Kaitan Pemilu Indonesia dengan Ketidakbangkitan Kristus dan Kebenaran-Nya

Best Regards, Live Through This, 30 April 2019
Iblis kerap mengintimidasi kita pula dalam musim Pemilu kali ini. Jangan sebarkan kabar hoax yang tidak jelas kebenarannya, jangan pula menjelekkan salah satu “jagoan”, dan pastinya tunggu tanggal 22 Mei 19 sebagai Endgame dari para 'jagoan' kita.

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pendukungnya mencari kebenaran. Wajar memang bila hakekat manusia adalah mencari kebenaran. 

Tetapi seringkali manusia tidak hidup dalam “kebenaran” itu sendiri. Dan terkadang manusia hidup berdasarkan kebenaran versinya sendiri. Pikiran yang benar seperti yang terdapat di Filipi 4:8 sering luput dari kehidupan manusia. Adanya pikiran yang benar akan menghasilkan perkataan yang benar (Efesus 4:25). Lalu perkataan yang benar tadi akan menghasilkan perbuatan yang benar, seperti yang digambarkan dalam Amos 5:24 seperti sungai yang selalu mengalir, begitu pula perbuatan yang benar akan mendorong untuk terberitakannya kebenaran itu sendiri.

Kita bisa melakukannya semampu yang kita lakukan layaknya wanita yang meminyaki Yesus menjelang penyalibanNya (Markus 14:8). Karena ketika kehidupan kita sesuai dan hidup dalam kebenaran Tuhan, orang akan melihat dan pemberitaan kebenaran akan masuk melalui itu.

Kristus pun melakukan hal yang sama. Ia menjalankan misi yang dari Allah untuk menebus kita yang berdosa sampai kematianNya, walaupun dilalui dengan hal yang tidak mudah. Seperti pada doa di Taman Getsemani, yang menggambarkan Kristus sangatlah takut ketika berdoa sampai tetesan keringatNya keluar berupa darah.

Tetapi... apakah jadinya jika... Kristus tidak bangkit?

Ah, mikirnya kejauhan tuh...

Yang akan terjadi jika Kristus tidak bangkit, adalah sia-sialah pemberitaan atas kebenaran dan sia-sia pula kepercayaan kita. Kristus pun akan menjadi pemimpin agama biasa. Bahkan kita pun masih hidup di dalam dosa (1 Korintus 15:14-24), juga akan mati selamanya, dan hidup tanpa tujuan alias hampa.

Wah.. jadi gimana dong?


Eits, jangan khawatir! Kabar gembira untuk kita semuanya adalah.. Kristus SUDAH bangkit mengalahkan maut! Kristus kita memang adalah Kristus yang bangkit mengalahkan maut! Seharusnya kita patut berbangga.

Sedangkan kebangkitan Kristus sendiri digambarkan dengan semangat murid-murid Kristus yang berapi-api dalam memberitakan kebenaran Kristus. Misalnya saja Saulus yang awalnya jahat dan membunuh orang-orang percaya, tetapi setelah bertemu dengan Kristus melalui matanya yang dibutakan sekejap, ia bertobat dan namanya berubah menjadi Paulus, kemudian menjadi rasul yang hebat. Juga ada beberapa murid-murid Kristus yang menjadi martir, mati bagi Kristus. Seperti Petrus yang mati disalib terbalik dan Stefanus yang mati dirajam. Mungkin kita pun banyak yang tidak berani menjadi martir alias mati bagi Kristus sendiri.

Rasanya memang tidak enak harus memikul salib Kristus. Apalagi dilakukan secara total seperti apa yang murid-murid Kristus lakukan. Tetapi bayangkan, jika murid-murid Kristus tiada atau tidak memikul salib dengan penuh totalitas. Maka mujizat Tuhan mungkin akan minim dialami dan dirasakan, dan tidak ada teladan Kristus yang kita bisa lihat melalui murid-murid Kristus. Atau mungkin, kumpulan nama-nama yang terinspirasi dari murid Kristus juga tidak akan ada. Lha?

Tetapi apakah totalitas yang murid-murid Kristus lakukan berjalan dengan lancar jaya tanpa hambatan apapun? Tidak semudah itu, Ferguso! Totalitas murid-murid Kristus terhalang dan terhambat oleh Iblis yang berusaha menggoda dan membujuk agar kebenaran itu tidak tersampaikan.

Nah, bukankah katanya tadi Kristus sudah mati dan bangkit atas maut? Yah... batal dong?

Ya nggak dong!

Iblis itu ibarat penjahat di film-film, Kawan! Ketika sang pahlawan telah menang, penjahat tetap mencari cara baru dan tidak menyerah untuk menyelesaikan misinya. Kita sebagai manusia yang telah ditebus dosanya oleh Kristus harus tetap waspada akan godaan iblis yang seringkali mengintimidasi kita. Jangan pernah menganggap remeh godaan tersebut karena iblis suka datang kapanpun dan di manapun.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar iblis tidak mengintimidasi kita? Itu bisa dilakukan dengan cara memiliki tujuan hidup yang jelas dan pasti. Salah satunya seperti Efesus 2:6 yang mengatakan bahwa kita adalah milik Kristus dan sudah disediakanNya tempat di sorga. Lalu pastinya dengan tidak lagi hidup bagi dosa, seperti mencari perkara yang di atas, mematikan hawa nafsu duniawi kita, dan mengenakan manusia yang baru (Kolose 3:1-10).

Iblis kerap mengintimidasi kita pula dalam musim Pemilu kali ini. Jangan sebarkan kabar hoax yang tidak jelas kebenarannya, jangan pula menjelekkan salah satu “jagoan”, dan pastinya tunggu tanggal 22 Mei 19 sebagai Endgame dari para 'jagoan' kita.


In Collaboration with Danish Andrian



LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

co[email protected]

READ OTHER