#BeraniBeda... yang Seperti Apa?

Best Regards, Live Through This, 19 September 2019
Berbeda yang dimaksud bukan secara fisik (lagipula Tuhan memang menciptakan kita ini unik, kan?), melainkan pikiran, perkataan, dan perilaku kita!

Hi, Ignite people!

Pernah cabut pelajaran karena ikut-ikutan temen? Atau mungkin ikut pelayanan sebagai panitia acara karena ketuanya ganteng? Atau yang lebih simple deh,


"Pernah nggak ketawa karena ada temen yang ketawa, padahal kita nggak tahu apa yang diketawain?"


Disadari atau nggak, kita (iya, saya juga pernah mengalaminya) sering ikut-ikutan melakukan sesuatu walaupun nggak tahu apa-apa. Mungkin bagi sebagian kita yang pernah melakukan salah satu (atau semua?) di antara tiga hal di atas, "Aih, yang penting nggak ansos (anti sosial), kok! ... Lho kan, aku pelayanan! ... Lho, nggak masalah, dong, kalo aku ketawa. Yang penting semuanya hepiiiii."

Ngerti polanya, kan?

Yaps! Ketakutan-akan-ditinggal-sendirian-karena-berbeda adalah salah satu faktor terbesar kita mengikuti budaya yang dunia tawarkan. Well, nggak salah kok kalau kita ingin up to date dengan tren fashion maupun bacaan dan musik yang sedang in. Namun ketika ada hal-hal yang mengompromikan kebenaran (misalnya cabut kelas karena bosan, atau terbiasa berbicara kasar karena peer group kita juga begitu), bagaimana kita menyikapinya selama ini? Ironisnya, kita berupaya sedemikian keras agar menjadi serupa dengan dunia ini, padahal jelas-jelas kita ini adalah anak-anak Allah—yang seharusnya menjadi "berbeda" dari dunia.


"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna"

- Roma 12:2



Photo by Randy Fath on Unsplash 



Ayat di atas menunjukkan bagaimana Allah menegaskan kepada kita untuk tidak serupa dengan dunia ini, bukan berarti kita menjadi planet.


Hmmmmm...... jadi alien gitu? Atau zombie?


No, no, no. Berbeda yang dimaksud bukan secara fisik (lagi pula Tuhan memang menciptakan kita ini unik, kan?), melainkan pikiran, perkataan, dan perilaku kita!


Allah meminta kita untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ini. Kalau nggak percaya, coba deh, lihat keputusan-keputusan apa yang kita ambil dengan berbagai penawaran yang ada:

  • mau gereja apa tidur?
  • mau ke kantor apa bolos?
  • mau pergi sama A apa sama B?
  • makan arem-arem apa lemper?
  • ... dan sebangsanya.


Saking lelahnya menentukan pilihan, akhirnya timbul keinginan kita untuk memilih jalan pintas—alias SETUJAH (setuju dan "iya ajah"). Kita membiarkan orang lain mengambil keputusan atas hidup kita, yang parahnya kadang kita jadi sungkan menolak pilihan tersebut—padahal kita tahu itu nggak banget buat kita. Oke deh, kalau soal makanan masih bisa kita tolerir (beda cerita kalau kita #TimAntiPedas padahal ada yang mau traktir ayam geprek cabe 20). Tapi bagaimana ketika hampir semua teman sekelas kita memilih titip absen demi ikut demo? Mau ikut bolos, tapi ada jadwal presentasi; nggak mau bolos, malah disuruh tanda tangan di daftar presensi.


Rasanya seperti makan buah simalakama, ya?


Photo by Brendan Church on Unsplash 


Nah, itulah alasan pentingnya berinteraksi dengan Tuhan setiap saat, Ignite people! Seperti anak dengan ayahnya, kita (yang (mengaku) sebagai anak-anak-Nya) juga harus membangun hubungan pribadi dengan Tuhan kapapun melalui (setidaknya) tiga hal berikut:


1. BACA ALKITAB - RENUNGKAN - LAKUKAN

Kalau saya bertanya pada Ignite people, "Apa makanan kesukaan sahabat kalian?", pasti jawabannya langsung terpikirkan dengan jelas, kan? Ada yang nasi goreng, opor ayam, rujak, dan lain-lain. "Kalau warna kesukaan pacar?" Jawabannya pun beragam. Lah, kenapa Ignite people bisa mengetahuinya? Karena kita bergaul dekat dengan mereka. Ada hubungan yang terjalin, sehingga muncullah komunikasi di antara Ignite people dengan mereka.

Begitu juga kita dan Tuhan, Guys. Dia udah kasih firman-Nya melalui Alkitab biar kita tahu kehendak-Nya. Meskipun apa yang disampaikan-Nya tidak serinci yang diharapkan (misal, "Besok kamu doain si A. ... Hari ini jangan makan junk food. ... dan sebagainya."), tapi Tuhan memberikan prinsip-prinsip mengenai kehidupan yang kudus! Ketika kita membaca dan merenungkan firman-Nya, pelan-tapi-pasti kita akan semakin mengenal siapa Tuhan kita dan memiliki kesadaran serta ketaatan penuh untuk melakukan kehendak-Nya. Percayalah, kita nggak perlu sampai melakukan perjalanan ke sorga demi bertanya, "Tuhaaaann, Engkau mau aku ngapaini?", karena Dia sanggup membimbing kita melalui berbagai cara. Alkitab adalah salah satu buktinya.


"Alkitab membimbingku pada Jurus'lamatku

dan membuatku sadar bila aku tak benar"

KITAB SUCI HARTAKU  - KJ 051 (bait 2) 


2. BERDOA

Berdoa bukan hanya pelengkap bacaan Alkitab (kalau kata anak sekarang, "Biar afdol"), melainkan sebagai sarana kita untuk berbicara langsung ke Allah, begitu pula sebaliknya. Contoh nih, meskipun secara teori kita tahu harus mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5:44), tapi praktiknya? Beuhhhh... susah pisan! Oleh karena itu, kita harus berdoa, memohon kekuatan Tuhan untuk menjalankan misi kasih-Nya bagi dunia ini—bukannya mementingkan kehendak diri sendiri.

By the way, Tuhan juga bisa berbicara melalui doa kita, lho.  Ada saatnya di mana kita perlu berdiam diri, berkonsentrasi penuh, dan mendengarkan-Nya berbicara. Cara Tuhan dalam berkomunikasi tidaklah selalu dalam bentuk audible, karena toh Dia bisa berbicara melalui memori kita, aktivitas sehari-hari kita, bahkan saat kita menangis.


3. HIDUPI NYANYIAN HIDUPMU

Mungkin bagian ini terdengar aneh, tapi percayakah Ignite people bahwa lagu maupun puisi dapat menolong kita untuk terus mengingat komitmen kita di hadapan Tuhan?

Ketika kita terbiasa menghayati setiap kata dan melodi yang ada dalam sebuah lagu (atau puisi), memori kita (melalui Roh Kudus) dapat mengingatkan banyak hal... termasuk ketika kita sedang bergumul dalam mengambil keputusan sulit yang bisa mempertaruhkan semua yang telah kita bangun. Kalau kata Agustinus, "Ketika kita menyanyi, kita telah berdoa dua kali." Memang tidak mudah untuk benar-benar menghayati nyanyian yang ada (apalagi kalau kita pernah meragukan kehadiran Tuhan), namun bukan berarti tidak mungkin mungkin untuk dilakukan. Pertanyaannya, "lagu" seperti apa yang kita hayati selama ini? Apakah "lagu" yang berfokus pada "aku, aku, DAN aku", atau "lagu" yang menegaskan bahwa Kristuslah Raja kehidupan kita?



“Saat keadaan sek'lilingku ada di luar kemampuanku, 

'ku berdiam diri mencari-Mu

 Doa mengubah segala sesuatu"

(Doa Mengubah Segala Sesuatu  - Vania Larissa)



Saat Allah menantang kita untuk menjadi serupa dengan-Nya (yang JELAS-JELAS BERBEDA dari dunia), apa jawaban yang akan kita berikan? 


LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER