Que Sera, Sera: Apapun yang Akan Terjadi, Terjadilah

Best Regards, Live Through This, 16 January 2020
Namun inilah kabar baik yang menjadi pengharapan kita, “pengetahuan” kita tentang masa depan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui kondisi keuangan kita di tahun yang baru.

When I was just a little boy,

I asked my mother, "What will I be?

Will I be handsome?

Will I be rich?”

Here's what she said to me:

"Que sera, sera,

Whatever will be, will be;

The future's not ours to see.

Que sera, sera,

What will be, will be.”


Saya cukup yakin bahwa meskipun lagu “Que Sera, Sera” dipopulerkan oleh Doris Day hampir tujuh dekade yang lalu (1956), kita pasti pernah dengar sepintas lagu ini, setidaknya dari salah satu iklan yang pernah populer di media televisi Indonesia sekitar 10 tahun lalu. 


Dalam kesederhanaan, lagu ini menggambarkan salah satu sifat mendasar manusia, yaitu penasaran untuk melihat masa depan: bagaimana rupa wajah kita 30 tahun lagi, apa profesi kita setelah lulus kuliah, siapa yang akan jadi istri atau suami kita, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak aneh kalau banyak orang berusaha untuk mengetahui masa depan lewat ramalan – astrologi, numerologi, tarot, dan banyak macam lainnya. Andaikan lampu jin di film Aladdin itu nyata, mungkin permintaan yang kita ajukan untuk dikabulkan salah satunya adalah supaya kita bisa melihat masa depan. Kalau kita bisa melihat masa depan kita yang cerah, jadi bos di perusahaan besar misalnya, kita di masa sekarang bisa lega karena kita punya pengharapan yang baik di masa depan. Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Misalkan kita bisa tahu bahwa bencana besar akan menimpa keluarga kita, mungkin yang ada kita malah akan larut dalam ketakutan di masa sekarang. 


The Good News

Tahukah kita bahwa sebagai orang Kristen, kita bisa melihat masa depan? Ya, betul, melihat apa yang terjadi di masa depan! Tapi jangan pernah berharap bahwa melihat masa depan yang saya maksudkan disini adalah bisa tahu berapa jumlah anak kita nanti atau di umur berapa kita akan mati. Inilah masa depan yang dimaksud: Saat kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, mempercayakan hidup kita kepada-Nya, kita tidak akan binasa tapi hidup bersama Allah dalam kekekalan (Yoh. 3:16). Mohon maaf kalau jawaban ini justru mengecewakan sebagian dari kita karena terdengar klise dan out of context. Namun inilah kabar baik yang menjadi pengharapan kita, “pengetahuan” kita tentang masa depan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui kondisi keuangan kita di tahun yang baru. Masa depan kita di kekekalan sudah terjamin – tanpa perlu mengandalkan usaha perbuatan baik kita di dunia, kita diselamatkan oleh iman karena kasih karunia Allah (Ef. 2:8). Saat semuanya kelak digenapi, manusia akan hidup dalam persekutuan bersama Allah seperti waktu Adam dan Hawa tinggal di taman Eden sebelum jatuh dalam dosa (Why. 22:3-5).  


Terus apa hubungannya dengan hidup kita sekarang? 

Oke, kita bersyukur kalau masa depan kita di kekekalan sudah terjamin, tapi bagaimana dengan 'peruntungan' kita di tahun yang baru? Caranya gampang. Buka Alkitab kita, baca Matius 6:33, di situlah jawabannya. 


“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”


Sekali lagi maaf kalau mungkin jawabannya mengecewakan sebagian orang, tapi begitulah adanya. 


Waktu itu Yesus sedang berkhotbah di bukit dan mengajarkan orang banyak tentang kekuatiran (Mat. 6:25-34). “Besok makan apa, minum apa, pakai baju apa?” Intinya sama lah seperti kita yang mempertanyakan “peruntungan” kita di tahun baru. Selanjutnya Yesus membandingkan kita (manusia) dengan burung-burung di langit dan bunga bakung di padang yang dipelihara Tuhan. Yesus menyampaikan bahwa tidak ada gunanya kita kuatir karena kita jauh lebih berharga dari burung dan bunga bakung. Malah Yesus berkata “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” (Mat. 6:32a). Kalau kita fokus mengkuatirkan berapa keuntungan yang akan kita dapat dari bisnis kita, atau apakah kita akan dapat kerja setelah lulus kuliah, mungkin kita justru seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Berkat yang paling besar – keselamatan dari murka Allah melalui pengorbanan Yesus – telah diberikan Allah untuk kita yang percaya. Berkat yang paling besar sekalipun sudah Dia berikan, apalagi berkat-berkat kecil lainnya?! Maka dari itu Yesus katakan bahwa Bapa kita di sorga tahu, bahwa kita memerlukan semuanya itu (Mat. 6:32b). 


Resolusi dan target pencapaian di tahun baru?

Apa yang ada di benak kita saat menyusun resolusi dan target pencapaian di tahun baru? Ada beberapa tipe orang: Sebagian dari kita mungkin punya resolusi 'daur ulang' dari tahun sebelumnya, ada juga yang punya resolusi baru, atau malah tanpa resolusi sama sekali. Tipe apapun kita, pertanyaannya tetap sama: Sudahkah kita mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya? Tuhan memang peduli pada keberlangsungan hidup ciptaan-Nya. Namun Ia jauh lebih peduli pada apakah kita mencari kehendak-Nya. Betapa egoisnya kita sebagai umat yang telah ditebus dengan darah Yesus yang justru menyusun perencanaan di tahun baru tanpa melibatkan-Nya dan mencari kehendak-Nya. Bagaimana kita bisa tahu kehendak-Nya kalau 'membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari' tidak termasuk dalam resolusi kita di tahun baru? Saat kita mencari kehendak-Nya dengan kerendahan hati, kita berserah diri agar kehendak-Nya nyata dalam hidup kita. Kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya meskipun kita sendiri tidak dapat melihat hari esok. Itulah hakikat kita yang telah menerima Dia sebagai Tuhan (Kurios/Lord/Master) – Sang Penguasa hidup kita – dan Juruselamat – Sang Pembebas kita dari jerat dosa. 


Lagu himne “Jadilah Tuhan kehendakMu!” (NKB 14) mengajarkan kita untuk dapat berserah dan membuka ruang bagi Roh-Nya dalam hidup kita:


Jadilah, Tuhan kehendakMu!

‘Kaulah Penjunan, ‘ku tanahnya.

Bentuklah aku sesukaMu,

‘kan ‘ku nantikan dan berserah.


Jadilah, Tuhan kehendakMu!

S’luruh hidupku kuasailah.

Berilah RohMu kepadaku,

agar t’rang Kristus pun nyatalah.   


Kiranya kita pun dapat berkata “Que sera, sera” dalam doa kita kepada Tuhan, sebagai penyerahan diri kita untuk menghadapi tahun yang baru. 

LATEST POST

 

"Lou, are we going under?""You're asking the wrong question, Jacob.""Wh...
by Victor Hasiholan | 18 Apr 2021

         Seperti tanah liat yang dibentuk menjadi gerabah yang indah, seper...
by Emmanuela Angela | 18 Apr 2021

Tahukah Anda, salah satu muslihat licik dari Iblis adalah membuat orang-orang percaya bahwa ia (Ibli...
by Victor Hasiholan | 18 Apr 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER