Gereja Keluarga Indonesia...Harus, Ya?

Best Regards, Live Through This, 11 July 2020
...terkadang aku merasa rikuh untuk bertindak apapun, karena aku merasa setiap ketololanku akan dikaitkan dengan orang tuaku.

In collaboration with Ari Setiawan


“Kak, kamu itu kakak pembimbing remaja kan ya di sini?” 

“Iya oma, ada yang bisa saya bantu?”

“Tolongin Oma dong, itu si Outra, cucu oma, dulunya kan sering ibadah di sini, sekarang malah ikut temen sekolahnya ke gereja lain. Bilangin si Outra biar balik segereja sama Oma, sama keluarga lainnya di sini.”

“Aaa…. emmmm… Oke Oma, nanti kami coba bantu,” sambil berpikir.

***

Ucapan oma tersebut, mungkin akrab di telinga kita, entah kita sebagai pelayan di suatu gereja, atau kita yang menjadi domba yang pergi ke “kandang” lain. Sebuah fenomena yang dapat kita lihat dari beberapa gereja, yaitu adanya trah, dari almarhum buyut, sebagai bagian dari pendiri gereja, berlanjut ke oma-opa hingga cucu cicit yang berada dalam satu gereja, sehingga komunitas beriman tersebut menjadi Gereja Keluarga Indonesia.

Rasanya menyenangkan melihat satu keluarga utuh, dapat memuji memuliakan Tuhan, mengenal Sang Juruselamat dan bertumbuh secara spiritual. Namun, apakah pertumbuhan spiritualitas harus dengan keseragaman dan kesamaan kultur satu keluarga? Apakah kita harus satu gereja dengan keluarga, hanya demi keberlangsungan trah hingga tujuh turunan? Atau bolehkah kita bertumbuh di komunitas iman lain, yang membuat kita mengenal Kristus secara personal dan sosial?


Personal Experience, Meliyankan Diri dari Keluarga

Siapa di sini yang orang tuanya termasuk “inner circle” banget dalam gereja? Mungkin Ignite People ada yang bernasib serupa denganku, masa kecil banyak dihabiskan gabut di gereja yang sepi di hari sekolah, menunggui mereka selesai rapat? Dan tentunya, sebagai “evangelis” yang baik, orang tuaku juga berharap aku bisa aktif di kegiatan-kegiatan gereja - didorong masuk paduan suara, padahal tepuk tangan aja fals. Beranjak remaja, terkadang aku merasa rikuh untuk bertindak apapun, karena aku merasa setiap ketololanku akan dikaitkan dengan orang tuaku.

“Eh, itu yang ribut di belakang siapa sih? Anak yang bajunya norak itu siapa sih?”

“Ohh, itu mah anak penatua Intra dan ibu ketua Dalem.”

Wew, di saat ABG tanggung lain mungkin hanya akan mempermalukan dirinya sendiri, aku bisa-bisa mengancam keutuhan rumah tangga nih! Aku pun mengamati kakakku, yang sudah lebih dahulu “mencolot” ke gereja lain.



Awalnya Berwisata, Ternyata Jatuh Cinta

Suatu hari, Minggu sore yang tenang dan sejuk, kakakku mandi terlalu lama sehingga terlambat untuk kebaktian sore di GKI “langganannya” - kebetulan aku sudah mulai menjadi “buron” dari gereja ortu dan memutuskan hidup terombang-ambing. Siapa yang mengajak gereja di saat mataku sudah melek dan kesadaranku sudah utuh, ya ikut. Karena terlambat, kami memutuskan banting setir ke sebuah GKI lain yang kami tahu berada dekat rumah  - astajim, gerejanya tutup karena sedang renovasi! 

“Kayanya aku pernah lihat GKI lain di daerah belakang deh, gerejanya kecil, ayo kita coba main ke sana,” ujarku. Sedikit mencari-cari, akhirnya ketemu dan betul gereja itu GKI. Sangat kecil, tidak seperti gereja keluargaku yang bisa dibilang gereja size L. Dan jam kebaktian sorenya sungguh membagongkan untukku yang hobi rebahan sampai lupa waktu! Cocok! 

Norak binti excited, aku pun dengan angkuhnya langsung menancapkan kuku di gereja itu. Merasa gagah sekali bisa pergi ke gereja sendiri, ikut acara gereja yang keluargaku tidak tahu-menahu, bersama bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak kukenal dan tidak mengenalku. Sungguh anonimitas yang menyegarkan!


Menjadi (Sedikit) Berbeda, Why Not? 

Tentu agak sulit menjaga anonimitas lama-lama di sebuah gereja. Aku mulai mengalami berbagai perkenalan dan kejadian random yang ternyata membentuk jati diriku sampai sekarang. Di gereja itu, aku belajar manajemen, networking, diplomasi, negosiasi, bisnis, tata bahasa, tata dokumen, psikologi, dan tentunya….sedikit teologi. Aku yakin Ignite People yang pernah mengalami berakar, bertumbuh dan berbuah dalam Kristus (macam buku katekisasi yekan) di sebuah gereja pasti paham maksudku. The church becomes an inseparable, most influential part of your life.


Jemaat di kota Korintus sendiri juga merupakan gambaran heterogenitas. Ada yang mengenal Kristus dari Apolos, ada yang dari Kefas, ada pula golongan Paulus, atau mungkin mengenal Kristus dari rasul serta pengajar lainnya. Perpecahan dalam jemaat di Korintus pun tercatat pada 1 Korintus pasal yang pertama, seolah menunjuk, “Mereka #bukangolongankami, chuaks.” Namun, sebagai rasul yang hobi dan jago menulis surat, apakah Paulus ingin agar mereka semua diakuisisi sebagai muridnya?

Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3:6-7)

Paulus tidak mempermasalahkan lewat siapakah jemaat di Korintus mengenal Kristus. Hal yang ditekankan olehnya ialah adanya pengenalan dalam Allah. So, melihat kondisi saat ini, kita (dan mungkin keluarga kita) perlu memahami bahwa pertumbuhan dalam Allah adalah prioritas. Setiap gereja, baik gereja keluarga Indonesia ataupun gereja lainnya, adalah kawan sekerja Allah, yang dipakai Allah agar setiap umatnya mengalami pertumbuhan spiritual.


Tetap Berelasi dengan Orang Tua Mengenai Kehidupan Spiritualitas

Hari ini, meski keluarga kami terpencar di 3 GKI yang berbeda, menyenangkan rasanya bisa berbincang soal gereja masing-masing saat bersama. Dan seringnya sih, kalau lagi mager, akhirnya ortu dan kakakku pun ikutan ke gerejaku karena secara radius memang paling dekat rumah. Sebuah momen awkward mulanya, sekaligus menggelikan karena kali ini giliran mereka yang tidak punya identitas selain “Oh, ini papa-mamanya Olivia.” Tapi tidak luput juga, sebelum Covid-19 menyerang negeri ini, aku masih sering bangun dini hari membantu orang tuaku menyiapkan makanan mereka untuk kedai pagi di gereja mereka.

Tentu hal ini perlu kita sadari, walaupun mungkin kita memilih berbeda gereja dengan orang tua kita, kita tetap satu keluarga lho, baik secara KK maupun keluarga dalam Kristus. Paulus pun juga menekankan hal ini kepada jemaat di Korintus.

Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. (1 Korintus 12:24b-25)

Dalam keberagaman jemaat di Korintus, Paulus mengumpamakan mereka sebagai anggota tubuh yang berbeda-beda. Mungkin ada yang jadi tangan, ada si kaki, ada pula yang jadi hidung, atau mungkin ada juga yang menjadi bulu hidung. Namun dengan keberagaman mereka, Paulus menasihati agar mereka saling memperhatikan, sebagai satu tubuh di dalam Kristus. Ketika hidung sedang mencium bau yang tidak sedap, maka tugas dari si tangan untuk menutup sementara kaki segera menjauh dari sumber bau tersebut.

Begitupun kita seharusnya tetap menjaga relasi dengan keluarga kita. Andaikata kita tidak memilih berjemaat di Gereja Keluarga Indonesia, kita tetap kok satu tubuh dalam pengenalan akan Tuhan. Ketika ortu kita lagi butuh bantuan buat tugas pelayanan, ya bantu saja, begitupun sebaliknya. Kita juga bisa saling share, positive vibes yang kita rasakan dari gereja kita ke mereka, serta kita mendengar hal yang keluarga kita dapatkan dari gereja mereka.

                                             


Jadi, Indie atau Satu Label?

Seiring waktu berlalu dan setelah makin aktif di klasis, aku paham bahwa wajar sekali kalau ada keluarga “yang punya gereja” di beberapa gereja. Walau istilah itu sering dipakai dalam konteks nyinyir, aku melihat realitasnya tidak seburuk itu; ada plus dan minusnya tersendiri kok. Aku belajar menghargai rombongan keluarga besar plus besan-besannya yang nyaman berada di satu gereja; namun aku pun juga tidak mempersoalkan jemaat yang bergereja seorang diri, tidak beserta keluarganya.

Apapun pilihan kita atau orang lain dalam memilih tempat mereka bergereja, kiranya dilandaskan bahwa kita semua bertumbuh dalam Kristus. Biarkan pikiran dan perjalanan spiritual kita ditentukan juga dengan semangat saling memperhatikan dan mengasihi satu sama lain.







LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER