Derita "Bucin": Sebuah Kisah Tentang "Toxic Relationship" Dengan Dosa!

Best Regards, Live Through This, 15 June 2020
Hati-hati salah jatuh cinta, bisa babak belur!

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapan itu berkata, "Aku punya banyak keinginan, tapi satu-satunya yang berlimpah hanyalah dosa." Seperti ungkapan ini, banyak di antara kita tenggelam dalam dosa yang tak kunjung berhenti kita lakukan, bahkan hingga puluhan tahun berlalu. Menjadi kecanduan berdosa hingga kerapuhan kita untuk terus-menerus jatuh menjadi suatu hal yang sering kita anggap biasa saja, "Itulah realita hidup kita sebagai manusia berdosa," dalih kita. Ungkapan yang pasrah ini seolah-olah bentuk berserah kepada Tuhan, tapi sesungguhnya itu tidak jauh dari ketiadaan keinginan untuk benar-benar bertobat.

Sekalipun kita masih ada di tengah dunia yang telah rusak dan penuh dengan tindak-tanduk kehidupan manusia yang saling menyakiti, kita semua tentu sepakat bahwa hakikat dari cinta sebenarnya adalah tentang mengasihi, memberi, dan tentu bukan menyakiti. Love shouldn't hurt. Sayangnya, dalam cerita cinta Tuhan kepada kita manusia, kita mengambil langkah sebagai orang-orang yang mencurangi cinta Tuhan, menjadi pembelot dari jalan Sang Penguasa Kehidupan. Yang lebih menyedihkan lagi, kita mengambil jalan dengan mengasihi dosa yang secara tidak langsung mempererat hubungan kita dengan kuasa kegelapan. 

Berulang kali membaca firman Tuhan, berdoa, mendengar khotbah, mengikuti kelompok sel, dan begitu banyak kegiatan pun seolah tak menjadikan kita punya daya yang cukup untuk berhadapan dengan dosa. Kita mungkin sudah berulang kali mengakui dosa dan berniat untuk bertobat. Tapi kita kembali lagi berdosa, jatuh dalam lubang yang sama, bukan hanya sekali atau dua kali. Ini adalah titik di mana kita terjebak dalam toxic relationship  dengan dosa. 

Photo by Kat J on Unsplash

Secara umum, istilah toxic relationship berarti suatu hubungan yang tidak sehat dan 'beracun'. Hubungan yang seharusnya diwarnai dengan kasih, malah penuh dengan sakit. Dewasa ini, banyak kejadian serupa memang dicerminkan dalam relasi seseorang dengan lawan jenisnya. Hal ini tidak jauh dari perilaku bucin (budak cinta), di mana seseorang rela melakukan apapun termasuk hal-hal konyol, atas nama cinta atau mabuk cinta. Meski mungkin tidak semua bucin melahirkan toxic relationship, menurut hemat saya, toxic relationship lahir dari perilaku bucin itu sendiri. 

Dalam hubungannya dengan dosa, kita tentu menyadari bahwa dosa adalah perilaku yang tidak hanya menyakiti Tuhan, tetapi juga menyakiti dan merusak diri kita sendiri. Namun yang membuat heran, mengapa kita terus-menerus berdosa walau sudah berdoa untuk mau bertobat? Jawabannya tidak jauh dari perilaku bucin terhadap dosa. Kita membuat pengakuan dosa, tetapi tidak betul-betul menyadari bahwa kita masih mencintai dosa dan rela diperbudak olehnya. Kita disakiti oleh dosa, menyakiti Tuhan dan sesama karena dosa, tapi karena cinta akan dosa menjadikan kita terus melakukannya. Iya, dosa begitu nikmat untuk harus ditinggalkan, mau diakui atau tidak. 

Oleh dosa, hidup kita babak-belur. Hal yang paling merugikan karena dosa adalah maut, keadaan di mana kita terpisah dengan Tuhan. Tentu fragmen atau cerita tentang seseorang yang hari-harinya 'kering' dan merasa Tuhan tidak hadir bukanlah suatu cerita yang asing di telinga kita kan? Ya, itulah akibat dosa. Karena dosa, kita tidak hanya terpisah dari Tuhan hari ini, tapi kita bisa terkutuk dan terpisah dari-Nya selamanya. Tuhan seperti hilang dan perlu dicari, padahal kita yang hilang. Dengan dosa, kita menjalin love-hate relationship. Benci tapi sayang, sayang tapi benci. Menyedihkan. 

Oh betapa kita butuh bertobat. Pengakuan dosa tidak cukup tanpa pertobatan yang sejati. Pertobatan yang sejati terletak pada perubahan yang terjadi, bukan saja berubah dalam arti tidak melakukan dosa, tetapi berubah cara berpikir. Dengan pikiran yang dibaharui, kita tidak melakukan dosa karena kita menyadari bahwa hal itu menyakiti Tuhan. Sayangnya realita yang terjadi soal pertobatan ini berbicara lain.

Kita cenderung mengakui dosa tanpa betul-betul berkomitmen untuk tidak jatuh lagi. Pengakuan dosa ibarat suatu pelarian dari perasaan tertuduh dalam hati bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang salah. Sayangnya, kita mengakui dosa sering sebagai cara untuk membuat perasaan tertuduh itu hilang, bukan dosa tersebut yang hendak kita hentikan. Dalam sebagian kasus lain, bahkan kita telah kehilangan perasaan tertuduh itu, ini sebuah sinyal yang berbahaya dalam kehidupan iman sebab sudah tiada penyesalan akan dosa.

Bila sudah berulang kali jatuh dan berusaha bertobat namun masih jatuh jua, apa yang salah? Tentu ada yang salah dengan kita, bukan dengan dosa - sebab dosa sudah tentu salah - ataupun dengan Tuhan - Tuhan tidak pernah salah, Ia tidak mungkin membuat kita berdosa -. Masih ada yang salah dengan kita bila kita tak kunjung bertobat? Apa yang salah? Kita yang tahu sebenarnya. Tapi, satu kalimat yang bisa merangkum itu semua adalah, "Kita masih mencintai dosa, mencintai diri kita sendiri, dan belum merelakan diri untuk bertobat."

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Kita sering menempatkan diri sebagai pihak yang pasif dalam pertobatan. Kita hanya mengakui dosa dan berharap semua segera berlalu, dengan Tuhan yang mengambil peran paling utama untuk menjauhkan kita dari dosa. Ini posisi yang salah bukan? Tuhan sudah melakukan bagian-Nya, dan pengampunan-Nya tidak perlu diragukan. Tapi, pertobatan menuntut peran kita secara aktif. Menjadi radikal adalah suatu keniscayaan dan bukan suatu kata atau kalimat asing bagi yang hendak bertobat. Sebab tanpa keinginan untuk betul-betul bertobat, semua usaha kita hanyalah pertobatan semu atau palsu.

Seruan pertobatan dan untuk berjaga-jaga serta berdoa tertulis jelas di Alkitab. Satu hal yang perlu kita ingat selalu bahwa Tuhan memberi manusia kehendak bebas, dan karenanya pertobatan manusia bukan sesuatu yang Dia paksakan. Tuhan tidak memaksa kita bertobat. Ia sangat mengingini kita untuk bertobat karena kita adalah milik-Nya. Tapi, tentang kita mau bertobat atau tidak, ada di tangan kita. Berusaha bertobat tentu adalah karya hidup dan pengabdian terbaik dan berkenan untuk Tuhan. 

Bagaimana pun, berbalik memang tidak mudah. Berhenti berdosa itu seperti suatu hal yang mustahil. Pertobatan itu sangatlah sukar dan membutuhkan proses. Namun, di balik semua itu, saya belajar percaya bahwa Tuhan menyediakan kurnia-Nya untuk menuntun kita pulang. Yang mustahil bagi manusia, dibuat-Nya berhasil. 

Pada akhirnya, mari sama-sama berhenti salah jatuh cinta. Sebagaimana kita tak mungkin mencintai tanpa lebih dulu mengenal dan berinteraksi, demikian pula untuk menanggalkan cinta pada dosa, kita harus mencintai Tuhan. Dosa bukan pelabuhan cinta kita yang tepat, sebab sakit dan rusak menjadi buah yang dijanjikannya secara terselubung. Mencintai Tuhan tentu berawal dari usaha untuk menyelami cinta-Nya yang sejak kekal hingga kekal itu kepada kita, manusia, secara kolektif maupun personal.  Biarlah Tuhan menjadi tempat terakhir dan satu-satunya di mana hati kita berlabuh. Kiranya Tuhan menolong kita, umat-Nya yang lemah dan rentan atas dosa! Tuhan menyertai. 

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER