Gara-Gara Gereja: Matikan Aku, Tuhan

Best Regards, Live Through This, 14 August 2019
Jika kita tidak "mematikan" diri kita, kapan Yesus bisa hidup dalam kita?

Betapa saya bersyukur ketika menyadari bahwa saya dibawa Tuhan untuk berada di tengah-tengah komunitas orang Kristen yang ingin segera 'mati', yang menjadi jalan Tuhan dalam menyadarkan saya tentang betapa fananya hidup di dunia ini. Akan tetapi, tak setapak jauhnya dari hal yang saya alami, kenyataan lain sebenarnya berbicara lebih keras tentang dunia hari ini yang semakin terasa nyaman untuk ditinggali sampai-sampai manusia digiring untuk mengabaikan keberadaan Tuhan secara sadar ataupun tidak. Dunia hari ini menghantar manusia menjadi semakin nihilis, bertindak seolah-olah Tuhan tidak perlu ada. Bukankah begitu?

Bila kita merenung, narasi dan ajakan untuk mengikut Yesus sesungguhnya sudah ada selama ribuan tahun. Atas diri kita sendiri mungkin kita telah diajak mengenal Kristus sejak kecil. Namun, apakah kita benar-benar telah memperkarakan diri kita tentang sudahkah kita benar-benar berjuang mengikuti Kristus? Pertanyaan utama lainnya adalah bagaimana seharusnya kita dapat memaknai arti mengikut Yesus?

man standing on ground

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Saya pernah mendengar sebuah ungkapan dari salah seorang hamba Tuhan. Beliau bertanya, "Dengan apakah kematian dapat dikalahkan?" Dengan kata lain bagaimana caranya agar kita dapat mengalahkan kematian? Apakah kita harus hidup sesuka kita? Ataukah kita harus melakukan segala hal yang kita bisa untuk mengejar kebahagiaan selama masih hidup?

Hamba Tuhan tersebut kemudian memberi tahu jawaban dari pertanyaan yang ditanyakannya. "Kematian tidak bisa dikalahkan dengan kehidupan. Kematian hanya dapat dikalahkan dengan kematian."  Kita tak bisa mengalahkan kematian dengan berusaha hidup sebaik-sebaiknya di Bumi, karena kehidupan akan berakhir. Kita hanya dapat mengalahkan kematian dengan terlebih dahulu "mati". Oleh sebab itu, panggilan orang Kristen sepanjang hidupnya adalah bagaimana "mematikan" dirinya dan menghidupkan Kristus dalamnya.

Mengikut Yesus sebenarnya berarti tidak ada lagi tentang kita, karena hidup kita sudah berakhir semenjak memutuskan mengikut Dia. Hidup yang harus kita hidupi setelahnya adalah hidup-Nya, hidup Kristus. Mengikut Yesus adalah sebuah panggilan untuk mengenakan hidup Yesus, mengenakan pikiran dan perasaan-Nya, serta mengenakan kehendak-Nya dalam setiap detik yang kita lewati. Semua ini tidak bisa kita kenakan bila tidak terlebih dahulu merelakan daging kita, yakni keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan untuk mati dan lenyap dari kamus hidup kita.

Jesus Christ on cross painting

Photo by Christoph Schmid on Unsplash

Oleh karena itu, gereja perlu mencari gara-gara. Gereja dalam hal ini bukanlah gedungnya tetapi persekutuan sesama umat percaya. Gereja (kita) harus mendorong diri kita dan anggota gereja lainnya untuk segera mematikan dagingnya. Gereja harus menjadi pihak yang paling bising untuk mengingatkan orang percaya agar segera berbalik kepada Kristus. Gara-gara gereja, orang-orang harus segera berkeputusan untuk mematikan dagingnya dan membiarkan Kristus hidup di dalamnya.

Untuk mencapai hal ini, kita harus mulai dari diri kita. Orang yang paling penting untuk kita ingatkan tentang keselamatan terlebih dahulu adalah diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita harus nekat dan bertekad memaksa diri untuk mematikan daging kita. Kita harus belajar menjadi pengkhianat atas keinginan daging yang masih kita miliki. Kita harus menjadi pemberontak atas diri kita yang begitu mencintai dunia. Kita harus menjadi pihak yang paling bersikeras atas diri kita agar segera mematikan kedagingan ini. Karena, bila kita masih ingin terus tenggelam dalam keindahan dunia atau terus berupaya untuk memanjakan daging dengan memberi segala keinginannya, kita mulai memarkirkan diri di neraka. 

Sebagai seorang kawula muda, saya cukup paham betapa sukarnya mengabaikan dunia yang begitu indah dan berpaling pada Tuhan dan Kerajaan-Nya dengan setia. Ada begitu banyak alasan yang dapat merintangi laju langkah mendekati kesempurnaan di dalam Tuhan. Semua tantangan ini bahkan terasa semakin mengikat dari sehari ke sehari. Manusia seperti sudah tak punya daya untuk berubah sehingga terus terkungkung dalam kehangatan palsu yang dunia ini berikan. Sungguh menyedihkan.

Namun, di balik semua kemustahilan demi kemustahilan yang kita lihat dan rasakan itu, Tuhan hadir ke dunia memberi janji yang menenangkan jiwa. Tatkala menulis artikel ini, saya teringat pesan-Nya bahwa yang mustahil bagi manusia sesungguhnya tidak mustahil bagi Allah. Tuhan berpesan bahwa Ia tentu akan memberi kepada kita yang meminta.

person carrying black box walking on pathway

Photo by Tyson Dudley on Unsplash

Mari, mintalah kepada Tuhan agar kita menemukan jalan pulang. Mintalah tuntunan-Nya agar kita dapat berpaling kembali pada-Nya dan setia sampai akhirnya. Mintalah pertolongan dan kekuatan-Nya agar kita dapat merelakan keinginan daging kita ini menjadi mati. Sungguh, biarlah doa kita berisi permohonan untuk Tuhan segera mematikan kedagingan kita. Mintalah anugerah-Nya agar Ia, Tuhan Yang Maha Kasih, berkenan hidup dalam diri kita.

Bukankah permintaan-permintaan itu pasti akan menyenangkan hati-Nya? Ya, saya percaya. Saya juga percaya bahwa bila yang kita minta adalah demi kepentingan-Nya, Tuhan pasti akan menjawab.

Karena itu, nantikanlah pertolongan-Nya. Mari, nantikanlah uluran tangan-Nya. Tuhan akan menolong mereka yang ingin ditolong. Sebaliknya, Tuhan tidak akan memaksakan diri-Nya untuk menolong orang yang tidak ingin ditolong. Ia adalah Allah yang menghormati keputusan kita sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas.

Hal ini berarti, kita juga harus berjuang untuk mengarahkan kehendak kita dan seluruh keberadaan kita untuk mengikut Tuhan. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhkan diri dari percintaan dunia dan dosa. Kita harus berusaha untuk tidak lagi jatuh dalam kesalahan yang sama dan begitu banyak usaha lainnya. Dengan begitu, Tuhan pasti melihat keseriusan kita dan akan menolong kita.

Saya paham bahwa kita tidak berjuang sendiri. Perjuangan kita memang tidaklah mudah, tetapi berbahagialah mereka yang berjuang untuk menyenangkan hati Yang Maha Esa. Jangan menyerah bila kita kembali jatuh atau dunia menarik kita untuk mundur, segeralah berdamai dengan Tuhan dan kembali berjuang dengan lebih, lebih dan lebih serius.

Tuhan menolong kita.

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER