Pacarku Satu Gereja, Loh! (Yakin Bikin Bahagia?)

Best Regards, Live Through This, 24 March 2020
Sebuah pengungkapan pengalaman pribadi yang seharusnya jangan sampai terulang kembali kepada kalian.

Kisah ini berawal dari aku yang mendapati diriku tidak mampu membohongi perasaan yang tumbuh saat itu, dengan salah seorang perempuan yang kutemui di perkumpulan mingguan kami. Aku mendekatinya dengan pikiran tidak akan mampu jatuh cinta dengan dirinya. Namun apa daya, berbagai dorongan membuat perasaanku menjadi sangat goyah seketika. Aku pun mengikat komitmen dengan dia yang menjadi pujaan hatiku saat itu. Entah apa yang merasuk pikiranku untuk menjalin hubungan bersamanya, yang ternyata juga adalah salah seorang aktivis gereja.

Photo by Everton Vila on Unsplash 

Naas, hubungan ini harus kandas di tengah jalan karena satu dan lain hal. Berangkat dari sebuah pemikiran, "Ah dia hanyalah seorang perempuan biasa." Waktu berjalan dan ternyata pemikiranku tersebut salah besar. Aku merasa ada sesuatu yang ganjil ketika aku kembali ke rumah (read: gereja) dan mengikuti Kebaktian Remaja seperti biasa. Aku diminta menjadi WL secara mendadak dan aku pun mengiyakannya, tetapi semua semakin janggal ketika aku maju ke depan, mengarahkan arah pandang mataku ke teman-teman remaja, dan disitulah semua terasa asing dan pahit. Aku melihatnya sudah duduk bersama dengan yang lain dan laki-laki itu merupakan seseorang yang banyak digandrungi oleh kaum hawa. But show must go on, aku mencoba tidak melihat kejadian tersebut. Selesai kebaktian, aku mencoba merenungkan apa yang salah dalam diriku.

IGNITE People dan para kaum muda yang kukasihi, memang begitu besar gejolak untuk mendekati dia yang ada di gereja yang mungkin sudah menjadi incaranmu sejak lama. Ketahuilah, Allah memang mengehendaki setiap manusia yang diciptakannya mengasihi, bahkan menjalin hubungan satu sama lain untuk saling melengkapi seperti ada tertulis dalam Yohanes 15:12 yang berbunyi:

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash 

Ingatlah bahwa Allah juga menciptakan akal budi agar kita dapat memilah dan menelaah karakter masing-masing orang yang dekat dengan kita. Kalau memang diantara kalian ada yang menyukai satu sama lain dengan harapan mampu mengambil hati masing-masing, berdoalah dan bergumulah kepada Tuhan untuk dia yang kamu idam-idamkan selama ini. Tanyakan kepada Tuhan, apakah memang ia adalah orang yang sepadan dengan saya. 

2 Korintus 6:14 berkata demikian, 

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"

Pacaran yang sehat adalah pacaran yang saling menguatkan satu sama lain dengan tertuju dan terfokus pada apa yang Firman Tuhan katakan kepada kita semua. Pergumulan akan pasangan merupakan pergumulan yang tanpa akhir sebelum kamu mampu memutuskan dengan hikmat dari Tuhan, bahwa she/he is the one for me. Selanjutnya yang bakal ditekankan di sini adalah, ketika kamu sudah secara “resmi” mendapatkan hatinya dengan tambahan embel-embel status ‘pacar’, apakah kalian sudah belajar membangun hubungan selaras dengan Firman Tuhan? Bagaimana pun ini adalah jawaban 'ya' yang sementara, sebelum kamu kembali melihat bahwa di luar sana ada dan bahkan banyak yang 'lebih baik' dari dia yang sekarang bersamamu saat ini. Firman Tuhan berkata dari 1 Korintus 15:33 

"Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."

Photo by Brooke Cagle on Unsplash 

Maka, ingatlah bahwa sekalipun kita diberikan kesempatan untuk mendapatkan status sebagai pacar si ini, atau pacar si itu, kita tidak boleh berhenti belajar dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan seturut dengan Firman Tuhan. Bisa jadi, kelak hubungan ini menginspirasi banyak orang dan dicap sebagai relationship goals bagi sebagian orang. 

Pada bagian akhir, aku hanya ingin berbagi; bahwa sekiranya Tuhan berkehendak jalan lain yang kurang mengenakan alias harus putus di tengah jalan, berdamailah dengan dirimu sendiri. Ini penting karena Tuhan memiliki rancangan yang lebih indah dari yang kita duga sebelumnya. Selain itu, Firman Tuhan juga mengehendaki kita berdamai dan bahkan mengasihi orang yang sudah menyakiti hati kita dengan tetap mendoakannya. Berdamai dengan diri sendiri dan mendoakan orang yang kamu kasihi atau yang menyakiti hatimu adalah cara yang tepat dalam menjalankan kehidupanmu dalam bergereja, serta bermasyarakat. Pacaran dengan orang yang memiliki keanggotaan gereja yang sama memanglah menyenangkan, tetapi lebih menyenangkan lagi ketika kamu mampu tetap berhubungan baik dengan orang itu, yang sudah menyakiti hatimu.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yeremia 29:11

LATEST POST

 

Seorang aktris Korea, Park Shin Hye pernah ditanya dalam suatu acara variety show yang dibintanginya...
by Monica Petra | 26 Oct 2020

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana&quo...
by Lia Oozz | 26 Oct 2020

[Disclaimer: This article is based on writer experience]As an Asian that lives in the Asian continen...
by Marcella Liem | 26 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER