EMAUS: Tinggallah Bersama Kami

Best Regards, Live Through This, 16 April 2020
Tetapi mereka sangat mendesakNya, katanya : "Tinggalah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Lukas 24 : 29

Beberapa minggu yang lalu, di dalam Ibadah Online Hari Raya Paskah Pemuda dan Remaja GKI di kanal Youtube Ignite, saya kembali disapa oleh firman Allah. Ibadah tersebut sudah disiapkan dengan begitu baik oleh Pdt.Yessie Irawan bersama teman-teman dari GKI Kayu Putih. Pembacaan Alkitab yang dibacakan terambil dari Lukas 24 : 13-35.

Alkisah ada dua orang murid Tuhan Yesus yang sedang berjalan menuju Emaus. Namanya Kleopas dan seorang temannya. Mereka sedang bersedih karena sahabat sekaligus guru yang mereka cintai harus mati di atas kayu salib. Di tengah rasa gundah-gulana karena kehilangan seorang guru, bisa saya bayangkan, bagaimana perasaan mereka begitu sedih dan pilu. Apa yang mereka harapkan tidak terjadi; Yesus, yang mereka harapkan menjadi Mesias, yang dapat menyelamatkan mereka dari jajahan bangsa Romawi saat itu justru kehilangan kekuatan-Nya, bahkan sampai harus mendapatkan hukuman paling keji saat itu yaitu penyaliban. 

Photo by Grant Whitty on Unsplash 

Kleopas dan temannya  yang telah kehilangan harapan itu pun kemudian pergi menuju sebuah kota bernama Emaus. Menariknya yang baru saya ketahui saat khotbah tersebut adalah Emaus merupakan sebuah daerah yang dikhususkan untuk menjadi tempat senang-senang atau hura-hura Bangsa Romawi. Secara tidak langsung saya kemudian berpikir bahwa Kleopas dan temannya sedang mencari penghiburan lain di saat mereka sedang "galau".

Kemudian di dalam perjalanan, Tuhan yang bangkit hadir di tengah mereka. Namun sesuatu menutupi pandangan mereka berdua sampai tidak bisa menyadari kalau orang yang berjalan bersama mereka adalah Tuhan. Sepanjang jalan mereka bercakap-cakap dan Tuhan pun menjelaskan isi kitab suci kepada mereka.

Photo by Debby Hudson on Unsplash 

Singkat cerita, mereka baru menyadari orang yang berjalan bersamanya adalah Tuhan ketika mereka duduk makan bersama dan  melihatNya memecahkan roti. Dan mereka memutuskan kembali menuju Yerusalem. Di akhir khotbah, Pdt.Yessie menyampaikan dan mempertegas bahwa kebahagiaan itu seharusnya tidak dicari melainkan sebuah anugerah dari Allah

Tinggal Sertaku Hari T'lah Senja
Ketika kembali mengulang-ulang bacaan tersebut saya berefleksi kemudian. Saya pun sedang berada di posisi yang sama seperti Kleopas dan temannya. Kehilangan sukacita dan harapan karena beberapa target hidup saya harus mundur tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan bahkan, saya harus #dirumahaja, mengingat pandemi COVID-19 ini juga belum tahu akan sampai kapan.

Pandangan saya dihalangi oleh kesedihan ditambah ada begitu banyak berita buruk yang saya dengar akhir-akhir ini dan saya pun memilih untuk pergi mencari kebahagiaan-kebahagiaan semu yang hanya terjadi sebentar saja.

Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash 

Di dalam perikop itu juga diceritakan bagaimana Yesus seolah-olah hendak melanjutkan perjalanan-Nya namun mereka mendesak Tuhan untuk menetap bersama mereka karena hari telah hampir malam (ayat 29). Ketika itu pun tersadar, bahwa seringkali kita tidak mengajak Allah untuk tinggal di dalam setiap hal yang kita lakukan. Terkadang kita sibuk untuk berupaya mencari jawaban di tengah segala masalah kita dengan berbagai cara, namun kita lupa mengikutsertakan Allah di dalam setiap aspek hidup kita, bahkan di dalam setiap masalah kita.

Mata kita terhalang oleh banyak hal sama seperti Kleopas dan temannya dan tidak menyadari betul bahwa Allah sebenarnya sudah berjalan bersama-sama dengan kita. Yesus kemudian menegur mereka dengan keras, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi" (ayat 25). Dan kemudian menerangkan hati dan pikiran mereka mengenai seluruh isi kitab suci tentang Sang Mesias (ayat 26).

Photo by Frida Aguilar Estrada on Unsplash 


Bagaimana dengan kita sendiri? Kristus memang benar-benar sudah bangkit. Namun apakah kita sudah betul-betul percaya dengan berita Paskah yang kita dengar? Apakah kita pun juga bisa bangkit bersama Yesus di tengah masa-masa yang paling sulit dalam hidup kita? Kleopas dan temannya memberikan kita pelajaran baru untuk mengundang dan mengijinkan Yesus yang bangkit itu agar menetap bersama kita. 

Menetap di dalam kesedihan kita, menetap di dalam kerapuhan kita, menetap di dalam segala aspek kehidupan kita, bahkan di dalam masa-masa sulit sekalipun. Di dalam dan bersama DIA saja, kita mendapatkan sukacita dan kebahagiaan tanpa harus mencari-cari. DIA yang bangkit berkuasa atas maut bahkan berkuasa juga untuk menghidupkan semangat kita yang telah padam di tengah situasi paling sulit di dalam hidup kita. 

Sebuah lagu Kidung Jemaat No.329 memberikan kita kesaksian yang sama dengan kisah perjalanan Kleopas dan temannya bersama Yesus yang bangkit yang judulnya sama dengan perkataan Kleopas yaitu Tinggal Sertaku  berbunyi demikian :


Tinggal sertaku hari t'lah senja
G'lap makin turun Tuhan tinggallah
Lain pertolongan tiada kutemu
Maha Penolong tinggal sertaku!


Mari kita undang DIA yang telah bangkit itu di dalam hidup kita. Menuntun setiap aspek dalam hidup kita dan menerangi hati dan pikiran kita dengan cahayaNya. Kiranya Tuhan yang bangkit, tetap tinggal di dalam segala aspek kehidupan kita. 

Soli Deo Gloria!!

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER