Aku Ingin Ikut PA, Tapi Kok Jadi Gitu?

Best Regards, Live Through This, 01 August 2019
Saat anak anak: sibuk main game, sibuk main ke rumah teman. Saat remaja: sibuk les, sibuk mempersiapkan masa depan. Saat pemuda: sibuk kuliah, sibuk sama gandengan. Saat dewasa: sibuk berumah tangga, sibuk mengurus kerjaan. Saat lanjut usia: sudah tidak bisa apa apa, kan kasihan. Jadi, kapan kalian punya waktu buat Tuhan?


Ayat di atas adalah ayat yang aku lihat di halaman terakhir warta gereja. Setiap kali aku mengambil warta, ayat itu selalu muncul di tempat yang sama. Aku berpikir, “Mbok ya emang udah setiap hari Minggu ke gereja, ngapain coba ayatnya ditulis lagi. Harusnya itu, kan udah jadi kesadaran diri sendiri.”


Tapi ternyata pemikiranku salah.

Pada masa sekarang, semua orang sedang SUSAH-SUSAHNYA untuk diajak beribadah. Mereka (bahkan kita!) sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mungkin sajak ini bisa sedikit menggambarkan keadaan tersebut:


Saat anak anak: sibuk main game, sibuk main ke rumah teman.

Saat remaja: sibuk les, sibuk mempersiapkan masa depan.

Saat pemuda: sibuk kuliah, sibuk sama gandengan.

Saat dewasa: sibuk berumah tangga, sibuk mengurus kerjaan.

Saat lanjut usia: sudah tidak bisa apa apa, kan kasihan.


Jadi, kapan kalian punya waktu buat Tuhan?


Di zaman sekarang, bisa dibilang hanya sedikit dari keseluruhan kaum muda yang masih mau meluangkan waktunya untuk merenungkan Firman Tuhan (ini dalam konteks Pemahaman Alkitab, alias PA). Ada kemungkinan sebagian besar remaja-pemuda berpikir bahwa lebih baik waktu yang ada digunakan untuk belajar, atau mungkin untuk nge-date sama pacar    Belum cukup di situ, seringkali Pendalaman Alkitab hanya diisi oleh bapak-ibu, bahkan dari anggota Komisi Lansia (!!!). Duh. Jangankan PA, bahkan kadang-kadang tidak ada yang datang ke ibadah/persekutuan remaja-pemuda!

Sedih? Hm... Aku punya pengalaman mengenai hal ini.


Photo by Sarah Noltner on Unsplash 


Aku berasal dari Purwokerto, tapi aku berkuliah di Jogja. Karena sedang libur semester, jadi aku pulang ke kota asal. Singkat cerita, aku pergi ke sebuah gereja karena diajak oleh adik kelasku. Aku ikut ibadah di sana dan seringkali juga diajak berkegiatan bersama, baik di dalam maupun di luar Gereja. Tanggung dong, kalau aktifnya setengah-setengah. Selagi bisa mengikuti kegiatan di sana, kenapa tidak?


Setelah dua kali aku ikut kebaktian pemuda-remaja (KPR) dan ibadah umum di sana, aku pengen banget ikut PA di sana. Jujur saja, awalnya aku sedikit takut karena katanya yang biasa ikut di situ hanya para lansia. Tapi ya bodo amat lah, aku kan cari firmannya, bukan tempat ataupun komunitasnya.


Akhirnya hari PA pun tiba.

Saat aku tiba di gereja, cuma ada satu bapaksekaligus kakek temankudengan sepedanya di situ. Dalam hati aku berkata, “Asikk... Masih sepi.” Kemudian aku memarkirkan sepedaku di belakang mobil gereja. Setelah membalikkan badan, ternyata udah ada oma-oma yang duduk di depan kantor. Aku berjalan ke situ dan menyalami mereka. Mungkin karena kaget baru pertama melihatku datang, terjadilah obrolan ini:

“Mbaknya penyanyi yang buat latihan angklung nanti ya, Mbak?”

Ngga, Bu. Saya mau ikut PA.”

“Mbaknya kuliah apa udah kerja?”

“Masih kuliah, Bu.”

“Di sini kuliah apa, Mbak?”

Ohh... ngga, Bu. Saya kuliah di Jogja.”

Owalah, lagi liburan ya, Mba. Mbaknya lagi mau mulai praktek di sini ya?”

Ngga, Bu. Saya lagi liburan aja. Hehehe...


Pertanyaan sang oma tersebut membuat aku bingung, sekaligus bertanya-tanya, “Gereja ini mau dibangun apa lagi, sih? Kayaknya udah lengkap deh. Kok, aku dikira mau praktek di sini?”


Belum sirna keherananku, aku diajak duduk di antara mereka. Tidak lama kemudian, ada seorang ibu bertanya dengan lirih, “Lho Mba... keluarga udah Kristen?” yang langsung aku jawab, “Puji Tuhan sudah, Bu. Dari dulu.”


Photo by Rachel Lynette French on Unsplash 


Jujur saja, masih ada banyak pengalaman aneh yang aku alami selama hari itu. Namun dari sini, kita jadi tahu bahwa kebanyakan kaum muda saat ini telah menghilang secara perlahan karena kesibukan masing-masing. Pertanyaan ibu tadi seakan menyiratkan bahwa (biasanya) kaum muda HANYA datang ke gereja KALAU ADA PERLUNYA SAJA. Kalau bertugas di ibadah ya berangkat, kalau tidak ya nanti sajalah. Seolah-olah hanya orang-orang yang menekuni bidang teologi saja yang ikut PA, atau hanya orang yang bekerja di gereja yang mau terlibat dalam pelayanan. Yang paling menyedihkan adalah dianggap jiwa yang baru dimenangkan, sehingga sedang giat-giatnya mempelajari Alkitab. Yahhh... seperti pengalamanku itu.


Di mana kaum muda Kristen saat ini? Sibuk?

Di mana kaum muda yang seharusnya menjadi sumber kreativitas untuk mengembangkan dan memajukan gereja? Bukankah kita yang seharusnya berperan besar dalam pelayanan? Masa' harus menunggu tua dulu baru aktif melayani? Huft, iya kalau itu belum terlambat.


Kalau kita berkata bahwa Tuhan adalah segala-galanya, padahal sikap kita berkata sebaliknya, apakah kita masih layak mendengungkannya? Well, aku juga bukan orang yang sempurna, teman. Kadang-kadang aku bergumul dalam kemalasan dan salah bertindak. Tapi yuk, kita saling mengingatkan mengenai pentingnya persekutuan dengan Kristus, dan tidak melupakan apa yang sudah menjadi bagian kita. Benarkah hidup kita sudah benar-benar tertuju kepada-Nya, atau justru sibuk demi eksistensi diri sendiri?


Photo by Aaron Burden on Unsplash 


Kita ulangi pertanyaannya:

Di mana kaum muda Kristen saat ini?

Coba bayangkan kita sedang duduk di bangku gereja, melantunkan pujian selama prosesi masuk. Lalu mata kita melihat ke arah seseorang yang berjalan dengan terburu-buru karena ibadah sudah dimulai. Kemudian saat pelayanan firman, kita menoleh ke belakang dan melihat ada juga yang duduk di baris belakang dan sedang menunduk menatap ponselnya.


Kalau kita sudah sering berpikir bahwa orang-orang seperti itu adalah tipe jemaat yang tidak memiliki niat untuk beribadah, sekarang kita coba belajar ganti cara pandangnya, ya. Sebagai contoh, berkaitan dengan kasus di atas, mungkin yang datang terlambat tadi karena sebelum ke gereja, dia menolong orang lain yang sedang kesusahan. Bagaimana dengan yang memainkan ponsel? Ah, ternyata dia baru baca Alkitab.


Yuk, kita belajar berpikir positif dan giat mengerjakan tanggung jawab kita. Jangan sampai ada teman yang kepahitan karena kita terbiasa berburuk sangka    Oh, ya! Kalau benar kaum muda adalah generasi penerus yang Tuhan berikan kemampuan untuk berkarya di gereja, jangan ragu untuk mengembangkan talenta maupun karunia rohani kitaagar memberkati jemaat dan (tentunya) memuliakan Tuhankarena melayani tidak hanya sebatas menjadi penatua maupun pengurus komisi  Plus, kita bisa menggunakan  potensi yang Tuhan percayakan untuk menjangkau teman-teman yang bergumul dengan tujuan hidupnya. Semangat, guys!

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER