Ignite for Everyone: Senyum Merekah di Sumba Tengah

All About GKI, Spotlight, 24 November 2019
Lagi-lagi keisengan saya melakukan sesuatu telah berhasil membawa saya ke tempat yang baru.

Tempat baru selalu punya cerita baru, baik yang menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan. Anggap saja seperti musik, selalu ada harmoni major dan minor yang saling terkait hingga terangkai menjadi satu lagu yang indah. Kali ini, saya akan membagikan harmoni major dalam rangkaian lagu saya yang telah dirangkai oleh Sumba Tengah.

Awal bulan lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Pra Sidang Raya PRPG (Pertemuan Raya Pemuda Gereja) di Waikabubak, Sumba Barat. Kesempatan ini datang dari kegiatan yang sangat biasa saya lakukan sehari-hari, yaitu scrolling Instagram. Siang itu saya melihat postingan Ignite tentang sayembara yang diadakan oleh KPPI (Komisi Pengembangan Pemuda dan Informasi) GKI. Mereka memberikan kesempatan kepada satu orang pemuda/pemudi GKI terpilih untuk menjadi utusan GKI dan diberangkatkan ke Sumba. Keingintahuan saya akan pengalaman yang akan didapat jika terpilih menjadi utusan GKI inilah yang menuntun saya untuk membuat video singkat guna mengikuti sayembara. Hingga di suatu sore, saya mendapat pesan langsung dari Ketua KPPI, Pdt. Ariel Susanto (@arielsusanto), bahwa saya berhasil meraih kesempatan yang sungguh berharga ini.

Dalam Pra Sidang Raya PRPG ini, berbagai pemuda dari sinode gereja anggota PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) bertemu dan saling bertukar cerita tentang pengalaman ekumenis mereka. Kesempatan ini juga dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh GKI untuk berbagi dengan anak-anak di Sumba lewat Ignite Charity. Karena keterbatasan waktu dan jadwal kegiatan acara yang padat, hanya dua dari lima utusan GKI (dua pendeta, satu bina kader, satu mahasiswa teologia kader GKI, dan saya) yang bisa berangkat ke Sumba Tengah. Kesempatan emas menghampiri saya lagi. Tanpa disengaja, hari itu saya memakai kaos “GKI United” dari twelve store (@xii.store) dan dipilih untuk menemani Pdt. Lydia (@lydialaura.utomo) sebagai ketua tim utusan, berkunjung ke Sumba Tengah. 

Berbagi buku ke anak-anak Sumba ternyata tidak semata-mata memberikan oleh-oleh, tapi juga ikut berbagi mimpi dan bertukar cerita dengan mereka. Lewat buku-buku dari Ignite, anak-anak Sumba bisa lebih mengenal dunia luas. Lewat cerita dari anak-anak Sumba pun, kami. para utusan PRPG mendapatkan banyak sekali pembelajaran baru. 

Mencuri waktu di tengah-tengah acara sidang tidak saya sesali sedikit pun setelah sampai di Sumba Tengah. Kami sampai di rumah Komunitas Baca Peka Oli, tempat yang sangat sederhana dan tidak seindah hamparan langit Sumba yang membuat saya terperangah selama perjalanan dari Waikabubak, Sumba Barat ke Waibakul, Sumba Tengah. Meski begitu, kami disambut dengan udara sejuk khas pedesaan dan juga salam hangat khas Sumba (saling menempelkan hidung) dari Kak Yetty, pengelola Peka Oli. Kak Yetty menceritakan secara singkat tentang Komunitas Baca Peka Oli sambil menyuguhkan kopi hangat khas Sumba untuk kami.

Peka Oli adalah bahasa daerah Anakalang (salah satu suku di Sumba) yang memiliki arti “Beri Tahu Teman”. Dari artinya, Peka Oli diharapkan bisa memberi tahu teman dan menjadi tempat untuk berbagi ilmu kepada anak-anak maupun masyarakat di Sumba. Kendala yang dihadapi Komunitas Baca Peka Oli ini pun beragam. Tidak hanya tentang distribusi dan koleksi buku yang terbatas, tetapi juga tentang sumber daya manusia dan pengelola yang memiliki beragam kesibukan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Perawatan buku dan pengelolaan tempat untuk komunitas baca ini pun sangat minim. Tidak seperti di Jawa, anak-anak Sumba tidak memiliki akses yang mudah untuk dapat membaca buku. Jangankan memilih untuk dapat membaca buku apa yang ingin mereka baca, di beberapa daerah di Sumba pun masih banyak anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis padahal usianya sudah hampir sepuluh tahun.

Matahari yang mulai turun menjadi penanda bahwa waktu singkat kami berkunjung ke Sumba Tengah telah usai. Masih sangat banyak cerita yang ingin kami bagi dan ketahui dari anak-anak Sumba. Semoga dengan Ignite Charity ini, anak-anak Sumba dapat melihat dunia lebih luas melalui buku-buku yang diberi. Sore itu, saya kembali ke Waikabubak dengan banyak keresahan sekaligus kebahagiaan atas kesempatan berharga yang boleh saya dapat. Momen paling indah yang bercokol di memori saya adalah potret anak-anak Sumba yang menggengam erat buku-buku baru mereka dengan senyum merekah.

Ignite Charity tak berhenti hanya di Komunitas Baca Peka Oli awal November lalu. Sebagai kado Natal, Ignite membuka kesempatan untuk siapapun bergabung dalam gerakan ekumenis “Sejuta Buku untuk Sumba”. Siapapun kamu dan berapapun donasimu, Ignite memberi kesempatan untuk berbagi sukacita dan menjadi berkat lewat gerakan ini. Untuk info lebih lanjut dapat langsung menghubungi penulis lewat media sosial Instagram @ka_runia.

Diberkati untuk menjadi berkat.




LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER