Tidak Setuju Bukan Berarti Membenci

Best Regards, Live Through This, 28 June 2020
“Difference is of the essence of humanity. Difference is an accident of birth and it should therefore never be the source of hatred or conflict. The answer to difference is to respect it. Therein lies a most fundamental principle of peace: respect for diversity.” – John Hume 1998 Nobel Peace Prize Winner

Sebagai salah satu pengguna Twitter yang masih cukup aktif, saya tentu mengikuti topik pembicaraan linimasa yang sedikit banyak menggelitik buat saya. Ada bermacam-macam bentuk dan derajatnya, namun sebenarnya memiliki benang merah, yaitu seputar kebencian.Tapi saat topik-topik itu muncul, saya diam. Hingga puncaknya pada momen George Floyd dibunuh oleh oknum polisi, pertanyaan yang selama ini saya tidak sadari ada dalam hati saya akhirnya terlontar: Mengapa tidak setuju harus selalu diasosiasikan dengan membenci?Manusia dengan berbagai macam dinamika serta rentetan kejadian yang dihadapi tentunya punya peran besar dalam proses terbentuknya pribadi seseorang. Ada berapa manusia, berapa macam dinamika, dan berapa macam kemungkinan rentetan pengalaman hidup di dunia ini? Mustahil bila kita berharap bertemu dengan yang “klik” 100% dengan kita. Dengan demikian, perbedaan menjadi hal yang tidak bisa dihindari, namun selalu ada pilihan untuk ambil sikap tidak membeda-bedakan satu sama lain. 

Perbedaan ini tidak hanya berbicara sebatas soal keyakinan, warna kulit, nasib, kondisi ekonomi, atau bahkan sesederhana selera makanan, namun juga cara pandang. Dalam kehidupan bermasyarakat, suara tidak setuju adalah hal yang sangat wajar. Namun bagi sebagian orang, ketidaksetujuan akan suatu hal mengakibatkan retaknya sebuah hubungan baik, saling marah, bahkan dijadikan pembenaran untuk membenci yang lalu bermanifestasi di kehidupan nyata dalam wujud aksi seperti melakukan perundungan (bully) atau pada taraf yang lebih serius, yaitu membunuh. Jelas ini menjadi salah.

Mari belajar dari kisah yang sudah sering kita dengar dan baca, tentang Yesus dan perempuan yang berzinah. Dalam Kitab 2 Petrus 2:14 dengan jelas dikatakan bahwa orang yang hidup dalam hawa nafsu adalah orang yang terkutuk. Lalu ketika Yesus bertemu dengan wanita tersebut dan nyaris dipresekusi orang banyak, mengapa Ia tidak mengutuknya? Yesus punya hak lebih besar, bahkan dari orang-orang itu untuk menghakimi wanita ini. Tapi yang dilakukan Yesus malah sebaliknya, Ia berkata tidak akan menghukum dan menyuruhnya untuk pergi (Yohanes 8:11). Jadi dari kedua ayat ini, mana yang benar?

Dua-duanya benar. Akan menjadi (terkesan) kontradiktif ketika kita melihat dari sudut pandang yang salah. Yesus tidak sedang membenci wanita ini sebagai seorang manusia, salah satu ciptaan Allah yang berharga, salah satu biji mataNya. Namun Yesus membenci pilihannya untuk melakukan dosa zinah. Kita boleh berhenti di sini sebentar untuk benar-benar memahami yang sedang Yesus lakukan. Kemudian apa hubungannya dengan Yesus yang membiarkannya pergi? Mari kita bedah setiap kalimat yang Yesus katakan di Yohanes 8:11. “Akupun tidak akan menghukum engkau”. Di sini Yesus sedang menunjukkan kasih Allah melalui pengampunan. Ini bukti sikapNya yang pertama yang tidak membenci wanita ini sebagai ciptaan Allah. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”. Di sini Yesus sedang membuktikan sikapNya yang kedua, yang menegaskan walaupun Ia mengampuni, namun bukan berarti Ia setuju atas pilihannya melakukan dosa zinah.

Kata kuncinya adalah kasih. Ketika kita belajar tentang kasih yang serupa dengan Yesus, maka kita akan sampai ke titik pemahaman bahwa sesungguhnya kita baru akan bisa mengasihi sesama dengan semestinya ketika kita mengenal dan penuh akan kasih Kristus serta mengerti apa arti sesungguhnya dari “tidak setuju”. Manusia tidak punya kemampuan cukup besar mengasihi sesamanya jika ia tidak membiarkan dirinya sendiri diisi oleh kasih Allah terlebih dahulu, dengan kata lain dimampukan oleh Allah. Jika tidak, maka hasil akhirnya adalah sebenarnya kita sedang mencintai citra diri sendiri di dalam orang lain yang kita kasihi. Ketika orang tersebut melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita percaya itu benar, maka kita akan mudah untuk berbalik marah, bahkan membenci. Hal kontradiktif seperti ini bisa terjadi karena kita tidak mendasarkan diri dengan kasih yang benar.Lalu bagaimana jika demikian?

Apakah manusia selamanya tidak akan bisa mengasihi sesamanya? Tentu bukan itu poinnya.

Tuhan selalu senang dengan anak-anakNya yang selalu berusaha hidup semakin lama semakin serupa dengan diriNya. Jika dalam perjalanan berusaha itu ada saat-saat dimana kita gagal, well the good news is He will always got our back! So get up and try again. Justru di saat-saat seperti ini sebenarnya sangat berkenan bagiNya karena kita sedang mengandalkan kekuatan dan perlindunganNya dalam usaha menghidupi Firman.

Jadi, pastikan kita sudah mengenal dan penuh dengan kasihNya terlebih dahulu, sehingga tidak ada ruang untuk kemarahan ketika menghadapi ketidaksetujuan atau perbedaan prinsip hidup orang lain, tapi kita justru dimampukan untuk merangkul dan mengasihi mereka. Selamat mengasihi!

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER