Sebuah Nyanyian Iman di Tengah Penderitaan

Best Regards, Live Through This, 04 May 2020
Di tengah ratap tangis dan hatinya yang hancur, ia tetap berulang kali menuliskan dalam lirik tersebut, “It is well with my soul”.

Siapa yang tidak kenal dengan Ayub? Dia adalah tokoh Alkitab yang hidupnya paling menggambarkan roda kehidupan. Bahkan, perputaran roda kehidupan yang dia alami seakan begitu tajam. Dari titik yang jauh di atas, terjun ke jurang yang dalam. Dari memiliki segalanya, jadi tidak memiliki apa-apa. Ayub mungkin tokoh yang terkenal karena penderitaan yang harus dilaluinya. 

Tidak hanya di zaman Perjanjian Lama ada tokoh yang seperti itu. Dalam kehidupan modern, juga ada seorang tokoh yang mengalami penderitaan dan kemerosotan tajam dalam hidupnya. Beberapa orang juga menyebut dia sebagai "Ayub Modern".

Pada 20 Oktober 1828 di kota New York, lahirlah seorang anak yang di kemudian hari akan menjadi seorang pengacara muda yang amat sukses. Namanya adalah Horatio Gates Spafford. Ia menjadi seorang yang amat sukses dalam kariernya, diikuti kesuksesannya secara finansial. Spafford merupakan penggambaran kehidupan ideal yang diinginkan oleh menusia. Dia memiliki seorang Istri dan empat anak perempuan. Di puncak karirnya tahun 1871, ia menanamkan modal hampir seluruh kekayaannya dalam proyek perumahan yang dikenal dengan nama “Real Estate”. Ironisnya, beberapa bulan kemudian terjadi kebakaran hebat yang melanda Kota Chicago tempat proyek perumahan tersebut. Akibatnya, hampir seluruh kekayaan Spafford ludes, hangus dalam proyek perumahan tersebut yang ikut terbakar.

Setelah itu, ia mengabdikan hidupnya untuk membantu pelayanan yang dilakukan oleh pengkhotbah D.L. Moody. Pada suatu kesempatan, ia akan melakukan pelayaran ke Eropa bersama seluruh anggota keluarganya. Namun karena ada urusan bisnis, Spafford diharuskan menunda pelayarannya. Kendati demikian, ia meminta istri dan keempat putrinya pergi berlayar duluan dan ia akan menyusul kemudian. Tepat 22 November 1873, kapal yang ditumpangi istri dan keempat anak Spafford mengalami kecelakaan hingga tenggelam ke dasar laut. Istri Spafford beserta beberapa penumpang lain yang selamat akhirnya berhasil mendarat. Istrinya kemudian mengirimkan telegram kepada Spafford dan pesannya bertuliskan demikian, “saved alone”. Maksudnya, hanya ia sendiri yang selamat.

Spafford kemudian langsung menyusul istrinya. Di dalam perjalanan – dengan hati dan perasaan yang sangat terluka – ia menuliskan sebuah lirik lagu yang kemudian kita kenal sekarang. Di tengah ratap tangis dan hatinya yang hancur, ia tetap berulang kali menuliskan dalam lirik tersebut, “It is well with my soul”.

Teman-teman, bagaimana dengan kita sekarang? Kehidupan kita sekarang juga mungkin bisa dikatakan menderita dan begitu sulit. Bahkan penderitaan yang ada sekarang ini bukan hanya terjadi secara personal tapi dirasakan secara komunal oleh seluruh dunia. Ya, pandemi Virus Corona ini memang menjadi momok dan penderitaan bagi masyarakat seluruh dunia saat ini. Tidak sedikit juga yang mengalami kehilangan. Entah itu kehilangan pekerjaan karena perekonomian yang tidak menentu, kehilangan kesempatan untuk dapat bertemu dan bersosialisasi secara langsung dengan orang lain, bahkan mungkin kehilangan orang-orang terdekat yang meninggal akibat terjangkit virus ini. Kita mungkin akan sepakat bahwa kehilangan-kehilangan di atas – yang entah kita rasakan atau orang lain rasakan – adalah sebuah penderitaan.

Tapi coba saya ajak kita melihat bukan ke tahun 1800-an, bukan juga ke zaman Perjanjian Lama, tapi melihat kembali ke kejadian 2000 tahun yang lalu. Allah yang kudus turun ke dalam dunia manusia berdosa, lahir dalam palungan sebagai bayi mungil yang seakan tidak bisa apa-apa. Dia kemudian harus menjalani kehidupan sebagai manusia pada umumnya. Akhir hidupnya bahkan tragis. Tidak bersalah, namun dihukum dengan hukuman paling hina waktu itu, salib. Hinaan, cemoohan seakan menjadi kutuk bagi-Nya. Bukankah ini juga adalah penderitaan bagi-Nya?

Untuk apa Dia melakukan itu semua? Salah, untuk siapa? Untuk kita, supaya kita ditebus dari dosa. Kehidupan-Nya yang penuh dengan penderitaan pun seakan berkata kepada kita bahwa kita tidak sendirian menderita dalam dunia ini. Dia, Allah yang juga turut merasakan penderitaan kita, bahkan lebih dari kita. Dia juga Allah yang tidak pernah meninggalkan kita dan selalu bersama dengan kita dalam masa-masa seperti ini. Imanuel, begitu katanya dalam Alkitab.

Kiranya pengorbanan Tuhan dan penderitaan yang juga Dia rasakan boleh menguatkan kita untuk menjalani masa sukar ini, hingga kita juga boleh berkata, “It is well with my soul”.

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER