Apakah Masih Ada Belas Kasihan Kita Pada Saat Covid-19 Melanda Dunia Saat Ini?

Best Regards, Live Through This, 10 June 2020
Menjaga keberlangsungan hidup kita secara pribadi adalah baik, namun apakah kita perlu mengorbankan orang lain untuk keberlangsungan hidup kita? Atau adakah jalan lain supaya kita dapat bersama-sama mempertahankan keberlangsungan hidup kita bersama?

            Covid-19 telah mengguncang beberapa negara di dunia termasuk Indonesia, virus ini pertama kali terdeteksi pada 31 Desember 2019 di Wuhan, Cina.[1] Pada tanggal 2 Maret 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan dua warganya terpapar virus ini.[2] Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa sebanyak 134 warganya terpapar virus ini dan lima di antaranya telah meninggal dunia (16/3/2020).[3] Warga Indonesia pun beraksi dengan menyerbu toko ritel di Jabodetabek akibat dari pandemi tersebut.[4] Ada pula oknum-oknum yang menimbun masker dan hand sanitizer pasca pemerintah menyampaikan dua orang yang terpapar virus ini.[5] Maka, bagaimanakah sikap orang Kristen yang benar dalam menghadapi pandemi ini? Hemat saya, sebagai orang Kristen yang seharusnya ada adalah belas kasihan kepada orang lain dan bukannya egois atau mementingkan kepentingan diri sendiri. Oleh sebab itu, penulis akan mencoba menyampaikan hasil perenungan penulis dari teks Markus 1:40-45. Bahwa kita perlu berbelas kasih dan peduli kepada orang lain, termasuk penderita Covid-19. Untuk mencapai hal tersebut, pertama, penulis akan memaparkan ide dari Markus 1:40-45. Kemudian penulis akan membahas tentang Covid-19 dan berusaha melihat kesamaannya dengan teks Alkitab dari Markus 1:40-45. Terakhir penulis akan menyampaikan kesimpulan dan aplikasi.

            Pertama, Markus 1:40-45 membahas tentang mukjizat penyembuhan yang Tuhan Yesus lakukan kepada salah satu orang yang menderita penyakit kusta. Kusta adalah penyakit yang mengerikan dan berbahaya, karena dapat menular dengan mudah (ketika saya berjalan dan makan bersama orang yang menderita sakit kusta di suatu tempat, maka saya akan dengan mudah tertular penyakit ini).[6] Namun hal yang tidak terduga terjadi, Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh tubuh dari orang yang sedang sakit kusta tersebut (Mrk 1:41). Hal itu dilakukan-Nya karena Ia tergerak oleh belas kasihan-Nya. Orang yang menyentuh orang yang sedang mengalami sakit kusta akan membuat orang tersebut menjadi najis (dan tidak tertutup kemungkinan tertular penyakit itu).[7] Namun, hal yang menarik terjadi yaitu orang yang sakit tersebut menjadi tahir atau sembuh dan Tuhan Yesus tidak menjadi najis atau mengalami sakit kusta. Tuhan Yesus yang tahir dan kudus telah mentahirkan orang yang berdosa dan najis.[8]

            Kedua, Covid-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus Corona SARS tipe-2 masih berhubungan dengan penyebab SARS dan MERS yang sempat merebak beberapa tahun lalu.[9] Virus ini mungkin disebarkan oleh hewan dan mampu menjangkit dari satu spesies ke spesies yang lainnya, termasuk manusia.[10] Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk mengobati penyakit ini, namun tercatat ada beberapa orang yang telah sembuh dari Covid-19 setelah menjalani isolasi serta perawatan di rumah sakit.[11]

            Penulis akan membandingkan antara penyakit kusta (dalam konteks Markus 1:140-45) dan Covid-19. Pertama, penyakit tersebut (kusta dan Covid-19) dapat menular dengan mudah. Kedua, tidak ada (atau belum ada) obat yang mampu menyembuhkan penyakit tersebut. Namun, penyakit itu dapat sembuh dengan sendirinya, karena imun tubuh yang baik.[12] Orang-orang yang menderita penyakit ini akan dikarantina atau diisolasi atau dijauhkan dari orang banyak yang lainnya. Adanya luka batin atau psikologis dari penderita (adanya perasaan terasingkan) saat mengalami maupun setalah mengalami penyakit tersebut. Mereka perlu belas kasihan.

            Jadi, seperti Kristus yang melihat orang yang sakit kusta dengan penuh belas kasihan, kita pun sebagai pengikut-Nya perlu meneladani Dia dengan memandang orang yang sedang menderita Covid-19 dengan penuh belas kasihan juga.

            Tetapi, kita terkadang lebih mengasihi diri kita sendiri dan tidak mengasihi orang yang lain (terkhususnya yang sedang menderita Covid-19). Itu terbukti dengan fenomena yang terjadi, orang membeli barang sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri atau menimbun masker atau hand sanitizer untuk dapat meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya atas penderitaan orang lain. Namun, kita sebagai murid Yesus tidak sepantasnya melakukan hal tersebut.

            Sebagaimana Kristus mempunyai belas kasihan kepada orang lain, kita perlu menyatakannya atau menunjukkannya dengan beberapa hal seperti: tidak ikut-ikutan memborong kebutuhan pribadi. Sebagai pengusaha tidak menimbun maupun menjual masker dan hand sanitizer dengan harga yang tidak wajar. Selain itu, pedagang dapat menjual barang kepada orang lain sesuai dengan kebutuhan mereka atau tidak menjual barang dengan jumlah yang besar kepada orang tertentu (seorang atau sekelompok orang tertentu). Kita sebaiknya tidak memakai masker jika tidak sedang sakit (apalagi tidak beraktivitas di luar rumah) tetapi, memberikan masker tersebut kepada orang yang memerlukan atau sedang sakit. Terakhir dan terpenting, kita tetap berdoa memohon belas kasihan Tuhan kepada penderita Covid-19.



LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER