Di Kala Hidupku Tent’ram dan Senang: Sebuah Refleksi atas Pandemi

Best Regards, Live Through This, 14 May 2020
Di kala hidupku, tent’ram dan senang… dan walau derita penuh… Engkau mengajarku bersaksi tegas… S’lamatlah, s’lamatlah jiwaku!

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik dan sehat di masa pandemi ini. 

Kalian pernah mendengar sebagian lirik lagu di atas? Kalau pernah, apa sih yang kalian rasakan? Aku rasa sebagian besar dari kita pasti merasa “Aduh! iya juga yaaa… ibarat dulu itu kita senang-senang sekarang kita malah??? Ah, sudahlah….” 

Wajar sebagian dari kita pasti merasa demikian di masa pandemi ini. Kita menjadi khawatir dan cemas akan masa pandemi ini. Dulu sebelum pandemi melanda dunia, kita bisa bersenang-senang bersama orang terdekat, seperti keluarga, sahabat, kekasih, dan yang lainnya. Dulu kita dapat menjalani kehidupan dengan normal dan tanpa takut serta khawatir sama sekali. Kini? Bukankah kini kita menjadi takut dan khawatir? Kita takut dan khawatir kalau kita tidak akan bisa ke mana-mana untuk seterusnya. Kita takut dan khawatir kalau kita tidak bisa menjalankan segala sesuatu dengan bebas seperti dahulu. 


Ignite People, apakah kita sadar justru di masa yang lalu sebelum pandemi melanda, kita dapat melakukan segala sesuatu dengan sebebas-bebasnya, kita dapat menghambur-hamburkan uang, kita dapat melakukan backstreet, dan kita dapat melakukan hal yang kita mau tanpa peduli apa itu risikonya?

Di masa pandemi ini, kita mengeluh mengapa ini bisa terjadi, mengapa sulit sekali hidup jadinya, dll. Ignite People, aku berusaha memaknai kalau pandemi bukan hal yang menyusahkan. Di masa pandemi ini, kita mau diajar dan dibentuk untuk semakin menyadari dan merefleksikan kehidupan kita selama ini. Kita yang dulu bisa "senang-senang", kini menjadi "susah". Coba renungkan, apakah dulu kita senang-senang untuk kepuasan abadi atau hanya sesaat? Sebelum pandemi melanda, apakah hubungan relasi dengan orang terdekat dan sesama kita begitu baik adanya? Apakah dulu kita memiliki waktu yang dekat dengan Tuhan?

Ignite People, kini sudah saatnya kita berubah; melalui pandemi ini, kita harus semakin belajar peka dan peduli dengan apa yang ada di dalam hidup ini. Kita harus peduli dengan orang terdekat kita, kita harus peduli dengan kesehatan kita, kita harus peduli pada yang butuh pertolongan, dan kita harus peduli pada dunia ini tentunya.

Saat pandemi ini sudah seberapa pedulikah aku terhadap diri sendiri, sesama, dan hal lainnya yang penting bagi diriku? Atau jangan-jangan aku malah tidak peduli, wong perintah PSBB dan larangan mudik saja aku langgar? 

Masa pandemi kali ini, mengingatkan aku pada suatu kisah dari seorang tokoh penulis lagu yang cukup terkenal dan lagunya sering kita nyanyikan di kala kita menderita. Kisah hidupnya ini bukan tentang menghadapi pandemi, tapi bagaimana ia dapat bersyukur atas peristiwa yang menimpanya. Kisah ini tentang Horatio G. Spafford.


Dulu, kehidupan Horatio cukup menyenangkan, ia sukses dan kaya-raya, bahkan ia mampu membeli real estate di dekat Danau Michigan. Namun, pada suatu waktu ia tiba-tiba mengalami kejatuhan dalam hal ekonomi dan harus kehilangan salah satu anaknya sebelum terbelit kasus ekonomi. Tentu ini hal yang menyakitkan dan menyedihkan baginya. Sesudah peristiwa tersebut, Horatio kembali mengalami kesakitan dan kesedihan dalam dirinya ketika ia juga harus kehilangan anak-anak dan isterinya yang hendak berlibur dalam kecelakaan kapal. Tentu tidak bisa dibayangkan, betapa hancurnya Horatio. Tapi, Horatio tidak berlarut dalam kesedihannya; ia tahu Tuhan mampu menolong dan menghiburnya. Horatio menuliskan lagu tentang apa yang ia alami, ia percaya bahwa Tuhan pasti selalu menolong dan menghiburnya. Lagu yang kita kenal dengan judul Di Kala Hidupku Tent’ram dan Senang.

Ignite People, kisah Horatio mau menolong kita untuk menghadapi situasi pandemi ini dengan tidak takut, cemas, khawatir, dan sedih. Tuhan akan menolong dan menghibur kita. Mari kita belajar berefleksi dari setiap kejadian yang ada. 

LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER