Lukas: Sisi Lain dari Kaum yang Termarginalkan

Going Deeper, God's Words, 11 January 2020
Luke presents the perfect, divine Son of God as our great High Priest, touched with the feeling of our infirmities, able to extend help, mercy, and love to us. - J. Vernon McGee (Luke, 1991)

Beberapa tahun yang lalu, saat masih kuliah di Jogja, saya cukup sering mendengar 'tuduhan' adanya ketidakadilan di lingkungan kampus. Ada yang berkata sebagian kuota beasiswa negara—yang seharusnya untuk mahasiswa berprestasi namun memiliki kekurangan finansial—justru diberikan pada "orang yang salah". Akibatnya, mahasiswa yang benar-benar membutuhkan bantuan 'terpaksa' bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan studinya. Keadaan semakin diperparah dengan gosip yang beredar: sebagian penerima beasiswa justru sering "hedon" dengan berbelanja barang-barang branded, dan pergi ke tempat nongkrong yang harga menunya uwaw nian (disclaimer: tulisan ini bukan untuk memojokkan teman-teman yang terpelatuque   ).

Saya pun merasakan keanehan dari isu ini saat mengurus penurunan biaya kuliah (karena orang tua saya masih harus membiayai kedua adik saya dan kebutuhan lainnya, yaitu pajak). Lucunya, sejak awal pendaftaran ulang (saat saya masih mahasiswa baru/maba), pihak kampus seolah-olah tidak mempertimbangkan tanggungan yang ada; biaya yang harus dibayar tiap semester tersebut hanya ditentukan dari gaji kotor orang tua. Dampak berikutnya, kalau orang tua membutuhkan keringanan biaya, saya dan teman-teman harus mengumpulkan beberapa berkas untuk memenuhi persyaratan penurunan biaya kuliah selama satu semester. Ada yang permohonannya dikabulkan, tapi ada juga yang tidak. Hal ini terjadi karena pertimbangan dari kampus, ditambah lagi 'ketidakdaruratan' keadaan sehingga mereka tidak memperoleh keringanan biaya kuliah.


Photo by Raden Prasetya on Unsplash 

By the way, isu ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di zaman postmodern seperti sekarang, Guys. Ketika Yesus hadir ke dunia pun, isu tersebut sudah merebak di lingkungan sekitar-Nya—terutama di antara orang Yahudi sendiri, yang (katanya) adalah 'umat pilihan Allah'. Padahal beribu-ribu tahun sebelumnya, Tuhan—melalui Musa—telah memerintahkan nenek moyang mereka untuk menaati Hukum yang terutama dan mengajarkannya pada anak-cucu mereka. Kita pun tahu isi hukum tersebut:

Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.* Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.** Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. —Matius 22:37-40

Ironisnya, walaupun sanggup menghapal 613 mitzvot (rincian hukum Taurat), mereka justru mengabaikan kaum marginal yang dirasa tidak mampu memenuhinya. Budaya patriakal saat itu sangat merendahkan para wanita, sehingga mereka dinilai tidak mampu untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, orang Yahudi kapok terhadap hukuman pembuangan setelah mereka jatuh dalam dosa penyembahan berhala—sehingga mereka benar-benar berusaha menjaga adat-istiadat... termasuk menolak orang Samaria, yang sebenarnya sama-sama keturunan Israel namun mengalami pernikahan campur dengan bangsa Asyur. Belum lagi interaksi orang Yahudi terhadap sesamanya sendiri yang menjadi pemungut cukai (sering dianggap pengkhianat karena 'memihak' pada penjajah serta mencari keuntungan pribadi dengan menarik pajak yang tinggi). Well, it's so confusing, right?


Jika demikian, apakah sang penulis Injil Lukas memang ingin menujukan tulisannya bagi orang-orang yang dianggap "kafir" oleh orang Yahudi?


Jawabannya adalah iya.


Alasannya adalah untuk menunjukkan bahwa keselamatan tidak hanya bagi untuk segelintir orang saja, tapi untuk semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena itulah, kehadiran Yesus ke dunia ini mendobrak semua adat-istiadat Yahudi dan menimbulkan kontroversi besar pada masa itu  . Tapi fokus artikel ini bukan tentang sejarah penulisan Injil Lukas, so let's go back to the red thread.


Selain para wanita dan orang Samaria, sang penulis menyebutkan masih ada tiga kelompok marginal lainnya di dalam masyarakat Yahudi pada waktu itu:


1. Wanita

Berbahagialah kita, wahai wanita, karena derajat kita telah terangkat sejak emansipasi yang dilakukan para pejuang wanita di masa prakemerdekaan. Tanpa mereka, mungkin sampai sekarang jumlah IGNITE People yang aktif berkarya bisa dihitung dengan jari. Thank God, it doesn’t happen. Bukan hanya berkarya di media sosial, sekarang kita juga bisa memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak, serta tidak dianggap hanya bisa 'masak, macak, dan manak'  (memasak, berdandan dan melahirkan).

Tapi tidak dengan para wanita yang hidup di zaman Yesus.

Di zaman itu, status wanita tidak diperhitungkan tanpa adanya ayah, suami, maupun anak laki-lakinya. Budaya patriakal yang ada tersebut membuat keberadaan wanita hanya 'bermanfaat' untuk masak, macak, dan manak. Akibatnya, gerakan wanita jadi terbatas. Mereka harus mengenakan penutup kepala saat keluar rumah—kalau tidak, suaminya bisa menceraikannya.  Selain itu, bukan sebuah hal yang wajar ketika seorang pria berduaan dengan seorang wanita, atau ketika si pria memandang wanita yang sudah bersuami, bahkan untuk menyapa sekalipun! Tidak berhenti di situ, jika ingin beribadah, mereka hanya bisa beribadah sampai di pelataran khusus wanita. Yang lebih parah lagi, kesaksian wanita dalam persidangan dianggap tidak bisa dipercaya—meskipun yang diungkapkannya itu benar. So sad, isn’t it?

… dan Yesus hadir dalam situasi demikian untuk mengangkat derajat para wanita.

Inilah keunikan Injil Lukas dibanding ketiga Injil lainnya; sang penulis ingin menunjukkan pada para pembaca bahwa kedudukan pria dan wanita adalah sama di hadapan Tuhan. Sebagai contoh, sang penulis menyiratkannya melalui:

a. Yesus yang membangkitkan anak laki-laki dari janda di Nain (7:11-17)

b. Keterlibatan para wanita yang mendanai pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya (8:1-3)

c. Perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun yang menjamah jubah Yesus (8:42-47)

d. Berita kebangkitan Yesus yang disampaikan pertama kali pada para wanita (23:55-12)

e. Penulisan narasi yang melibatkan 'pasangan' pria dan wanita (misalnya Simeon dan Hana (2:21-40), perwira di Kapernaum (7:1-10) dan janda di Nain, perumpamaan domba dan mata uang yang hilang (15:1-10)


2. Orang Samaria

Berbicara mengenai korelasi antara orang Samaria dan Lukas, secara otomatis kita akan teringat pada perumpamaan "Orang Samaria yang Baik Hati" (10:25-37) dan "Kesepuluh Orang Kusta" (17:11-19). Tapi tahukah IGNITE people bahwa sebenarnya orang Samaria bukanlah "orang asing" bagi orang Yahudi?

Semua berawal dari pecahnya kerajaan Israel pada masa Rehabeam, anak Salomo (1 Raja-raja 12:1-24). Sejak saat itulah, kerajaan di sisi utara disebut kerajaan Israel Utara yang beribukotakan Samaria, sementara kerajaan di sisi selatan disebut kerajaan Israel Selatan alias kerajaan Yehuda, beribukotakan Yerusalem. Singkat cerita, Israel Utara dikalahkan Raja Asyur pada tahun 722 S. M. dan dideportasi ke Asyur dalam beberapa kelompok ke berbagai wilayah di Samaria dan sekitarnya agar mereka tidak bisa memberontak. Akibatnya, terjadilah pernikahan campuran yang berlangsung selama beratus-ratus tahun dan dari situlah muncul orang Samaria pada zaman Yesus. Jarak yang jauh antara Sikhem (tempat tinggal orang Samaria) dan Yerusalem juga mendorong mereka membuat 'bait suci' sendiri di gunung yang bagi orang Yahudi seperti "bukit-bukit pengorbanan di masa lampau.

Dua hal tersebut berdampak buruk pada relasi orang Samaria dan orang Yahudi, yang berusaha menjaga kesucian hidup dengan tidak berelasi dengan 'orang kafir' (baca: yang berasal dari pernikahan campuran itu). Orang Yahudi takut kalau tidak demikian, mereka akan kembali 'tertular' melakukan penyembahan berhala seperti yang dilakukan para nenek moyang mereka. So ironic, right?

Dalam situasi seperti itu, Yesus hadir untuk menyambut orang Samaria yang tersisih ini.

Bukannya ikut menghakimi orang Samaria sebagai 'orang kafir', Yesus justru mengangkat derajat mereka menjadi sesama manusia—khususnya bagi orang Yahudi yang justru membenci mereka. Hal tersebut terbukti dari bagian pembuka poin ini, dan melalui "Percakapan dengan Wanita Samaria" (4:1-42). Apa yang Yesus lakukan benar-benar merobohkan dinding pemisah antara orang percaya yang berlatarbelakang Yahudi dan non-Yahudi, seperti yang dituliskan Paulus:

Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Korintus 12:13 (TB)

Yaps, karena dari manapun dan bagaimanapun latar belakang kita, Tuhan mengasihi dan memanggil kita untuk terlibat dalam karya keselamatan-Nya bagi dunia.


3. “Orang Berdosa”

Mungkin kita sering menemukan frasa di atas saat membaca Injil. Nah, yang termasuk dalam kelompok ini dari masyarakat-yang-termarginalkan adalah para pelacur, pemungut cukai, dan gembala. Tapi seringnya status pemungut cukai dan gembala itu disebutkan, sih; sementara pelacur lebih sering dituliskan sebagai perempuan berdosa. Alasan pengucilan, baik di masyarakat maupun peribadatan—pelacur dan pemungut cukai di masa itu cukup jelas, yaitu karena mereka bekerja dengan cara yang haram dan bertentangan dengan adat-istiadat Yahudi. Tapi para gembala? Mereka dianggap tidak dapat dipercaya karena tidak jujur dalam menggembalakan ternak.

Namun uniknya, orang-orang seperti inilah yang memperoleh kabar keselamatan. Bahkan para gembala adalah penerima pertama dari kabar ini (Lukas 2:8-20). Bayangkan, orang yang dianggap penipu justru menjadi penerima pertama dari kabar yang dinantikan orang Yahudi selama berabad-abad? Well, that's a sweet thing from the first Noel   Tidak hanya itu, Yesus juga menyambut Lewi (alias Matius) dan Zakheus, para pemungut cukai (yang status pekerjaannya dijadikan perumpamaan dalam Lukas 18:9-14). Bagaimana dengan pelacur? Yesus pun menyambutnya dengan mengapresiasi penyembahannya yang tulus (7:36-50).


4. Orang Miskin

Penjajahan Romawi di wilayah Palestina menyebabkan munculnya kesenjangan sosial (alias antara orang kaya dan orang miskin). Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Mungkin begitulah yang dipikirkan orang-orang pada waktu itu, tapi tidak demikian dengan Yesus.

Penulis Injil Lukas justru mencatat bagaimana Yesus memuji persembahan janda miskin yang "hanya" mempersembahkan dua peser (setara dengan satu duit—jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan orang-orang kaya yang memberi persembahan saat itu) (21:1-4). Bahkan Yesus sendiri tidak lahir di istana ataupun dalam keluarga bangsawan, seperti putra pembesar pada umumnya. Tidak. Setelah lahir, Sang Mesias, Raja di atas segala raja itu dibaringkan dalam palungan... alias tempat makanan untuk hewan; orang tua-Nya secara biologis mempersembahkan korban penahiran yang disesuaikan dengan keadaan ekonomi mereka yaitu sepasang burung terkukur atau dia ekor anak burung merpati (2:21-24).

Selain miskin secara ekonomi, sang penulis juga ingin menunjukkan keteladanan hamba yang-miskin-secara-apapun. Sebagai hamba, seseorang tidak memiliki hak apapun untuk berpendapat. Tugasnya pun jelas: melakukan tugasnya demi sang majikan. Benar-benar bukan sebuah pekerjaan yang menyenangkan, tapi jika keadaan memaksa... mau bagaimana lagi? Meski demikian, sang penulis ingin agar para pembaca tulisannya ini untuk memiliki kerinduan yang sama seperti Maria saat dirinya berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (1:38) dan jadilah demikian: Maria menyerahkan seluruh egonya untuk menjadi ibu biologis bagi Yesus, Sang Juruselamat dunia, meskipun ada banyak risiko yang dihadapinya.



Tema "Yesus dan Wong Cilik" tidak hanya berlaku di zaman Yesus, tapi juga masih berlaku sampai sekarang. Entah ada berapa banyak orang yang kaya secara jasmani, tapi mengalami kemiskinan rohani. Tidak sedikit juga yang bisa tertawa sementara hatinya menyimpan luka sendirian dan enggan untuk menceritakannya. Ada pula yang aktif melayani di berbagai tempat, namun hatinya membutuhkan penerimaan dan pengakuan setelah mengalami penolakan dari orang-orang terdekatnya.


"Wong cilik" itu ada di sekitar kita, IGNITE People.


Pertanyaannya, apakah kita ingin memiliki kepekaan untuk membuka mata, telinga, hati, dan pikiran untuk mengasihi mereka bagaimanapun keadaannya?

Apakah kita rindu menjadi perpanjangan tangan Tuhan, seperti yang Yesus lakukan saat Dia berinteraksi dan menyentuh orang-orang kecil yang dikisahkan Injil Lukas?


Kiranya saat di Hari Penghakiman nanti, kita memperoleh sambutan yang sama dari Sang Empunya Kerajaan Sorga:

"Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. ... sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Matius 25:34-35, 40



*Ulangan 6:5

**Imamat 19:18


LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER