Selamat Hidup Seimbang!

Best Regards, Live Through This, 12 July 2020
Segala sesuatu perlu keseimbangan. Segala sesuatu ada porsinya.

"Kalau kerja, kerja, kalau tidur, tidur," ungkap gadis kecilku berusia 3 tahun.

Sejenak, aku terkejut mendengarnya bisa mengatakan demikian, sambil tersenyum lirih dalam hati.

Entah apa yang ada di dalam pikirannya, mungkin ia ingin menyuruhku berhenti memainkan gawai (bekerja) dan tidur bersamanya. Karena setengah tahun belakangan, dia selalu minta dipeluk ketika ingin tidur.

Namun, sepenggal kalimat itu cukup membuatku merenungkan soal keseimbangan hidup.

Tak dapat dielakkan adalah tantangan di zaman milenial untuk tidak memegang gawai dalam sekian menit. Kita mungkin bisa menggunakan dalil bahwa kita sedang bekerja, namun tetap saja, perhatian kita terhadap lingkungan (baik kepada anak, atau siapapun yang ada di sekitar kita) secara otomatis berkurang, di detik kita memainkan gawai itu.

Ini memang menjadi perenungan dan teguran sendiri bagiku sebagai orang tua, bahkan pernah tertulis sebagai resolusiku saat mengawali tahun baru, tahun ini. More caring, termasuk tidak memainkan gawai ketika orang lain sedang berbicara denganku. Jujur, masih terasa sulit, meskipun aku tahu, layak untuk diperjuangkan. Mengapa?

Sesederhana aku ingin dihargai, aku rasa orang lain juga ingin dihargai, termasuk seorang balita atau bayi sekalipun. Dan full attention tanpa kehadiran gawai adalah bentuk penghargaan terbesar ketika kita sedang berelasi.

Lalu, apakah dengan demikian, kita tidak bisa menggunakan gawai kita jika sedang bersama anak selama 24 jam di rumah? Apalagi saat pandemi seperti ini, tentu segala sesuatu tampak makin melekat dengan gawai atau teknologi. Kehidupan kita saat ini sudah berbasis dan bisa dikatakan bergantung pada kehidupan daring yang mudah terakses dengan gawai.

Aku jadi teringat sepenggal lirik lagu:

Ada waktu tuk berduka, ada waktu tuk bersuka,

ada waktu tuk berdiam, ada waktu tuk berkata...

Ya, segala sesuatu tidak dapat dilihat dari satu sisi ekstrim saja. Aku rasa semua ini mengenai keseimbangan dan pengaturan waktu. Bahkan, dalam hidup yang seringkali tidak dapat diprediksi, Tuhan selalu memberi kejutan-kejutan yang seimbang. Ada kalanya suka, ada kalanya duka. Begitu juga dengan gawai, tentu ada opsi misalnya, sesekali ke toilet hanya demi mengecek pesan, atau kepada yang sudah lebih besar, aku bisa memberi pengertian jika memang harus menggunakan gawai. Namun, ada kalanya juga kita tidak perlu selalu memegang gawai, terutama saat berelasi.

Sama hal jika dikaitkan dengan perihal uang, apakah hidup adalah semua tentang uang? Tentu tidak.

Lalu, apakah bisa hidup tanpa uang? Tentu tidak juga.

Segala sesuatu perlu keseimbangan. Segala sesuatu ada porsinya.

Lalu, aku teringat mengenai ibuku yang terlahir sebagai kakak kedua dari tujuh bersaudara. Dengan latar belakang finansial yang kurang, sejak remaja/pemuda, ia harus menghidupi adik-adiknya. Hal ini cukup membentuk dirinya bukan hanya sebagai pribadi yang hemat, melainkan hampir-hampir bisa dikatakan pelit. Ia sangat menyayangi uang, termasuk makanan (tidak boleh ada makanan tersisa yang terbuang). Ia menjadi pribadi yang amat 'menggenggam' uang, merasa kalau memiliki uang, harus ditabung. Kalau masih memiliki barang yang masih bisa dipakai (misal baju atau sepatu), tidak perlu belanja lagi, hingga barang itu rusak. Hal positifnya adalah ia mengajarkan kami untuk menyayangi barang, tidak boros, dan menabung. Namun sisi ekstrimnya, sampai dewasa pun, ia tampak menjadi pribadi yang merasa tidak memiliki uang, sekalipun sebenarnya ada uang di tabungannya. Hal ini berdampak negatif pada hati yang sulit mengucap syukur dan kehidupan sosial yang sulit berbagi. Ibarat terlalu menggenggam, sebenarnya tak disadari bahwa yang digenggam hanyalah segitu-segitu saja.

Kendati demikian, aku bersyukur bahwa aku memiliki ayah yang bisa dikatakan cukup royal. Ah, Tuhan benar-benar memberikan keseimbangan bukan? Ayahku yang juga adalah anak kedua dari banyak saudara (memiliki banyak adik tiri), juga pernah menghidupi adik-adiknya, namun hatinya tidak terikat pada uang. Ia justru memiliki hati yang mudah berbagi. Entah pengalaman hidupnya atau pembentukan hari demi hari yang menjadikannya pribadi yang relatif mudah mengucap syukur dan berbagi. Baginya, uang bisa dicari lagi, kalau saat ini perlu dan butuh apa, ya pakai saja uangnya, apalagi kalau itu terkait dengan kebahagiaan orang-orang terdekatnya. Meski demikian, aku menilainya bukan seseorang yang boros atau suka berfoya-foya. Mungkin, karena ia juga seorang pria dan kepala keluarga yang memang sudah tanggung jawabnya menghidupi anggota keluarga. Kalau yang ini, aku ibaratkan seolah tidak 'menggenggam' terlalu erat dan biasanya justru berkat akan terus mengalir dan 'tampungan' akan lebih banyak.

Lalu, bagaimana dengan relasi pernikahanku? Aku pikir, aku sudah cukup royal dan mudah berbagi, namun entah bagaimana, tanpa sadar, aku seolah mengulang siklus menjadi sosok ibuku, dan suamiku menjadi sosok seperti ayahku. Suamiku terkesan 'boros' di mataku, padahal mungkin baginya hanyalah 'reward' bagi dirinya yang selama ini sudah bekerja keras, toh dia juga tidak pernah melarang aku membeli apapun. Aku amat belajar soal 'menggenggam' uang (atau lebih tepatnya soal kepercayaan) sejak kami berpacaran. Seorang konselor berkata kepadaku, saat aku melontarkan kalimat, "Itu kebutuhan atau keinginan?" bukankah sebenarnya aku ingin berkata, "Jangan beli"? Aku tertegun. Dari situ aku belajar untuk lebih percaya, bahwa suamiku juga memiliki (dan aku berdoa supaya ia terus dikaruniai) hikmat dalam mengatur uang. Jadi, aku belajar merelakan dan cukup berkata, "Yang penting kamu tahu kebutuhan-kebutuhan yang perlu dipenuhi" - sambil aku terus menyemangatinya untuk semakin giat bekerja. Satu hal yang aku pelajari juga dari suamiku, ia selalu ingat bahwa Tuhan yang memberi, Tuhan yang mempercayakan, semua berasal dari Tuhan. Hal ini yang akan menolong kita memiliki hati yang penuh syukur, kerendahan hati, dan sikap tanggung jawab.

Kembali kepada perkataan gadis kecilku, "Kalau kerja, kerja, kalau tidur, tidur", kiranya kita juga memiliki keseimbangan pola pikir, keseimbangan hati, dan keseimbangan dalam mengatur waktu, terutama jika dikaitkan dengan uang. Tuhan yang menilik hati dan pikiran kita, bagaimana cara kita memandang, mengumpulkan, dan menghabiskan uang.

Banyak orang mengutip Ayat Alkitab mengenai uang dalam kitab Ibrani 13:5a,

"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu."

Namun, jangan ketinggalan untuk membaca dan mengutip Ibrani 13:5b,

"Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Ingat, bahwa uang hanyalah alat, bukan segalanya. Di satu sisi, miliki hati yang PERCAYA bahwa TUHAN akan terus memelihara (hati yang penuh syukur, terus berbagi, tidak terlalu 'menggenggam'). Di satu sisi, kerjakan bagian kita sebagai manusia produktif (bekerja keras dan dengan hikmat menabung serta mengelola).

Selamat hidup seimbang!

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER