Untuk Kamu yang Sedang Patah Hati

Best Regards, Live Through This, 13 February 2021
Orang-orang berharap ada hikmah di balik patah hati yang dialami, dan ada hal indah usai masa kelam yang sedang ia alami ini. Namun apakah benar begitu? Ironisnya, tak jarang kita justru langsung memilih "meloncat" agar segera bisa melihat pelangi, tanpa memedulikan hujan yang sedang turun dengan lebatnya.

Kalian pernah ga sih mengalami patah hati? Kalaupun belum pernah, pasti pernah dong melihat teman yang mengalaminya. Nah, coba kita sama-sama kilas balik, apa aja tingkah laku orang-orang yang sedang patah hati. Mungkin ada yang sampai ga nafsu makan, menyendiri di kamar, atau justru ada pula yang jadi lebih nafsu makan dan lebih banyak jalan-jalan ke luar. Wah, wah, wah... Ternyata setiap orang memiliki cara beragam dalam meresponi patah hatinya, ya.

Kata orang, cinta itu punya banyak rasa dan nggak ada dua patah hati yang sama (ya walaupun pasti ada pahitnya, sih). Setiap hati patah dan pulih dengan caranya masing-masing, dan pada akhirnya hal inilah yang membuat kita bisa tersenyum getir di muka kehidupan, serta membatin, “Jadi ini yang bikin hidup lebih hidup….” Tapi rupanya kembali pulih dari patah hati tidak semudah seperti cerita-cerita di film, FTV, atau novel, Ignite People. Kalau mau dihitung porsinya, kayaknya lebih banyak getir (bahkan lebih banyak pedihnya) daripada manisnya. Tapi mungkin benar seperti kata penyair-penyair roman, "Siap mencinta, siap terluka". Bagi penyimak akun Pdt. Wahyu Pramudya (@wahyupramudya), pasti tidak asing dengan kalimat beliau, "Mencintai hanyalah untuk para pemberani." Hm, sepertinya antara cinta dan luka menjadi pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Tapi. tapi... kenapa sih kita bisa mengalami patah hati? Kecewa tentu saja, tapi apa sih yang membuat kita kecewa? Apakah kekecewaan dan kesedihan itu karena kita sedang menyalahkan diri sendiri, atau sedang mempertanyakan kenapa "nasib baik" seolah-olah tidak berpihak pada kita yang telah menyerahkan hati ini kepada dia-yang-tak-lagi-bersanding-dengan-kita?


Kalau mau jujur nih, rasa kecewa ini timbul dari ketidaksesuaian ekspektasi dengan realitas. Contohnya, kita berekspektasi menjalin kasih dengan pacar tersayang dengan bahagia. Namun realitasnya doi justru selingkuh, berubah sikap menjadi menyebalkan, tidak lagi perhatian pada kita, yang akhir-akhirnya berakhirlah hubungan kasih yang dijalani. Nah, Minol* dan Minli** pernah berdiskusi mengenai hal ini, dan ujung-ujungnya kami jadi mengingat patah hati yang pernah Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kami.

Bagi Minol, patah hati dengan pacar pertama membawa rasa frustasi karena alkisah, terjadi gegara keluarga si dia yang notabene didominasi dokter, mencabut SIM (Surat Izin Macarin) karena Minol memiliki penyakit autoimun. Awalnya Minol berusaha mempertahankan, bahkan berniat membalas data dengan data. Karena tidak terima dengan penolakan para dokter dari keluarga doi, Minol menghadap dokter langganan yang notabene dokter kepresidenan dan hendak meminta review tertulis dari dia mengenai betapa "stabil" dan "amannya" kondisi Minol saat ini (setelah melalui berbagai terapi pengobatan). Namun di hadapan dokter itu, ketika Minol baru mau membuka mulut, terdengar suara batin yang begitu jelas, “Kamu nggak perlu membuktikan apa-apa.” Akhirnya Minol nggak jadi minta statement, dan memutuskan untuk membubarkan hubungan yang sudah tidak ada SIM-nya itu.   


Saat dihadapkan pada peristiwa hubungan yang kandas seperti itu, kita tentu kecewa, dan merembet pada rasa marah dan sedih yang berlarut-larut. Lalu dengan beragam cara kita mencoba untuk move on, pergi menjauh dari rasa patah hati yang sedang kita rasakan. Mulai dari mencoba berbagai aktivitas baru, berteman dengan orang-orang yang baru, bahkan segera berelasi lagi dengan orang yang berbeda dari sang mantan. See? Tak jarang, kesepian yang dialami membuat kita menjadi buru-buru ingin move on, dan dibarengi dengan quotes rohani yang paling sering muncul, 

“Ada pelangi sehabis hujan”. 

Orang-orang berharap ada hikmah di balik patah hatinya ini, dan ada hal indah usai masa kelam yang sedang ia alami ini. Namun apakah benar begitu?


Ironisnya, tak jarang kita justru langsung memilih "meloncat" untuk bisa melihat pelangi sesegera mungkin, tanpa mempedulikan hujan yang sedang turun dengan lebatnya. Secara tidak sadar, kita justru sedang menolak mengakui berbagai emosi atas patah hati yang sedang kita alami. Apalagi jika kita langsung buru-buru menjalin hubungan yang baru dengan dalih "mempercepat penyembuhan". Padahal kalau luka dalam hati masih basah, lalu apa hasilnya? Kita hanya akan mengalami patah hati lagi dan lagi, dan kembali lagi mencari pelangi sehabis hujan, padahal hujan pun tak pernah mau kita hadapi.



Gimana sama Minli?


Nah, Minli punya cerita berbeda. Minli pernah baca, sebenarnya pelangi tidak muncul setelah hujan, melainkan ketika hujan sedang deras-derasnya. Minli sempat berpikir, “Kalau begitu quotes ada pelangi sehabis hujan udah ga relevan, dong." Tapi kalau coba direfleksikan bahwa pelangi memang muncul ketika hujan, justru bisa menjadi penghayatan yang dapat lebih menolong kita untuk pulih. Coba kita ganti, 

“Ada pelangi ketika hujan”, 

yang berarti ada hal-hal baik bagi diri kita yang muncul ketika sedang terjadi pergumulan hidup, khususnya dalam masa-masa berjuang pulih setelah patah hati.


Sebagai manusia yang rentan terluka, kita tidak ingin berlama-lama membiarkan luka itu. Sayangnya, yang kita lakukan justru semakin melupakannya. Padahal semakin berusaha lupa, maka akan semakin ingat pula kita. Bisa saja memori tersebut hanya terpendam sebentar dan ketika kita terpicu dengan tempat atau suasana tertentu, kita jadi teringat lagi kenangan dengan si doi di masa lalu. Dari refleksi “ada pelangi ketika hujan”, kita diajak untuk tidak buru-buru kabur dari luka atas patah hati kita dengan dalih ingin cepat move on. Hei, kenapa tidak belajar menikmati derasnya hujan terlebih dulu sambil menyesap kopi, lalu mata kita mulai terpaku karena pelangi yang muncul perlahan dari jendela kamar kita?

Bentuk penghayatan atas kerapuhan kita ini bisa menjadi sarana untuk lebih mengenali diri sendiri dan jujur terhadap emosi yang sedang kita alami. Jika memang kita sedang marah maka marahlah, jika sedih maka bersedihlah, jika kecewa maka kecewalah. Jangan ditutup-tutupi hanya karena takut dianggap tidak dewasa atau lebay karena bersedih akibat patah hati. Justru keberanian untuk jujur terhadap emosi kita adalah wujud kedewasaan diri. Ya tapiiii jangan diluapkan di sembarang tempat dan sembarang orang, dong. Tuangkanlah uneg-uneg itu kepada orang yang kita percayai (dan memang bisa dipercaya!) dan tempat yang nyaman bagi kita.


Minli ingat saat patah hati di tahun 2020 lalu, Minli berusaha tidak menutupi rasa marah dan kecewa. Minli meluapkan amarah, berusaha jujur terhadap rasa kecewa dan sedih yang Minli rasakan. Menangis selama tiga minggu, sembari berada di fase blaming dengan menyalahkan doi karena sudah tidak setia, tapi setelah itu Minli sangat lega, karena tahap marah dan sedih sudah dilewati dengan puas. Ketika sudah lega melalui tahap marah, Minli coba introspeksi diri sendiri.* Jangan-jangan memang ada kekurangan dalam diri yang menyebabkan keretakan dalam hubungan, tidak selalu salah si doi. Akhirnya Minli mencoba menggali diri Minli lebih dalam. Setelah usai di fase ini Minli mulai belajar memaafkan, yes  memaafkan doi dan memaafkan diri sendiri. Memaafkan doi karena telah mengecewakan, sekaligus memaafkan diri sendiri karena belum bisa memberikan yang terbaik dalam hubungan tersebut. Fase terakhir yaitu menata masa depan, merencanakan hal-hal apa saja yang hendak dilakukan dan diperbaiki sebagai bagian dari refleksi dan pertumbuhan diri untuk menjadi lebih baik. (Ignite People bisa mempelajari lebih jauh tentang Five Stages of Grief dari Elisabeth Kübler-Ross)

Bagi Minli, patah hati atau pergumulan yang pernah atau sedang kita alami, menjadi momentum bagi diri kita untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Namun bukan berarti kita berusaha melupakan pergumulan tersebut untuk loncat mencari pelangi, karena pelangi ada ketika hujan itu sedang deras-derasnya, hal indah muncul dan kita hayati ketika pergumulan tersebut sedang berat-beratnya. Maka, buat Ignite People yang sedang patah hati, tidak apa-apa untuk bersedih, kecewa dan marah. Namun tetap nyalakan radar di matamu, karena pelangi itu akan terbit di sela tetesan air matamu. 

Jika ruangan di hatimu sudah kembali tertata rapi, izinkan Sang Sutradara Agung itu yang menjadi Penguasa hatimu. Biarkan Dia yang menolongmu untuk bijak membuka pintu hatimu dan mengintervensi relasimu agar kamu dan sang kekasih hati kelak dibentuk-Nya sesuai kerinduan-Nya.


*editor 1

**editor 2

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER