Soal Bakat, Bolehkah Kita Menyombongkannya?

Best Regards, Live Through This, 28 February 2020
Yang terutama itu, kita wajib menerima dan mengakuinya dulu.

Sebenarnya, sudah sejak lama sekali ada sebuah perumpamaan dalam injil yang mengusik saya. Perumpamaan itu terdapat dalam Matius 25:14-30, tentang talenta. Berikut sedikit petikan kisahnya.


Kerajaan Surga dikomparasikan dengan seseorang yang akan pergi melakukan perjalanan. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan kepada mereka hartanya kepada mereka. Harta tersebut diberikan dalam satuan talenta. Masing-masing 5, 2 dan 1 talenta. Harta tersebut tidak diberikan tetapi hanya dipercayakan untuk dikerjakan. hamba yang pertama pergi untuk mengerjakan sejumlah talenta yang diberikan kepadanya.
 

Perumpamaan ini tidak mengatakan berapa lama hamba ini mengerjakan talenta yang diberikan kepadanya. Namun yang jelas pada waktu tertentu talenta yang tadinya itu lima, telah berlaba dan menghasilkan lima talenta lagi, sehingga jumlah harta yang ada di tangan hamba pertama menjadi sepuluh talenta. Hamba kedua melakukan hal yang persis sama dengan hamba pertama. Jadi ia juga langsung pergi dan mengerjakan dua talenta yang dipercayakan kepadanya. Hasil yang diterima oleh hamba yang kedua juga sama dengan hamba yang pertama, ketika ia mengerjakan talenta yang dipercayakan kepadanya ia mendapatkan laba dua talenta dan jumlah harta yang ada di tangannya sekarang adalah empat talenta. 

Sementara hamba ketiga tidak pergi menjalankansatu talenta yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya ia pergi menggali lobang dan menyimpan yang itu di sana sehingga talenta itu tidak berlaba, jumlahnya tetap sama. Pada waktu tuannya datang, yang lain mengembalikan dua kali lipat, ia hanya mengembalikan sejumlah yang diberikan oleh tuannya semula. Ia justru memulainya dengan memberikan sebuah pembenaran atas apa yang sudah ia lakukan terhadap talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa tuannya itu adalah seorang yang kejam. "Menuai di tempat di mana tuan tidak menabur, dan memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam." 

(dikutip dari: Studi Alkitab)

Tambahan informasi, talenta itu sendiri merupakan ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6000 dinar–di mana satu dinar merupakan upah pekerja harian dalam satu hari.  Jadi bisa dibilang, hamba yang menerima satu talenta seharusnya bersyukur mendapatkan satu talenta. Jika menggunakan ukuran nilai uang sekarang, hamba itu mendapatkan bayaran Rp 74.000 x 6000 =Rp  444.000.000 (Di daerahku tinggal, upah seorang pegawai ialah Rp 2.200.000/bulan). Bukankah itu jumlah yang sangat banyak?

Photo by David Beale on Unsplash

Pada saat  selesai membaca dengan seksama nats tersebut, aku merasa seperti hamba yang menerima satu talenta. Aku seringkali meremehkan talenta atau bakat yang diberikan Tuhan pada saya, misalnya bakat dalam menulis. Aku menganggap, bakat menulis ini bukanlah bakat yang spesial jika dibandingkan dengan bakat menyanyi, melukis, membuat desain program komputer, atau pun bakat di bidang olahraga. Sehingga aku malas untuk mengasahnya lebih lanjut. 

Padahal setelah merenungkannya aku sadar bahwa semua bakat sama berharganya di mata Tuhan. Saat dipercayakan satu talenta/bakat oleh Tuhan, sudah seharusnyalah aku mengerjakan dan mengasahnya agar suatu saat bisa diberikan tanggung jawab dalam hal-hal yang lebih besar. Apalagi kenyataannya, walau terkesan remeh (untuk orang Indonesia), sebetulnya banyak penulis yang tulisannya telah menginspirasi banyak orang. Malah banyak penulis yang bisa terkenal sama dengan profesi-profesi lainnya.  Tak hanya menulis, tapi semua hal yang kita rasa itu sebagai sebuah bakat atau talenta, sudah seharusnya kita asah dan kembangkan. Apapun itu, karena itu suatu karunia yang sudah diberikan Tuhan tidak baik jika disia-siakan.

Tentang malas mengeksplorasi, itu persoalan yang lain. Yang terpenting di sini, kita wajib menyadari dan mengakui dulu bakat apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Lalu bagaimana cara menyadarinya? Mudah saja sebetulnya. Tahu passion kan? Nah, saat kita melakukan sesuatu dan merasa nyaman, coba kita renungkan baik-baik, apakah saat kita melakukan hal itu telah membuat diri kita jadi terasa berbeda dengan orang lain? Terus, apakah kemampuan kita dalam melakukan hal itu terasa istimewa atau biasa  saja kah? Nah, untuk menyadari hal itu,  kita perlu orang lain. Jangan pernah anggap remeh kata-kata orang lain seperti: "Eh menurut gue, lu itu ada bakat ngegambar deh,"

Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Jangan, sekali lagi, jangan pernah sepelekan anggapan orang soal diri kita, terutama soal bakat yang kita miliki. Disadari atau tidak, terkadang bakat itulah yang membuat hidup kita jadi lebih terasa greget. Bisa dibayangkan, andai kata manusia itu tidak memiliki bakat, monoton, saya rasa. Bakat itu juga merupakan salah satu yang sudah membedakan manusia satu dengan lainnya. Kembali ke soal Tuhan dan kado itu, tidak bisa tidak, kita harus mengakui bakat kita setelah menyadarinya. Bayangkan, betapa sakitnya diri kita saat kita memberikan kado ke teman, eh si teman itu malah tidak mempedulikan pemberian kita... Sakitnya tuh di sini!

Langkah pertama untuk mengembangkan bakat kita adalah mengakuinya. Sama seperti si penerima kado kita itu, seharusnya yang kita lakukan itu ialah menerima dan mengakui dulu keberadaan kado berupa bakat itu. Berterimakasihlah pada Tuhan karena sudah diberikan karunia untuk menyanyi. Bersyukurlah karena Tuhan berbaik hati, sehingga kita bisa berlari sejauh dua kilometer.

Langkah kedua, tergantung kita juga, mau diasah atau tidak? Tapi sebaiknya, saran saya sih, kita wajib mengasahnya. Syukur-syukur kita bisa menggunakan bakat kita itu demi kepentingan sesama. Tuhan pati senang sekali. Sama seperti kita kasih kado ke  pacar, terus si pacar bilang bahwa kado kita itu sangat berguna untuk kehidupannya. Bahagia banget kan, kita dengarnya? Begitu pun dengan Tuhan. Sayang kan, ketika dikasih kado, eh malah dibiarkan begitu saja di ujung kamar (atau disimpan dalam lemari). Kalau pacar kita tahu, dia pasti bakal kecewa dan mungkin tak akan pernah lagi memberikan kita kado (jangan jadi pasangan yang nggak tahu diri yah). Kita juga pasti sama kalau berada di posisi itu. Sakit saat pemberian kita itu disia-siakan. Apalagi Tuhan yang sudah menganugerahkan kita bakat-bakat tertentu.

Photo by Chris Benson on Unsplash

Langkah selanjutnya: terus diasah, terus dieksplorasi, dan jangan lupa selalu bersyukur untuk tiap hasil yang kita terima dari bakat tersebut. Jangan sombong juga. Omong-omong, bedakan juga antara sombong dengan unjuk kemampuan. Unjuk kemampuan itu penting. Bagaimana pun, setelah kita asah, rasanya sayang juga kalau hanya kita yang tahu kemampuan kita dalam suatu hal. Percuma diasah kalau orang lain juga tak merasakan manfaatnya. Bagaimana orang bisa tahu sudah sejauh mana kemampuan kita kalau tidak ditunjukkan?

Sementara kalau sombong, kita masih dalam level satu, tapi sudah berlagak berada di tiga level di atasnya. Orang lain yang jadi saingan kita itu malah kita remehkan. Selanjutnya, ketika merasa sudah di tingkat dewa, kita jadi malas untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Nah yang seperti itulah yang wajib kita hindari. Kita juga harus tahu diri. Bakat kita itu kan pemberian Tuhan, mari kita sadar diri kalau suatu saat Tuhan bisa mengambil kembali bakat tersebut. Contoh, kita punya bakat akting, terus suatu saat karena kesombongan, kita diberikan penyakit demensia. Beuh!

 Lalu...

Sebetulnya, menulis seperti ini sih, tak ada maksud menggurui. Hanya ingin berbagi saja. Hanya mau tukar pikiran saja. Tak ada niat minta kalian ikuti. Tapi sih, kalau kalian bertanya, jawabanku sih boleh banget, malah harus pula. Kenapa harus? Yah karena, percaya deh, bakat yang kita miliki itu pemberian Tuhan. Soal mengasahnya itu nanti dulu. Kita kesampingkan soal itu. Karena mungkin juga kita merasa bakat itu biasa saja. Sehingga kita tidak harus mengasah, apalagi mengeksplorasinya. Yang terutama itu, kita wajib menerima dan mengakuinya dulu. Itu dulu. Seiring berjalannya waktu, akan timbul dalam diri kita sendiri untuk mengasah dan mengeksplorasi bakat kita tersebut. That's all!

Tapi...

Bicara soal bakat, aku suka terkesima dengan beberapa orang yang suka bilang begini: "Ah gue sih enggak ngerasa berbakat. Gue ngelakuin ini cuma karena gue demen aja. Gue ngerasa nyaman aja ngelakuinnya. Enggak bisa hidup gue kalau enggak ngelakuinnya."

Errr...

Sumpah dengar kata-kata seperti itu, terasa menampar pipi sekali. Dilihat baik-baik dari kata-katanya, orang itu memang sudah sadar dan mengakui bakatnya, tapi masih bisa tetap rendah hati (Bedakan dengan rendah diri yah). Hebat nian orang seperti itu!

Lantas, sekarang yang jadi pertanyaannya: bakat itu apa? Bolehkah kita menyombongkannya?


LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER