reject hanya akan menambah beban operasional suatu perusahaan. Reject bisa jadi barangnya rusak, cacat, atau tidak sesuai dengan spesifikasi kualitas dari perusahaan, dan oleh karenanya, perusahaan akan mati-matian menghindari untuk membuat kesalahan pada proses produksi, sehingga meminimalisir barang reject ini. Selain itu, keberadaan barang reject juga akan menambah beban atau biaya bagi unit cost suatu barang, yang membuat keuntungan perusahaan akan berkurang akibat barang reject ini. 


Mungkin sebagian dari kalian sudah bisa membaca arah pikiranku dalam tulisan ini. Dan tentu saja, aku tidak akan membicarakan hal yang mungkin kalian sudah tahu - entah tentang Fizi, atau tentang istilah barang reject


Dalam Kejadian 1:31, King James Version menuliskannya seperti ini: “And, God saw everything that he had made, and behold it was very good. And the evening and the morning were the sixth day” Jelas, pada bagian ini, penulis kitab Kejadian, ingin menggambarkan betapa “sangat baik” segala ciptaan-Nya, terutama manusia (saya, kamu, dia, dan yang mulia para netizen yang membaca tulisan ini). Allah membuat segala sesuatunya baik seturut dengan pandangan-Nya mengenai “kesempurnaan” itu. Namun, apakah benar sempurna? Aku secara pribadi melihat, bahwa memang sejak awal, saat Allah yang agung itu menciptakan manusia yang adalah salah satu ciptaan itu, Ia terlalu tinggi berekspektasi. Mungkin ekspektasi Allah saat menciptakan semua ciptaan-Nya adalah, “Everything will be good! Or, no! They’re perfect!” Namun pada kenyataannya, Ia disakiti oleh ciptaan, yang katanya “paling baik”, atau bahkan beberapa orang sebut dengan “sempurna” itu. Ya! Anda benar lagi, manusia! Dalam membahas bagian ini, saya mungkin akan berhenti sampai sini. Para teolog mungkin dapat menggambarkan bagian ini dengan lebih bijaksana daripada saya.


Berangkat dari Kejadian 1:31, jelas, Allah yang mencipta itu membuat semua ciptaan, termasuk manusia itu baik adanya. Pertanyaan saya kemudian adalah, jika benar pernyataan itu, mengapa saya secara pribadi masih melihat banyak sekali cacat dalam diri manusia, yang mungkin, kalau saya bayangkan adalah barang-barang reject dari perusahaan? Kita tahu, “perusahaan” yang menciptakan kita adalah “perusahaan” yang super canggih, dan bisa dijamin seharusnya tidak ada reject, tetapi sejak Kejadian 3, yang kita lihat dalam Alkitab tadi adalah ketidak-sempurnaan. Berarti, apakah dapat dikatakan, bahwa pabrik Allah menciptakan barang-barang reject, hingga saat ini?


Mungkin ada yang mengatakan, beberapa golongan adalah barang reject yang utama pada masa kini. Misalnya: kaum disabilitas, kaum LGBTQ-plus, orang-orang dengan penyakit mental, ODHIV, orang dengan keluarga yang tidak sempurna, hingga kaum miskin dan tersingkir serta lain sebagainya. Tetapi sadarkah kita, dengan menganggap mereka sebagai barang reject, kita sendiri juga adalah barang reject  itu. Barang yang seakan salah produksi. “Tunggu, kok Lukas berani ngomong seperti ini?” Jangan marah dulu, wahai pembaca yang budiman. Saya ingin memulainya kembali pada Kejadian 1:26. Apakah di bagian ini dikatakan “Tuhan menciptakan dua golongan, golongan yang sempurna dan yang tidak sempurna.”? Jika kita sepakat bahwa aku, kamu, dan mereka diciptakan oleh Tuhan yang sama, lantas, mengapa terkadang kita (aku dan kamu) seringkali merusakkan kesempurnaan yang Tuhan sudah berikan dengan mengatakan hal-hal seperti ini:

  • “Dia lahir cacat, kan karena orang tuanya kebanyakan dosa”

  • “Dia anak seorang pelacur. Dia nggak suci, anak haram!”

  • “Kamu jadi buta, gara-gara kamu kebanyakan nonton bokep, jadi Tuhan menghukum kamu dan matamu!”

  • “Dia ‘kan jadi miskin gara-gara dia penipu, Tuhan undah kasih hukuman yang setimpal!”

  • “Lebih baik, kita menghindar dari kaum LGBTQ, karena, mereka hobinya cuma membawa penyakit menular ke kita yang normal ini!”

  • “Jangan temenan sama dia, dia gay, nanti kamu ketularan!”

  • Atau bahkan yang lebih parah: “Jangan temenan sama kaum pelacur, penipu, LGBTQ, dan kaum-kaum berdosa lainnya, karena mereka penghuni neraka. Nggak mau kan jadi penghuni neraka?”

Sungguh maha tahu orang-orang yang mengatakan hal-hal di atas. Seakan mereka adalah kebenaran dan/atau bahkan kesempurnaan sejati dari ciptaan Allah yang sempurna itu. Pertanyaan saya kemudian, “apakah kita cukup sempurna untuk mengatakan hal-hal seperti di atas?”.


Wahai pembaca yang budiman, saya ingin menutup tulisan saya ini dengan mengatakan, sejak kejatuhan manusia di dalam dosa, mustahil, kita bisa menemukan manusia yang sempurna. Mustahil untuk kita bisa menjadi sempurna. Lalu, mengapa kita terkesan membedakan kita yang tidak sempurna, dengan mereka (kaum disabilitas, kaum LGBTQ-plus, orang-orang dengan penyakit mental, ODHIV, orang dengan keluarga yang tidak sempurna, hingga kaum miskin dan tersingkir serta lain sebagainya, yang diusir oleh masyarakat “normal”)? Cukup sempurnakah kita untuk menghakimi mereka dengan  berbagai hinaan, cacian, dan makian? Coba refleksikan ulang kisah Fizi yang saya tulis di awal tulisan ini. Kawan, di antara kita semua, saya yakin kita pastilah barang reject, lantas, pantaskah si barang reject itu menghakimi barang reject yang lain? Kiranya tulisan ini bisa membantu kita untuk sadar, bahwa sejatinya kita ini barang reject yang masih dikasihi oleh Allah. Lalu, jika kita sudah dikasihi oleh Allah, apa yang akan kita lakukan? Me-reject “barang” yang diterima oleh Allah dengan segala ketidak-sempurnaannya?


Saya meminjam istilah yang digunakan oleh Ari, kawan saya, untuk perenungan yang mendalam bagi Anda dan saya:


Dalam ketidakmampuan, kadang manusia saling reject, tapi Tuhan tidak me-reject kita!

 


Tuhan memberkati!


LLC-dalam masa “libur yang panjang”

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER