Ku Tahu yang Ku Perlu: Sebuah Pencarian di Masa Muda

Best Regards, Live Through This, 14 April 2020
Cara seorang dewasa muda melakukan pekerjaannya, mencari calon pasangan hidup, dan membangun rumah tangga dapat menunjukkan kepribadiannya, entah sehat atau kurang sehat. Ini tidak berarti mereka tidak dapat berubah, karena justru dalam menghadapi problema inilah Firman Tuhan dapat menyentuh hidup para dewasa muda.

Masa dewasa muda (21-40 tahun) adalah masa perkembangan manusia yang dipenuhi oleh tantangan baru. Di masa ini, seseorang mulai membangun kehidupannya secara pribadi, baik dalam aspek pekerjaan, relasi dengan sesama (kehidupan psikososial), dan arah/tujuan hidupnya. Banyak hal baru yang perlu dicari dan dikembangkan oleh orang yang ada pada tahap perkembangan ini. Beberapa di antaranya adalah mencari pasangan hidup, membangun kehidupan berumah tangga, menjalani karier untuk mencapai kemapanan, dan mengurus hal-hal yang perlu diurus secara mandiri sebagai warga negara yang bertanggung jawab.


Dalam kesemuanya ini, kepribadian para dewasa muda akan nampak semakin jelas. Usaha-usahanya pada fase ini akan membawa orang dewasa muda pada tantangan untuk mengembangkan kepribadian yang sehat. Meminjam dari pengertian seorang psikolog bernama Allport, kepribadian seseorang itu meliputi bakat, minat, sikap, kecerdasan, emosi, kemampuan berpikir, berimajinasi dan mengingat. Selain itu, kepribadian juga bicara tentang aspek fisik seseorang seperti tinggi badan, berat badan, dan bahkan mungkin penampilan. Namun, aspek yang paling penting untuk digali dalam diri para dewasa muda adalah kepribadian yang bersifat non-fisik atau psikis. Kepribadian ini adalah pijakan bagi manusia untuk bisa mengembangkan dirinya dalam aspek-aspek hidupnya.


Permasalahannya, tidak semua kepribadian terbentuk dengan proses yang sehat dan cukup. Secara sederhana, jenis kepribadian orang dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu: kepribadian yang sehat dengan kepribadian yang tidak sehat. Orang dengan kepribadian yang sehat akan memiliki sifat-sifat yang menolongnya beradaptasi dengan tanggung jawab baru. Sifat-sifat tersebut di antaranya adalah memiliki kesadaran akan tanggung jawab hidupnya, penuh kehangatan, terbuka terhadap perubahan, mampu mengungkapkan yang dirasakan dengan baik, produktif dalam menyalurkan bakat maupun dalam mengerjakan tanggung jawab pekerjaannya, dan memiliki emosi yang positif. Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang tidak/kurang sehat memiliki ciri seperti tidak memiliki kesadaran penuh tentang tanggung jawabnya, tertutup dalam berelasi, mudah merasa panik atau gugup, takut, tersinggung, benci, mudah marah, peka terhadap kritik, mudah menyerah, mudah merasa kesepian, merasa bersalah dan kurang berharga.



Banyak faktor yang memengaruhinya, tetapi faktor terbesar adalah dari komunitas pertama di mana ia bertumbuh dan mengenal relasi dengan orang lain, yaitu keluarganya sendiri. Cara seorang dewasa muda melakukan pekerjaannya, mencari calon pasangan hidup, dan membangun rumah tangga dapat menunjukkan kepribadiannya, entah sehat atau kurang sehat. Ini tidak berarti mereka tidak dapat berubah, karena justru dalam menghadapi problema inilah Firman Tuhan dapat menyentuh hidup para dewasa muda.


Dalam Keluaran 30:14, Musa mengingatkan suatu fakta yang berbunyi, 


“Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” 

Merupakan tugas dari hamba Tuhan untuk dapat menyatakan kebenaran ini kepada para pemuda. Para hamba Tuhan harus melaksanakan perintah Tuhan untuk membimbing para pemuda untuk dapat melakukan firman Tuhan dan menjadi terang di dalam konteks kehidupannya. 


Karena itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:


-Pertama, hamba Tuhan perlu mendoakan setiap pemuda sambil berelasi dengan mereka. Ini dilakukan untuk mengenali kehendak Tuhan bagi pemuda dan untuk mengenali pergumulan pemuda secara spesifik.

-Keduahamba Tuhan perlu menyusun sebuah kurikulum bagi pengajaran atau program Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) yang efektif. Kurikulum yang efektif di sini maksudnya adalah kurikulum yang menyatakan Pribadi Allah dan posisi-Nya dalam kehidupan pemuda, relevan dengan tantangan kehidupan mereka. Pemuda perlu mengenal Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan mereka, sebagai kacamata mereka melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengenalan akan Tuhan melalui firman-Nya ini akan menolong pemuda menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan mereka. Dalam kurikulum ini juga, hamba Tuhan bisa memfasilitasi pemuda untuk mendapatkan pengajaran firman Tuhan yang secara langsung menyentuh bidang yang mereka geluti, khususnya dalam pekerjaan. Betapa baik jika firman Tuhan menjadi dasar mereka menjalani setiap aspek kehidupan. 


-Ketiga, hamba Tuhan perlu secara terus-menerus memerhatikan pertumbuhan rohani pemuda melalui pembesukan, konseling, atau KTB. Dalam memerhatikan pertumbuhan rohani pemuda, satu prinsip alkitabiah yang sangat baik untuk dianut dan dibagikan kepada para pemuda adalah bahwa gereja bukanlah tempat untuk orang sempurna. Para hamba Tuhan bisa mengutarakan prinsip ini dalam setiap ibadah kepada jemaat, secara verbal maupun dalam kehidupan berelasi. 


Gereja perlu terbuka untuk melayani orang-orang yang gagal dalam memperjuangkan iman, supaya gereja dan para hamba Tuhan dapat menjadi “pintu” bagi orang-orang berdosa untuk datang kepada Yesus Kristus. Paulus sendiri mengaku dalam Efesus 2:3-7 bahwa dirinya adalah orang yang seharusnya dimurkai Allah, tetapi Allah membuka tangan-Nya dan mengubahkan hidup Paulus. Karena itu, sikap hati yang terbuka untuk menolong dan melayani orang-orang berdosa harus menjadi sikap yang utama dalam diri pelayan-pelayan Tuhan.


Masa dewasa muda adalah salah satu masa yang baik bagi manusia untuk menerapkan firman Tuhan dalam segala aspek kehidupannya. Apalagi masa ini disambut dengan banyak tanggung jawab pribadi yang harus diambil oleh seorang pemuda. Menentukan tujuan hidup, mencari pasangan hidup atau membangun rumah tangga, serta meniti karier adalah tantangan bagi pemuda, tetapi juga merupakan peluang untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Ketika mereka mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya, maka ini akan berdampak dalam segala aspek hidup yang mereka bangun. Dengan begitu, mereka dapat menjadi terang bagi sesama mereka, di mana pun mereka berada. 



Melihat pengharapan dalam Tuhan yang tersedia bagi pemuda ini, gereja dan hamba Tuhan dapat melakukan beberapa hal seperti mendoakan mereka, menjalin relasi dengan mereka, mengenali pergumulan mereka, memfasilitasi mereka dengan pengajaran yang alkitabiah dan relevan, serta menunjukkan kesediaan untuk melayani mereka sebagaimana yang Yesus lakukan pada murid-murid-Nya. Prinsip-prinsip praktis ini akan menolong gereja membawa terang Tuhan ke dalam kehidupan pemuda.

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER