Jangan Pernah Merasa Gereja Kita Paling Keren!

Best Regards, Live Through This, 10 June 2020
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. “– (1 Yohanes 4:7-10)

Terkadang kita merasa bahwa gereja kita itu paling keren, paling oke, dan paling banyak jemaatnya. Beberapa dari kita juga sering kali mendengar kalimat, “Lo gereja di mana?” atau "Gereja lo keren juga!” Sebenarnya kita secara tidak langsung merasa bahwa yang keren itu gereja secara bangunan.

Perkataan di atas tampak seakan-akan menyempitkan definisi 'gereja'. Pada dasarnya, gereja bukan hanya sebuah gedung ibadah atau tempat.

Ingatkah kita terhadap lagu “Gereja adalah Orangnya”? Ya, gereja itu adalah orang, bukan sekadar tempat atau bangunan itu sendiri. Esensi beribadah sesungguhnya adalah menyembah Tuhan kita, Yesus Kristus. Tentu, yang kita sembah adalah Allah yang hidup dalam membimbing, menuntun, dan menyertai kita dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita hanya melihat gereja dari pendeta yang berkhotbah bagus, bangunan megah gereja, jemaatnya banyak, atau puji-pujiannya yang indah, sesungguhnya kita sudah kehilangan hal yang esensial, yang terpenting justru adalah siapa yang kita sembah.

DIA adalah Allah, Tuhan yang hidup bagi kita semua, yang ada di dalam hati kita. Seperti dalam Alkitab tertulis:

“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” – Roma 8:9

Oleh karena itu, jika tubuh kita milik Kristus dan Roh Allah diam di antara kita yang percaya, maka Roh Kristus yang hidup memang dicurahkan atas kita. Di dalam Roh Allah, kita ini diiringi dalam setiap kata dan perbuatan kita. Tetapi, jangan lupa bahwa roh itu penurut dan daging itu lemah. Seperti tertulis dalam Matius 26:41, 

“ Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” 

Ayat ini sudah jelas menunjukkan bahwa kita harus menuruti keinginan Roh, sekalipun tidak mudah. Kita harus mau dibimbing, dituntun, maupun disertai dalam setiap langkah yang kita jalani bersama dengan Roh Kudus. Selalu andalkan Roh Kudus karena setiap langkah kita tidak akan pernah berarti, bila kita hanya menuruti keinginan daging kita.



"Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" –  1 Samuel 17:26

Ayat di atas adalah bagian dari kisah Daud yang sangat terkenal, yaitu kisah Daud melawan Goliat. Daud merupakan orang yang mengikuti setiap perintah Allah dan hidupnya sangat dikasihi Allah. Oleh karena itu, Daud dengan berani berperang bagi Israel. Hanya dengan katapel, ia berhasil mengalahkan Goliat setinggi enam hasta sejengkal (kira-kira 3,2 meter). Daud tidak akan menang jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Daud menang karena tuntunan Tuhan ada pada Daud. Kita tentu berpikir, “Luar biasa karya Tuhan kepada Daud.” Pertanyaannya, apakah kita bisa seperti Daud? Jawabannya bisa. Tentu kita harus rendah diri dan taat di hadapanNya. 

Jika kita kembali kepada konteks bahwa gereja dewasa ini, orang mungkin cenderung melihat bagian yang 'indah-indah' saja, tanpa memperhatikan nilai terpenting, yaitu bersekutu dengan Tuhan secara intim. Mungkin sebagian kita ada yang cenderung mau tampil keren-kerenan saat bergereja di tempat A, tempat B, tempat C, tanpa memahami dan mengerti bahwa esensi gereja adalah bertemu dan bersujud di hadapan Tuhan. Tentu, kita juga jangan lupa untuk berdoa, baca firman Tuhan, dan bermazmur bagiNya. Hal itulah merupakan proses seumur hidup kita menuju kekekalan nanti.

 

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."
– (1 Yohanes 4:7-10)

Kasih adalah tentang mengenal Allah. Allah adalah kasih itu sendiri. Jadi, kita dalam bergereja hendaknya juga harus saling rukun, damai, dan hidup berdampingan sebagai sesama umat gereja dan bagi manusia lainnya. Kita harus mengerti akan makna hidup bergereja. Jangan ada lagi rasa keren-kerenan gereja kita dalam bentuk bangunan. Karena sekali lagi gereja adalah orang sebagai tubuh dan bait Allah itu adalah tubuh Kristus. Mari hidup damai dan rukun!

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER