Curahan Hati Pemuda Kristen di Industri Perfilman

Best Regards, Live Through This, 09 July 2020
Setiap orang memiliki jalan dan panggilan berbeda, termasuk juga dalam karir; Tuhan bisa memberkati kita melalui banyak cara.

Satu kali, ada seorang stand up comedian (mungkin beberapa tahu) yang menyampaikan, bahwa dia main film layar lebar dan bisa kasih perpuluhan yang besar. Di satu sisi, salah seorang pengurus gerejanya yang tahu kalau dia di film itu berperan sebagai pria kemayu, langsung bertanya, “Kenapa kamu perannya seperti itu, kamu kan anak Tuhan?” Si orang ini menjawab dengan bercanda, “Iya, memang muka kayak saya bisa jadi apa, Pak?” Hehehe...

Setelah pengalaman itu ia berpendapat, lembaga kerohanian kadang aneh, bisa mengkritik tuntutan profesi, tapi tidak bisa memberi solusi. Dan untuk perpuluhan yang besar, tidak menolak. Study case ini hanya sekadar intermeso, yang bisa bikin kita berpikir sejenak. Tentunya ini tidak menunjuk semua lembaga kerohanian.



Seperti kisah si stand up comedian tadi, memang banyak lembaga yang seringkali mengkritik tanpa bisa memberi solusi. Tahukah mereka kalau mungkin saja, itu satu-satunya pekerjaan yang dia bisa lakukan? 

Selalu ada perdebatan terkait cara anak Tuhan mencari nafkah; misalnya, di industri film horor. Menonton film horor menjadi perdebatan di kalangan orang Kristen. Apalagi orang-orang yang terlibat di baliknya. Para penulis dan sutradara, bisa jadi mereka juga mendapat tekanan dari lembaga kerohanian di komunitasnya. "Kok bikin cerita kayak gitu, bagusnya apa, memuliakan Tuhan tidak?"

Film romance, nasibnya sama. Kok filmnya vulgar? Perselingkuhan? Moralnya apa? Apalagi film aksi: Kok sadis? Kok isinya pembunuhan semua? Buat yang menulis novel: Kok bikin novel, menjual khayalan? Kok ada kissing-nya, itu kan bikin orang pikirannya jadi liar....? Nanti bikin komedi juga dikritik: Kok ga bermutu, kok satir, kok menyinggung agama, dan seterusnya.


Saya mewakili anak-anak Tuhan di dunia perfilman, dan apa yang menjadi kekhawatiran gereja, tentu juga menjadi pergumulan kami setiap hari. Saya tahu, banyak orang Kristen yang merasa tidak terberkati dengan film horor, misal jadi takut, nggak berani tidur sendiri, dll. Apakah yang kami buat ini benar, apakah ini bagus, apakah ini boleh? Setiap hari, I have my own battle. In my spirit. Sebagai manusia yang bersentuhan dengan banyak hal sekuler di industri perfilman, saya pun bergumul: Apakah ini membuat saya jauh dari Tuhan atau enggak?

Seketika waktu saya berdoa untuk artikel ini, Tuhan singkapkan pada saya: Ingat Hosea. It’s like.. a flash, you know.  Hosea adalah seorang nabi yang menikahi pelacur karena memang dia dapat panggilan dari Tuhan. Tujuannya untuk membuat umat Israel bertobat. Bagi sebagian orang Kristen, hal ini mungkin tidak lazim. Untuk orang-orang yang tidak terpanggil, jika mereka melakukannya bisa jadi itu dosa kan?

***

Di satu sisi aku bersyukur, masih banyak juga lembaga kerohanian yang ikut mendukung kegiatan perfilman dan tidak berkeberatan dengan jemaatnya berkecimpung di sana. Lembaga kerohanian juga yang kerap melakukan pemutaran film untuk pengakraban, ada yang mengadakan pelatihan editing video atau penulisan naskah drama, ada pula yang membuat film atau drama dengan cerita yang dibuat sendiri dan tentu saja melibatkan pemuda mereka yang memang bergerak di bidang itu. Masih banyak support yang diberikan oleh lembaga kerohanian. Jadi, buat teman-teman di industri perfilman, jangan berkecil hati ya!

Setiap orang memiliki jalan dan panggilan berbeda, termasuk juga dalam karir, bagaimana cara Tuhan memberkati kita, bisa melalui banyak cara.

Tidak menutup mata, begitu banyak juga orang-orang Kristen  yang berkarya di industri perfilman, dan mereka bener-bener lost. Memang banyak. Apa yang kita kerjakan di industri perfilman, itu pasti hanya dua inspirasinya: Berasal dari Holy Spirit atau evil spirit. Dan itu akan mempengaruhi semuanya. Kita mencipta. Kita bekerja dengan suatu karya, buah pikiran, yang ada rohnya. Penulis, sutradara, artis, mereka akan masuk ke sana, semuanya. Maka itu ada kejadian, artis X meninggal setelah main film horor, ada kutukan dalam film ini, dan sebagainya. 

Namun percayalah, masih banyak juga anak-anak Tuhan yang berkarya di dunia perfilman dan masih ingat pada Tuhan. Mereka memiliki visi, berusaha mengubah dunia dengan karya mereka, dan berusaha menginspirasi orang. Masih ada, salah satunya adalah Ernest Prakasa. Yang suka nonton film Indonesia, tentu tidak asing dengan nama itu. Belakangan dia banyak menggarap film layar lebar dan film-filmnya memuat pesan moral yang baik (genre dia drama komedi). Bagaimana tidak, karena dia sendiri seorang anak Tuhan dan saya sudah bertemu dengan beliau. Salah satu filmnya Cek Toko Sebelah, tentang hubungan keluarga yang tidak harmonis kemudian mengalami rekonsiliasi.

Kiranya semakin banyak anak-anak Tuhan yang dipakai di industri perfilman dan memberkati bangsa ini, amin.

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER