Kesedihan yang Semu

Best Regards, Live Through This, 14 August 2020
Karena jika kesusahan ini berasal dari Tuhan, berarti akan ada kebahagian yang menyusulnya sebentar lagi. Karena bukankah Tuhan yang telah mengubahkan ratapan Daud menjadi tarian dan membuka kain kabungnya, serta menggantikannya dengan sukacita? Dan jika kesedihan ini berasal dari Tuhan, maka ini adalah kesedihan yang semu. Kesedihan ini bukan akhir dari apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan.

Tiga minggu yang lalu aku resmi menjadi penganguran, setelah menerima pemutusan kerja sepihak dari perusahaan tempat aku telah bekerja hampir lima tahun. Jangan coba bayangkan bagaimana rasanya. Tadinya aku mencoba bersikap rasional, memahami bahwa perusahaan ini apalagi di masa pandemi memang sedikit sekali harapan hidupnya. Namun lima tahun bukan hal yang sebentar, aku memulai karier dari nol di tempat ini dan bukan tanpa usaha mempertahankan, sebagai bagian dari manajemen, aku sudah berjuang sekuat tenaga tapi akhirnya harus juga menyerah pada kenyataan bahwa perusahaan ini tidak sanggup lagi berdiri.

https://unsplash.com/@chuklanov “Mbak, besok tidak datang ke sini lagi dong ya?” kata seorang satpam yang tidak ikut di-PHK karena diperlukan untuk menjaga gedung kosong ini.

“Iya pak,” jawabku sambil lalu, bahkan tanpa menoleh ke arahnya.

“Mbak.. boleh saya minta foto kita bersama terakhir tadi mba? Saya mau ceritakan ke anak saya ini orang-orang yang bekerja bersama saya selama ini”.

“Oh iya pak, nanti saya kirim.” Aku terus berjalan tanpa menoleh.

“Mbak!” teriaknya kencang, sambil berlari menyusulku, “Makasih ya mbak buat semuanya,” sambil mengulurkan tangan. “Saya tau mbak udah usaha, makasih selama ini selalu belain kita-kita, sukses terus ya mbak.”

Aku menerima jabatan tangannya, mengangguk, tersenyum dan berkata lirih “Sama-sama ya Pak.”

Secepat mungkin aku memalingkan badanku dan mempercepat langkah kakiku. Aku takut ia akan mendengar tangisanku.

Air mataku tak tertahankan lagi.

Sebelum perusahaan ini tutup, banyak kenangan akan suka-duka yang kami lalui bersama tanpa memandang jabatan. Ini rumah keduaku selama lima tahun terakhir. Tentu saja bukan hal mudah untuk merelakan semua mimpi dan harapan yang kami bangun bersama akhirnya harus berhenti sampai di sini.

Aku mengendarai motorku tanpa arah. Aku hanya ingin melepaskan tangis yang begitu menyesakkan, mulai besok, aku tidak lagi punya pekerjaan. Apa yang harus aku sampaikan pada keluargaku? Bagaimana aku harus menyambung kehidupan setelah ini?.

Perasaan kesal, kecewa, dan khawatir memenuhi pikiranku lebih dari seminggu. Beberapa teman dekat yang sudah kuberitahu kabar ini tidak henti-hentinya memberikan dukungan. Mereka ingin aku kembali semangat. Mereka ingin aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Salah seorang dari merekapun mengajak aku memandang persoalan ini bukan sebagai akhir, tapi awal dari babak baru kehidupan.

Tapi tetap saja sampai hari ini, masih ada hari-hari yang rasanya lebih berat dari hari-hari yang lain. Malam di mana air mata menetes tanpa perintah, selagi aku mengirim lamaran pekerjaan ke beberapa tempat, aku bergumam dalam hati. "Ah.. Rasanya kemarin aku sudah setengah jalan, tapi nyatanya aku malah harus mundur kembali ke garis start."

https://unsplash.com/@dannyg 

Jujur, awalnya aku tidak mau memaknai ini sebagai jalan Tuhan. Aku menolak untuk menerima bahwa ada hal mengecewakan yang datangnya dari Tuhan. Namun, ternyata mengganggapnya bukan berasal dari Tuhan malah membuatnya semakin menyakitkan. Kenapa?

Jawabannya, karena jika aku memandang PHK ini berasal dari Tuhan, berarti ini adalah hal terbaik yang boleh terjadi dalam hidupku saat ini. Karena yang aku tahu, Tuhan hanya berikan yang terbaik. Tuhan bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan. Jika kita yang jahat saja tidak mungkin memberi batu pada anaknya yang minta roti, apalagi Bapa yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada yang meminta kepada-Nya. 

Kedua, karena jika kesusahan ini berasal dari Tuhan, berarti akan ada kebahagian yang menyusulnya sebentar lagi. Karena bukankah Tuhan yang telah mengubahkan ratapan Daud menjadi tarian dan membuka kain kabungnya, serta menggantikannya dengan sukacita? Dan jika kesedihan ini berasal dari Tuhan, maka ini adalah kesedihan yang semu. Kesedihan ini bukan akhir dari apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan.

Paulus menyampaikan nasihatnya pada jemaat-jemaat di Korintus yaitu:

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasayang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10 : 13). 

Seorang hamba Tuhan pernah menyampaikan firman mengenai ayat ini dengan menggarisbawahi beberapa kata di bawahnya seperti yang aku lakukan di atas. Aku tidak ingat keseluruhan firman yang disampaikan, tapi dua kata ini membekas sampai sekarang.

"Biasa" dan "waktu".

"Biasa" artinya tidak luar biasa. Maksudnya, apapun masalah yang menimpa kita hari ini, tidak ada yang sifatnya menakjubkan. Semuanya biasa saja. Ya B-aja. Agak mustahil membayangkannya memang. Tapi dari ayat ini aku diingatkan untuk tidak memandang masalah secara berlebihan, tidak juga meratapinya seakan kitalah yang paling menyedihkan di dunia atau seakan hidup kita akan berakhir esok. Tuhan sudah jaminkan bahwa semua sudah diatur dan diukur sesuai kekuatan otot iman kita. Kita pasti sanggup menanggungnya di dalam Tuhan. Tak apa jika sesekali merintih kesakitan. Itu tidak berarti menyerah. Bertahanlah sedikit lagi. 

Kata selanjutnya ini jauh lebih melegakan..

"Waktu." Di sana tertulis "pada waktu kamu dicobai." Artinya akan ada "pada waktu kamu tidak dicobai." Yes. Artinya, kesusahan ini sifatnya hanya sementara. Tidak akan selama-lamanya kita harus tidur dengan menangis. Tuhan sudah janjikan bahwa segala sesuatu ada waktunya. Pun untuk setiap masalah ada masa kadaluarsanya. Mungkin tiga minggu ini aku belum dapat panggilan pekerjaan baru. Namun aku beriman, ini hanya sementara. Jika aku terus mencari, Tuhan sudah janjikan jalan keluar. Ini bagaikan berjalan dalam labirin, berliku, penuh jalan buntu, dan membingungkan, tapi jika kita tetap berjalan dan mencari, pastilah kita akan sampai ke jalan keluar yang memang sudah tersedia sejak kita mulai melangkah masuk.

Aku menuliskan ini untuk menguatkan diriku sendiri. Semoga juga bisa sedikit memberikan kekuatan bagi kalian yang mugkin juga sedang mengalami pergumulan yang sama maupun berbeda. Dunia memang sedang sakit, dan kita semua terkena dampaknya. Namun, memiliki Tuhan adalah hal yang paling bisa menghibur diri kita saat ini. Mengingat janji-janji-Nya akan membuat kita tidak kehilangan pengharapan. Mengingat apa yang telah dilakukannya di masa lalu adalah bensin untuk terus melanjutkan perjalanan. Bukan sekali ini saja aku merasa gagal. Uniknya, berulang kali Tuhan menjadikan kegagalanku di masa lalu sebagai penggenapan atas rencana-Nya yang jauh lebih besar. Percayalah, begitu juga dalam hidupmu, Dia tak akan gagal maupun lalai. 




LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER