Para Pemuda Kristen, Ayo Jadi Proaktif!

Best Regards, Live Through This, 12 February 2020
Kalian pernah tahu buku the 7 Habits of Highly Effective People yang ditulis oleh Stephen Covey? Bagian pertama buku tersebut membahas soal 'be pro-active' - tahukah kalian, apa sih pro-active itu?

Halo IGNITE People!

Mungkin beberapa dari kalian pernah membaca buku The 7 Habits of Highly Effective People yang ditulis oleh Stephen Covey. Di dalam buku tersebut, hal pertama yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran Leadership (kepemimpinan) adalah Pro-active (Proaktif). Bersikap proaktif, bukanlah hanya sekedar mengambil inisiatif. Namun, bersikap proaktif berarti bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang telah kita buat, serta menentukan sikap kita dengan segala hal yang terjadi di sekitar kita. Tanpa disadari, kita biasanya cenderung merespons hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan sikap reaktif; dimana kita sering meng-kambinghitamkan atau blaming (menyalahkan) keadaan di sekitar kita. Lantas, bagaimana cara kita untuk menjadi seorang yang proaktif dan tidak reaktif dalam menghadapi segala sesuatu di sekitar kita?

www.amazon.com

Seperti yang saya sampaikan di atas, orang yang sering bersikap reaktif biasanya sering blaming (menyalahkan) keadaan di sekitarnya. Contohnya, ketika kita ditegur oleh seseorang karena kesalahan yang kita perbuat sendiri, kita langsung membela diri kita dengan dalih “Ahhhhh, itu salahnya si A atau si B” atau “Iya, memang itu kesalahan saya, tapi karena ada faktor a,b,c,d bla bla bla, jadinya saya melakukan kesalahan tersebut.” Biasanya kalimat tersebut spontan diucapkan oleh orang yang sering bersikap reaktif terhadap keadaan. Ketika kita sering menjadi orang yang reaktif, itu akan menjadikannya sebagai habit (kebiasaan) yang buruk. 

Photo by Adi Goldstein on Unsplash 


Ada seorang tokoh Alkitab yang sudah tidak asing lagi kita dengar, yaitu Nehemia. Mungkin saat Sekolah Minggu kita sering mendengarkan kisah Nehemia yang membangun kembali tembok Yerusalem yang hancur. Dalam cerita tersebut, Nehemia melihat keadaan kota tempatnya di lahirkan, Yerusalem, temboknya sudah hancur. Para pencuri dapat berhasil masuk untuk merampok kota tersebut, dan bangsa-bangsa bisa datang kapan pun untuk menyerang Kota Yerusalem. Melihat keadaan tersebut, Nehemia justru tidak menunjukan sikap yang reaktif. Seperti yang kita tahu, Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk. Ketika mereka berbuat dosa Allah menghukum mereka dengan kekalahan dari bangsa lain hingga semua warganya harus dibuang ke negeri asing. Nehemia tidak berkata, “Biarkan saja, ini semua karena kesalahan bangsa Israel tersebut karena berbuat dosa” atau malah menyalahkan Tuhan Allah Kenapa Engkau begitu jahat ya Tuhan?” Yang dilakukan oleh Nehemia, justru sebaliknya, Ia berdoa kepada Tuhan Allah untuk memohon membangun kembali tembok Yerusalem (Nehemia 1:1-11).


Setelah ia melalui pergumulan panjang, Tuhan Allah memberikannya jawaban. Ia diberi izin dan diutus langsung oleh raja Artahsasta untuk membangun kembali tembok negerinya yang hancur. Setelah sampai di negerinya, Nehemia pun mulai membangun tembok tersebut. Bagian yang menariknya adalah pada Nehemia 2:16 tertera bahwa dia belum memberitahukan hal-hal tersebut kepada kaumnya sendiri (orang-orang Yahudi, Imam, para pemuka agama dan para penguasa serta petugas lainnya). Dia memberikan contoh yang proaktif terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, ketika ia memberi tau bahwa betapa murahnya tangan Tuhan Allah yang menyertainya, orang-orang yang berada di negeri tersebut saling gotong-royong dan bahu-membahu untuk membangun negeri mereka kembali.


Photo by Bill Pence on https://centerforfaithandwork.com/ 

Melalui kisah Nehemia tersebut, kita diajak untuk menjadi seseorang yang proaktif dalam menghadapi sesuatu. Ubah kebiasaan-kebiasaan reaktif yang kita miliki, menjadi kebiasaan-kebiasaan proaktif. Bersikap proaktif, berarti kita juga harus memberikan contoh terlebih dahulu. Saya mempunyai seorang kenalan di gereja. Beliau memiliki banyak franchise di beberapa café. Ketika beliau mendapat laporan, bahwa pengunjung café pada saat itu lagi ramai, ada salah seorang yang harusnya bertugas di bagian cuci piring, namun tidak masuk kerja pada saat itu. Dia pun langsung turun tangan untuk mencuci piring tersebut. Melihat bosnya mencuci piring-piring kotor, para karyawannya pun langsung membantunya tanpa harus ia suruh. Sebagai bos, bisa saja ia memerintahkan salah seorang karyawan lainnya untuk mencuci piring tanpa harus repot dia yang melakukannya. Namun, ketika mungkin ia menyuruh karyawan lainnya, bisa saja karyawan tersebut mengerjakannya sambil ngedumel (bersungut-sungut) karena bukan dia yang seharusnya mendapat tugas mencuci piring. Dari ceritanya beliau, saya pun belajar, bahwa sebagai seorang pemimpin yang sesungguhnya, kita harusnya menjadi seorang yang proaktif serta mencari solusi, bukan mencari kesalahan-kesalahan yang ada di sekitar, untuk dijadikan kambing hitam.


Mari kita belajar untuk mengubah kalimat-kalimat reaktif dan mau melakukan intropeksi sehingga dapat bersikap proaktif. "Mohon maaf, ini adalah salahnya saya. Saya akan memperbaikinya segera”. Mari kita stop untuk bersikap reaktif terhadap yang terjadi di lingkungan sekitar dan jadilah proaktif untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan luar biasa.

LATEST POST

 

Bahagia itu konsep yang aneh, definisi umumnya adalah keadaan di mana kita menikmati hidup dan meras...
by Joshua Eldi Setio | 06 Apr 2020

“Dunia sedang sakit atau dunia sedang berduka” begitulah tanggapan setidaknya dari penga...
by Lefrandy Praditya Klaas | 06 Apr 2020

Hari ini Luna berulang tahun, ulang tahun kesekian yang tidak perlu disebutkan berapa angkanya. Seda...
by Surya Hadi | 06 Apr 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER