Social Distancing: Momen 'Hygge' untuk Kita Semua

Best Regards, Live Through This, 16 March 2020
Berhenti dan menyadari apa yang sudah terjadi belakangan ini. Terkadang kita sudah berlari sangat jauh, sampai kita melupakan apa yang Tuhan ingin sampaikan pada kita di tengah dunia yang sedang panik.

Keputusan pemerintah untuk menganjurkan masyarakat Indonesia (khususnya kota-kota yang warganya ada yang positif Corona) untuk social distancing memang mengagetkan banyak pihak. Mungkin banyak juga masyarakat yang sudah menginginkan hal ini sejak beberapa waktu lalu mengingat sudah ratusan negara yang positif Corona. Mungkin ada juga yang sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi karena berefek ke berbagai kegiatan yang harus ditunda. Tak sedikit pula kerugian yang ditimbulkan akibat social distancing ini, khususnya teman-teman yang memiliki usaha di bidang pariwisata, pasti sangat merasakan menurunnya turis baik domestik maupun luar negeri. Teman-teman yang bekerja di bidang investasi pun pasti merasakan dampak 'warna merah' yang muncul. Patah hati rasanya.

Photo by BRUNO CERVERA on Unsplash  

Efek dari social distancing ini tidak hanya berimbas ke sektor perekonomian tetapi juga pendidikan. Pembelajaran online pun menjadi satu-satunya pilihan untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang. Keresahan ini juga dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir seperti saya. Wisuda pascasarjana bulan April di kampus saya sudah fix dibatalkan. Wisuda sarjana di bulan Mei masih menunggu kabar selanjutnya. Bahkan salah satu kampus terpaksa menunda wisudanya dan pengumuman disampaikan H-...beberapa jam. Padahal sudah banyak yang menantikan momen berharga ini. Tentu saja lagi-lagi kerugian biaya pun harus ditelan pahit. Belum lagi kita tidak tahu sampai kapan kasus ini akan mereda. Lagi-lagi banyak hati yang patah.

Sebuah fenomena saya temukan di hari pertama Pak Jokowi mengumumkan bahwa ada warga Indonesia yang positif Corona. Yup, fenomena tersebut terjadi di minimarket kampus saya. Saya kira hanya supermarket besar yang antrinya panjang dan berbagai barang sudah habis. Ternyata ada juga seorang Ibu yang membawa 2 troli full berisi tisu dan Wipol (pembersih lantai). Wow minimarket sekecil ini saja diborong habis, bagaimana supermarket?

Photo by Mick Haupt on Unsplash 

Dalam keadaan panik disitulah kita bisa melihat karakter individu yang sebenarnya. Padahal ketika kita panik, perilaku impulsif akan meningkat sehingga tidak heran jika orang-orang berbondong-bondong ke supermarket untuk membeli barang dengan jumlah yang berlebihan. Tentu saja, kaum menengah ke bawah yang akan dirugikan dalam hal ini. Masih bisa beli saja syukur apalagi harus membeli stok yang lebih? Saya salut dengan supermarket yang akhirnya memberi kebijakan untuk membatasi pembelian tiap orang. Paling menakutkan bukan wabah Corona yang menghadang tapi wabah kelaparan yang muncul karena stok bahan pokok sudah habis.

Rasa panik memang sulit dikontrol di tengah dunia penuh distraksi ini. Berita-berita negatif seolah-olah tidak pernah berhenti membayangi timeline sosmed dan pikiran kita. Pikiran negatif inilah yang memberikan energi negatif dalam diri kita sehingga rasa panik bisa hadir dalam diri. Social distancing yang dianjurkan pemerintah tanpa sadar mengajak kita untuk hening sejenak. Berhenti dan menyadari apa yang sudah terjadi belakangan ini. Terkadang kita sudah berlari sangat jauh sampai kita melupakan apa yang Tuhan ingin sampaikan pada kita di tengah dunia yang sedang panik ini. Era ini membuat orang-orang berlari demi mengejar eksistensinya masing-masing.

Photo by Paul Hanaoka on Unsplash 

World Happiness Report 2019 menyatakan Denmark menduduki peringkat kedua untuk negara paling bahagia di dunia. Satu hal yang menarik dari gaya hidup orang Denmark adalah Hygge. Masyarakat Denmark mengartikannya sebagai “to give courage, comfort, joy”. Hygge berbicara tentang menikmati hidup bersama teman dan keluarga, menikmati apa yang dijalani saat ini, tidak terburu-buru dalam suatu kegiatan sehingga kegiatan bisa dinikmati dan dirasa istimewa. Hygge adalah perasaan yang terkait erat dengan santai, bahagia, puas, dan damai dengan diri sendiri serta tidak adanya rasa khawatir dan pura-pura. Berapa banyak dari kita yang sudah mengaplikasikan Hygge dalam kehidupan kita?

Menurut Kesebir & Diener (2008), happiness merupakan evaluasi seseorang terhadap kehidupan mereka mencakup penilaian kognitif terhadap kepuasan dan penilaian afektif dari suasana hati serta emosi. Happiness bisa kita temukan ketika kita mengevaluasi diri yang bisa dilakukan ketika hening dan tanpa distraksi. Kita bisa mengevaluasi kira-kira apa yang sudah kita alami dan rasakan selama hidup ini. Happiness bukan tentang pencapaian atau goals yang sudah terealisasi tetapi tentang menemukan makna hidup dan berusaha untuk here and now atas segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita.

Photo by JD Mason on Unsplash 

Saat hening yang terjadi dalam social distancing ini kiranya bisa membuat kita untuk berhening sejenak, mengevaluasi diri dan sekitar. Mungkin banyak yang ingin Tuhan katakan pada anak-anakNya akhir-akhir ini. Sayangnya kita terus berlari hingga tidak sempat untuk mendengar. Mungkin kita sudah terlalu lama tidak quality time dengan orang rumah. Mungkin kita sudah terlalu lama tidak menikmati hidup dan berlari-lari mengikuti perlombaan duniawi ini. Atau mungkin sudah lama kita tidak bersaat teduh. Seperti hygge, mari manfaatkan social distancing ini untuk menikmati hidup tanpa terburu-buru dan merasakan kebahagiaan dengan apa yang kita punya saat ini.

Perlahan kurangi rasa cemas dan kuatir. Seperti yang Tuhan katakan di Matius 6:34 “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Tetap tenang dan waspada. Tidak kuatir bukan berarti tidak waspada. Berhenti terpapar media sosial sejenak mampu menurunkan rasa cemas, asalkan kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan seperti menjaga kesehatan dan kebersihan. Mari hening sejenak dan berdoa untuk bangsa ini. Kiranya Tuhan menyertai kita dimanapun kita saat ini. Stay safe all!


Sumber:

Kesebir, P., & Diener, E. (2008). In pursuit of happiness: empirical answers to philosophical questions. Perspectives on Psychological Science, 3, 117-125.

https://worldhappiness.report/

https://get-a-wingman.com/hygge-lagom-and-sisu-3-nordic-life-philosophies-and-9-lessons-we-can-learn-from-them/




LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER