Lifelong Unlearning: Membiarkan Tuhan Memorak-porandakan Pengenalan Kita

Best Regards, Live Through This, 27 June 2022
“My idea of God is not a divine idea. It has to be shattered time after time. He shatters it Himself.” - C. S. Lewis

LAHIR BARU, MEMBARUI PENGENALAN

Pertengahan tahun 2016, saya menyadari kehampaan itu semakin nyata mendapatkan jawabannya. Saya semakin meyakini bahwa Yesus telah menangkap saya. Hanya Dia yang dapat memenuhi kerinduan terdalam. Tahun itu saya memberanikan diri mengambil Perjamuan Kudus, berkomitmen menyudahi periode ateis-agnostik saya, dan mengikuti katekisasi.

Sambil berproses mengikuti katekisasi menuju pengakuan percaya resmi, saya sadar tidak ingin mempunyai pemahaman iman “yang dulu”. Proses transisi ini tidak boleh sia-sia.

Saya mencoba memikirkan bagaimana agar tidak menjadi Kristen yang saya benci & mendorong saya memasuki masa-masa skeptis: Kristen yang egois, ingin menang sendiri, merasa superior, enggan mendengarkan, pun hanya peduli keselamatan pribadi dan kelompok tanpa peduli yang tersingkirkan dan kecewa.

Proses itu mengundang saya mengevaluasi bacaan rohani, yang mencengangkan dan mendorong saya mengaku dosa.

MENGAKU DOSA

Pertanyaan itu awalnya sederhana: apa saja buku rohani yang kamu baca? Lalu saya telaah lebih jauh dan bertanya, di antara bacaan-bacaan rohanimu, berapa banyak yang penulisnya lengkap memenuhi kriteria ini:

  1. Laki-laki;
  2. Caucasian, Anglo-Saxon (kulit putih, asal Inggris atau Amerika Serikat);
  3. Datang dari kondisi ekonomi menengah atau ke atas; dan
  4. Heteronormatif (heteroseksual aktif atau menikah).

Saya kaget karena hampir semua penulisnya memenuhi tiga dari empat kriteria itu, bahkan lebih banyak yang memenuhi keempatnya (untuk penulis asing).

Pertanyaan itu menjalar lebih jauh: mengapa iman yang saya peluk amat berkiblat pada dunia Barat?

Benar, tidak aneh, karena kekristenan di Indonesia disebarkan oleh misionaris Barat pada masa kolonial. Referensi keberimanan Kristen kontemporer kita juga amat berkiblat pada Amerika Serikat, negara terkuat yang masih dianggap “negara Kristen”.

Fakta itu mendorong saya dengan tidak bangga mengakui, kekristenan yang saya peluk masih cukup bisa disebut kekristenan penjajah. Amat bersujud pada konsepsi kekristenan khas Barat kelas menengah (ke atas). Bergeser dari awal mula kekristenan sebagai agama Timur Tengah dari pergerakan kaum marginal. Konsekuensi logis juga sebenarnya atas misi penginjilan yang sejak Kisah Para Rasul menyebar sampai ke area pusat imperium Romawi.

Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk beriman seperti yang saya rindukan di masa-masa pencarian saya: sungguh-sungguh meneladani Yesus dan memihaki yang Yesus pihaki?

MENATA ULANG, MENEMUKAN KEMBALI GAIRAH BERIMAN

Kesempatan menggumuli iman di tahun 2016-2017 itu mendorong saya mengotak-atik bacaan. Belajar lebih mendengarkan suara terpinggirkan. Perbanyak baca penulis perempuan, penulis lokal, dan penulis dari sudut pandang “pinggiran”. Penulis dari minoritas seksual, kelas ekonomi menengah ke bawah, penulis dari negara-negara “Dunia Ketiga”, penulis dari wilayah-wilayah di mana kekristenan menemukan kemajemukannya. Pun penulis-penulis dari denominasi dan pemahaman iman yang berbeda.

Proses ini membuat saya terkaget-kaget. Semakin banyak membaca, semakin saya sadar tidak tahu apa-apa. Semakin saya sadar begitu merindukan momen-momen ini, bagai anak kecil yang belajar dari hal-hal kecil dan terus-menerus bersukacita karena dikagetkan temuan-temuan baru yang menarik. Semakin saya sadar pula kekristenan begitu menghidupi prinsip “berbeda-beda tapi satu juga” (dalam Kristus).

Ternyata iman Kristen dimengerti secara begitu beragam oleh begitu banyak orang dari seluruh penjuru dunia di segala abad dan tempat. Mulai dari doktrin dasar seperti ketuhanan Yesus maupun Allah Tritunggal sampai implementasinya dalam isu-isu sosial, semua dipengaruhi konteks sosial-politik-ekonomi dan pembentukan sejarah yang memiliki keunikan masing-masing. Saya juga jadi belajar untuk berani mendialogkan pemahaman iman dengan agama, filosofi, dan ideologi yang lain, baik Kristen maupun non-Kristen.

Saya “dipaksa” menanggalkan yang pernah saya pahami (unlearning) dan mempelajari ulang yang saya kira mengerti (relearning). Dalam prosesnya, saya belajar membuang rasa takut “kehilangan iman” dan semakin mengamini “di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18). 

Yang mengagetkan, saya semakin berani mempercakapkan iman Kristen dengan rekan-rekan non-Kristen. Pelan-pelan saya menyadari, ternyata mengabarkan Injil Kristus tanpa beban “mempertobatkan” atau “menaklukkan dalam supremasi Kristus” sungguh mengasyikkan. 

Momen-momen membagikan pemahaman dan pengalaman, namun juga mendengarkan dan belajar ulang, adalah momen yang dulu saya begitu takuti dalam iman yang “mudah pecah” namun kini begitu saya nikmati.


ALLAH MEMBACAMU, ALLAH MEMORAK-PORANDAKAN PENGENALANMU

C.S. Lewis, penulis dan apologet Kristen termasyhur, menulis buku berjudul “A Grief Observed” sebagai bagian proses berpulih dari duka setelah istrinya yang begitu dia kasihi, Joy Davidman, meninggal karena kanker tulang. Proses itu menuntunnya benar-benar merombak pengenalannya akan Tuhan dengan beranjak dari pengalaman yang sungguh baru. Pengenalan yang melahirkan kutipan indah:

“My idea of God is not a divine idea. It has to be shattered time after time. He shatters it Himself.”

Lewis menyadari idenya tentang Tuhan bukanlah ide Ilahi. Pemahamannya harus diporak-porandakan waktu demi waktu. Allah sendirilah yang memorak-porandakannya. 

Kita pikir kita bisa “membaca Allah”. Berdisiplin rohani, rajin membaca Alkitab dan buku rohani, aktif pelayanan, semangat mengabarkan Injil dan membela iman. Cara kita “membaca Allah” itu kita coba bagikan dengan percaya diri. 

Namun tahukah kau bahwa kau tak bisa “membaca Allah”? 

Allahlah yang membacamu. 

Dalam banyak kesempatan, kita “dipaksa” memahami ulang Allah. Peristiwa memilukan, momen-momen ketika Allah terasa hening, proses meragukan Allah, pertanyaan-pertanyaan yang gagal dijawab, maupun kejahatan-kejahatan orang-orang yang mendaku beriman namun begitu jauh dari kebenaran Firman Tuhan. 

Kita akan bertanya-tanya, sungguhkah Allah ada? Beginikah sifat Allah? Pedulikah Allah pada kita? 

Kesempatan-kesempatan itulah yang akan mematangkan pengenalan akan Allah. Kita yang merasa mengenal Allah akan diremukkan, dipaksa kembali ke titik nol. Allah yang Mahakuasa, pun Allah yang mau merapuh, bersolidaritas, dan berpihak kepada yang lemah dan tersingkirkan. Allah yang begitu agung, namun bersedia begitu menghinakan diri, berinkarnasi menjadi manusia. Allah yang begitu suci, namun begitu sayang kepada manusia-manusia berdosa sehingga Dia mengaruniakan anakNya yang tunggal supaya kita beroleh hidup kekal.

Allah seperti itulah yang membiarkan diriNya dikenal, hanya bila kita melepaskan pemahaman-pemahaman yang membuat kita merasa superior, paling benar, sombong, dan enggan peduli pada pergumulan terpelik sekitar. Hanya bila kita membuka mata dan telinga, mendengar dan melihat, berbagi pengalaman iman dan saling melengkapi serta menguatkan satu sama lain sebagai sesama peziarah iman, tanpa ingin merasa lebih baik atau saling menaklukkan.

Bersediakah pengenalan kita akan Allah diporak-porandakan Allah sendiri, yang Maha Mengenal setiap ciptaanNya?

Selamat menanggalkan dan belajar ulang, lagi dan lagi, seumur hidup. Kristus merengkuh dan menyayangi.

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER